Kilang Kasim; Ya Mengolah Minyak, Ya Menyelamatkan Satwa…

0
18
Kandang penyelamatan satwa yang dibangun PT KPI RU VII Kasim di kawasan TWA Sorong. Foto: Tantowi/JP
Google search engine
Spread the love

JURNALPAPUA.ID – HUJAN cukup deras mengguyur kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sorong di kilometer 14 jalan Sorong-Klamono, Kota Sorong, Papua Barat. Sejumlah pejabat beringsut mundur dari tempat duduknya, untuk berteduh di bawah tenda yang berdiri di area camping ground.

Sebagai penjaga konservasi tumbuhan dan satwa liar (TSL), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua Barat (BBKSDA) Papua Barat pada Selasa siang, 14 Juni 2022, sedang melangsungkan dua hajatan sekaligus. Melepasliarkan puluhan reptil hasil sitaan dari masyarakat, dan meresmikan kandang penyelamatan satwa.

“Konservasi itu tidak sendiri. Bukan hanya tanggungjawab instansi BKSDA, tapi tanggungjawab kita semua yang ada di muka bumi ini. Harapan kami, adanya dukungan dari stake holder untuk terus bersama-sama berjuang, berkolaborasi untuk menjaga kekayaan alam di Tanah Papua,” ucap Budi Mulyanto, Plt Kepala BBKSDA Papua Barat.

Selain mengingatkan para tamunya, ucapan Budi yang disampaikan dari atas panggung ini sekaligus mengapresiasi komitmen yang terus bergulir dari PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit VII Kasim (PT KPI RU VII). Perusahaan pengolah minyak yang berkantor Kasimle, Distrik Seget, Kabupaten Sorong Papua Barat ini, baru saja merampungkan pembuatan kandang penyelamatan satwa.

Kandang habituasi ini terbuat dari jejaring kawat anti karat. Berdiri persis di samping kandang karantina hewan yang ada di belakang gedung klinik satwa. Semua sarana penyelamatan hewan di area camping ground TWA Sorong ini, dibangun oleh PT KPI RU VII Kasim.

Kandang habituasi dibuat khusus untuk menampung burung paruh bengkok. Fungsinya, sebagai wadah adaptasi satwa endemik Papua itu dengan alam, sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Kata Budi, lamanya proses adaptasi paruh bengkok itu tergantung kondisi individu satwanya. Semakin lama satwa dilindungi ini berada dalam cengkeraman manusia, maka semakin lama juga paruh bengkok ini menghuni sanctuary.

“Akan kita lepas ke habitatnya jika naluri liarnya sudah benar-benar siap. Kita tidak mau satwa ini mati karena tidak bisa mencari makan sendiri di alamnya,” tukas Budi.

Keberadaan kandang penyelamatan ini sangat penting di miliki oleh BBKSDA Papua Barat. Kebutuhan tersebut tak lepas dari maraknya penangkapan burung paruh bengkok di habitatnya oleh masyarakat, kemudian dipelihara untuk sekedar menyalurkan hobi ataupun yang ditangkap dan diperdagangkan dengan motif ekonomi.

Sebagai pintu terakhir untuk membawa keluar burung satwa endemik ini dari Papua Barat, petugas BBKSDA di Sorong sering menggagalkan upaya penyelundupan paruh bengkok maupun satwa endemik Papua lainnya, melalui kapal penumpang di pelabuhan maupun di Bandara DEO.

Seperti pada Rabu, 20 April 2022 misalnya. Tim gabungan yang terdiri dari petugas BBKSDA Papua Barat, Balai Pengamanan dan Penegakkan Hukum Lingkungan Hidup Kehutanan (PPHLHK) Maluku Papua, KP3 Laut Sorong dan Karantina Pertanian Kelas I Sorong, menggagalkan upaya penyelundupan 96 ekor burung endemik Papua di Pelabuhan Sorong.

Dua ekor Mambruk Ubiaat (Goura Cristata), 13 ekor Nuri Coklat (Chalcopsitta Duivenbodei), 11 ekor Nuri Bayan (Eclectus roratus), tujuh ekor Kakatua Koki (Cacatua Galerita), satu ekor Nuri Kabare (Psittrichas Fulgidus), ditemukan dalam gudang KM Labobar di Dek 7. 

Selain itu juga terdapat 11 ekor Cenderawasih Kuning (paradisaea Minor), enam Nuri Kelam (Pseudeos Fuscata), 5 ekor Perkici Pelangi (Trichoglossus Haematodus), 40 ekor Kasturi Kepala Hitam (Lorius Lory). Diduga puluhan satwa dilindungi ini akan diselundupkan ke pulau Jawa.

Satwa hasil sitaan patroli di Sorong maupun translokasi dari daerah lain, harus direhabilitasi, mendapatkan perawatan dan proses adaptasi yang cukup dengan alam sebelum dilepasliarkan.

Pembangunan kandang penyelamatan satwa oleh PT KPI RU VII Kasim, diakui Budi, menjadi motivasi dan bekal penguatan BBKSDA Papua Barat untuk berjuang bersama dalam mempertahankan konservasi TSL endemik di tanah Papua.

“Ini di atas sudah mulai mendung-mendung sedap. Seakan-akan memberi isyarat, pak segera pak..biar nggak hujan,” ucap Budi Mulyanto.

Sejumlah pejabat yang hadir dalam hajatan ini, ada dari Koarmada III Sorong, Pasmar 3 Sorong, Kodim 1802 Sorong, Polres Sorong Kota, Kejaksaan Negeri Sorong serta perwakilan dari PT Pelni Sorong.

Para pejabat dari lembaga Negara dan perusahaan swasta ini sengaja diundang, karena peran strategis mereka untuk turut mengawasi dan menjaga peredaran TSL yang diperdagangkan secara illegal.

General Manager PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit VII Kasim, Yusuf Mansyur, duduk di deretan kursi depan berdampingan dengan Budi Mulyanto, pelaksana tugas Kepala BBKSDA Papua Barat. Begitu juga Ifki Sukarya, Corporate Secretary PT KPI.

Terbatasnya tempat berlindung, membuat seragam para tokoh ini tak terhindar dari percikan air hujan. Sedikit berbasah-basah di atas tanah yang becek. Isyarat dari langit yang diucapkan Budi Mulyato terbukti. Prosesi penandatangan prasasti Kandang Penyelamatan Satwa sempat ditunda, menunggu hujan reda.

“Sekali lagi ucapan terima kasih kami sampaikan. Program ini terselenggara berkat kerjasama kami dengan PT Kilang Pertamina Internasional, tentang bagaimana penguatan fungsi di BKSDA Papua Barat dalam kegiatan konservasi. Mudah-mudahan apa yang sudah dibangun ini, membawa manfaat yang besar, khususnya bagaimana kita membangun konservasi di Papua Barat,” kata Budi Mulyanto.

Kolaborasi Kilang Kasim dengan BBKSDA Papua Barat dalam melestarikan alam dan konservasi satwa, sudah terjalin sejak 2018 silam. Kerjasama ini diawali dengan pembangunan klinik dan kandang karantina hewan di TWA Sorong.

Dalam beberapa kali kesempatan, manajemen Kilang Kasim juga terlibat langsung dalam pelepasliaran satwa endemik Papua yang dilakukan BBKSDA. Pada Selasa, 14 Juni 2022 lalu, Corporate Secretary PT KPI Ifki Sukarya sengaja datang dari Jakarta, untuk ikut melepaskan satwa bersama BBKSDA di TWA Sorong.

Ifki Sukarya (kaus merah), Corporate Secretary PT KPI melepaskan reptil di TWA Sorong usai peresmian kandang penyelamatan satwa, Selasa (14/6/2022). Foto: Tantowi/JP

Sebelumnya, Senin 8 November 2021, PT KPI RU VII Kasim ikut melepasliarkan 15 individu satwa liar endemik Papua yang dilindungi Undang-Undang.

Satwa yang dilepasliarkan di TWA Sorong saat itu, antara lain 1 burung Nuri Kepala Hitam (Lorius Lory), 3 burung  Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea), 2 ekor Cenderawasih Raja (Cicinnurus Regius), 3 ekor Cenderawasih Toowa Cemerlang (Ptiloris Magnificus), 5 ekor Cenderawasih Kuning (Paradisaea Minor), dan 1 ekor Cenderawasih Kawat (Seleucidis Melanoleucus).

Budi Mulyanto menyebut, sejumlah 11 burung Cenderawasih yang dilepasliarkan, merupakan hasil translokasi dari Balai Besar KSDA Jawa Timur. Sedang empat ekor lainnya, yaitu burung paruh bengkok hasil sitaan pada kegiatan operasi penertiban tumbuhan dan satwa liar (TSL) di Kota Sorong.

Bisnis yang Berwawasan Lingkungan

Tingginya angka degradasi satwa baik endemik maupun tidak endemik yang ada di Papua, khususnya di Sorong, menjadi alasan mendasar PT KPI RU VII Kasim mengambil peran.

Apalagi di dalam menjalankan operasional, Kilang Kasim mempunyai Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) sebagai bentuk kontribusi perusahaan terhadap kelestarian alam, baik di lingkungan perusahaan maupun diluar.

“Komitmen kita terhadap lingkungan sudah jelas tertuang di TJSL atau tanggung jawab sosial lingkungan perusahaan, dan sudah tertulis jelas dalam aturan BUMN. Kita berbisnis dengan berwawasan lingkungan, dan salah satu wujud komitmen itu kita ejewantahkan dalam bentuk kerjasama untuk menjaga hewan-hewan dan ekosistem di Papua Barat, khususnya di Sorong ini,” kata Yusuf Mansyur, General Manager PT KPI RU VII Kasim.

Pada visi perusahaan, PT KPI RU VII Kasim sudah mendeklarasikan untuk menjadi kilang handal, memberikan keuntungan, dan berwawasan lingkungan sesuai standar kelas dunia pada tahun 2015.

Sedangkan misinya, mengolah minyak mentah (crude oil) menjadi produk BBM secara efisien dengan yield optimal dan berwawasan lingkungan. Memberikan nilai tambah bagi pelanggan, pemegang saham, pekerja, serta memberikan kontribusi positif bagi percepatan pembangunan di wilayah Maluku dan Papua.

Produk yang dihasilkan Kilang Kasim adalah Fuel Gas (969 Barrel / Hari), Premium (1.987 Barrel / Hari (Unleaded), Kerosene (1.831 Barrel / Hari), Ado /Solar (2.439 Barrel / Hari) serta Residue (3390 Barrel / Hari).

Produk terbaru yang berhasil di olah Kilang Kasim adalah BBM jenis Pertalite. Dodi Yapsenang, Area Manager Comm Rell CSR & Compliance RU VII Kasim menyebut, kegiatan lifting produk Pertalite ini merupakan kegiatan perdana atas pencapaian Kilang Kasim dalam menghasilkan produk BBM Pertalite sejak Pertamina RU VII Kasim berdiri.

Kapasitas lifting Pertalite Pertamina RU VII Kasim, kata Dodi, saat ini sekitar 2200 kilo liter. Produk Pertalite merupakan salah satu Bahan Bakar Khusus non subsidi dengan Research Octane Number (RON) 90, dengan campuran komponen yang terdiri dari Reformate dan Naphtha Intermedia.

“Menariknya, produk pertalite merupakan produk pertama yang dihasilkan Kilang Kasim tanpa menambahkan produk High Octane Mogas Component (HOMC) dari luar Kilang Kasim. Pencapaian ini tentunya memberikan kabar bahagia untuk Indonesia Timur dalam menyuplai kebutuhan BBM Pertalite,” kata Dodi, melalui siaran persnya.

Baca juga: Kabar Gembira, Pertamina RU VII Kasim Berhasil Lifting Pertalite

Dari total produksi BBM RU VII Kasim, dapat memberi kontribusi sekitar 15 % dari total kebutuhan BBM di Maluku dan Papua. Sebelumnya, kebutuhan BBM di wilayah ini seratus persen dipasok dari Kilang BBM di Balikpapan, Kalimantan Timur dan Cilacap, Jawa Tengah.

Komitmen menjalankan bisnis yang berwawasan lingkungan, sudah di set up sejak awal pemilihan lokasi operasi perusahaan. Kilang BBM Kasim dibangun diatas areal seluas kurang lebih 80 hektare, yang berada di Kampung Malabam Distrik Seget Kabupaten Sorong.

Lokasi kilang yang beroperasi sejak Juli 1997 ini, bersebelahan dengan Kasim Marine Terminal (KMT) Petrochina, atau sekitar 90 km sebelah selatan Kota Sorong. Beberapa pertimbangan memilih lokasi ini adalah; menghemat Biaya Transportasi karena dekat dengan Sumber Bahan Baku (Crude) dan Pasar; mengurangi Biaya Investasi dengan memanfaatkan beberapa fasilitas yang tersedia di area Petrochina, antara lain Dermaga, Acces Road dan Tanki; serta tersedianya area yang cukup untuk pengembangan Kilang BBM Kasim diwaktu yang akan datang.

“Lokasi kami berada di tengah hutan, jauh dari pemukiman penduduk sehingga potensi gangguan terhadap lingkungan bisa dieliminir,” tukas Dodi.

Banjir Penghargaan

Komitmen Kilang Kasim dalam menjaga kelestarian alam dan lingkungan, berbuah penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Sorong. Bertepatan dengan perayaan Hari Jadi ke-55 Kabupaten Sorong pada 14 Juni 2022, PT KPI RU VII Kasim menerima penghargaan Kelestarian Lingkungan Hidup yang diserahkan oleh Johny Kamuru, Bupati Sorong.

Yusuf Mansyur, General Manager PT KPI RU VII Kasim (kiri), menerima penghargaan dari Johny Kamuru, Bupati Sorong pada momen perayaan Hari Jadi ke-55 Kabupaten Sorong, Selasa (14/6/2022). Foto: Ist/RU VII Kasim

Penghargaan terhadap Kilang Kasim yang diterima langsung oleh Yusuf Mansyur di Gedung Aimas Convention Center (ACC) ini, merupakan sebuah apresiasi tertinggi di bidang Lingkungan Hidup dari pemerintah daerah setempat atas kontribusi serta komitmen dalam menjaga dan melestarikan lingkungan.

Dalam penyampaiannya, Bupati Johny Kamuru sangat mengapresiasi langkah langkah strategis Kilang Kasim yang berkontribusi dalam pengelolaan, pelestarian dan menjaga lingkungan hidup di Kabupaten Sorong.

“Semoga penghargaan ini dapat meningkatkan komitmen Kilang Kasim dalam hal pengelolaan kelestarian lingkungan. Apa yang sudah dikerjakan selama ini, penanaman dan juga penghijauan kembali lahan dan pesisir pantai, juga seperti halnya di TWA Sorong tentang pembangunan Klinik Karantina dan Kandang Penyelamatan Satwa, dapat di implementasikan di lokasi lain,” kata Johny Kamuru.

“Saya menyaksikan, Pertamina RU VII ini memiliki visi misi yang juga peduli terhadap lingkungannya atau berwawasan lingkungan, di samping tentunya profit dan keunggulan produk serta keselamatan kerja,” tambah Johny Kamuru.

Kilang Kasim, sebelumya juga mendapat 6 penghargaan nasional dari berbagai lembaga independen, terkait upaya pelestarian lingkungan dan implementasi program CSR.

Di penghujung tahun 2021, Kilang Kasim diganjar penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup yakni Proper Emas. Ini merupakan proper emas pertama bagi Indonesia Timur, dan diserahkan Wakil Presiden Ma’ruf Amin di Istana Wakil Presiden.

Penghargaan ini diberikan kepada perusahaan yang menjalankan bisnis secara beretika dan bertanggungjawab terhadap lingkungan.

Dengan penghargaan oleh Bupati Sorong, praktis Kilang Kasim sudah mendapatkan semua apresiasi baik level kabupaten hingga nasional. Penghargaan ini semakin meneguhkan komitmen Kilang Kasim untuk berkontribusi terhadap lingkungan sekitar.

“Kami hari ini, sekali lagi menerima 3 penghargaan dari pemerintah Kabupaten Sorong. Semoga penghargaan ini dapat meningkatkan motivasi kami dalam menjaga kelestarian lingkungan. Tak lupa, kami selalu terbuka bagi pihak manapun yang ingin bekerjasama dengan kami dalam menjaga kelestarian lingkungan di Kabupaten Sorong,” ujar Yusuf Mansyur, usai menerima penghargaan, Selasa (14/6/2022).

Area Manager Comm Rell CSR & Compliance RU VII Kasim, Dodi Yapsenang merinci, sejak tahun 1997, Kilang Kasim sudah melakukan penanaman mangrove di berbagai spot pesisir pantai. Dan dari tahun 2018, perusahaan ini melakukan penanaman sebanyak 60.000 bibit pohon endemik seperti Jati Papua dan Pohon Pinang.

Aktivitas ini membuktikan bahwa upaya Kilang Kasim dalam menjaga kelestarian lingkungan sangat rutin dilakukan. Baik di lingkungan internal maupun eksternal.

“Perusahaan kami selalu berkontirbusi dalam upaya dalam menjaga kelestarian lingkungan. Seperti halnya penanaman pohon endemik di sekitar wilayah perusahaan maupun kontribusi dalam penanaman mangrove di sekitar Kabupaten dan juga Kota Sorong,” ujar Dodi, kepada media ini.

GM PT KPI RU VII Kasim, Yusuf Mansyur, menandatangan prasasti peresmian kandang penyelamatan satwa yang dibangun di TWA Sorong, Selasa (14/6/2022). Foto: Tantowi/JP

Namun perhatian Kilang Kasim tidak terbatas pada pelestarian lingkungan. Dikatakan Dodi, pihaknya juga memberdayakan masyarakat sekitar melalui program Corporate Social Responcibility (CSR).

Program ini diharapkan linier dalam satu kesatuan yang saling bertautan; terciptanya lingkungan yang baik, dan dihuni oleh masyarakat yang mampu mandiri di tengah gempuran ekonomi era 4.0 ini.

Salah satu CSR Kilang Kasim yang cukup moncer berada di Kampung Klayas Distrik Seget Kabupaten Sorong. Di area ring I operasional perusahaan ini, PT KPI RU VII Kasim membina masyarakat setempat untuk menjadi mandiri.

Inovasi pemberdayaan masyarakat yang diberi label Klay Swontai ini, terdapat tiga fokus kegiatan. Klayas Mandiri mendorong masyarakat kampung binaan ini sehat dengan tersedianya klinik terapung dan mudahnya akses air bersih.

Kemudian pada program Klayas Berdikari, berisi kegiatan yang berfokus pada pengolahan jamur sagu, sagu, serta pasar rakyat. Sedang Klayas Cinta Budaya, kegiatan yang dilakukan lebih pada pelestarian budaya Suku Moi dan pendidikan dasar anak-anak usia sekolah.

Kata Dodi, inovasi itu menarik perhatian lima orang professor dan 12 orang pakar pengembangan lingkungan masyarakat dan lingkungan. Hasilnya, pada ajang Indonesia CSR Excellence Award (ICEA) 2022 yang diselenggarakan First Magazine, Kilang Kasim diganjar empat pernghargaan sekaligus; The Leadership Focus On CSR Program, The Best CSR Change Management, Excellent Community Program Award serta The Most Excellence CSR Company 2022. (tantowi djauhari)

Google search engine
Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here