Strategi Bertahan Warga Toweren Pasca Bencana: Ratusan Kayu Gelondongan Disulap Jadi Rumah dan Kayu Bakar

0
40
Alat berat dikerahkan untuk membantu pembersihan material potongan kayu yang menutupi areal persawahan pascabanjir di Toweran, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Minggu (22/2).
Google search engine
Spread the love

TOWEREN, ACEH TENGAH,jurnalpapua.id – Hantaman banjir bandang akibat Siklon Senyar pada akhir November 2025 lalu telah mengubah wajah Kampung Toweren, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah, dalam sekejap. Wilayah yang berada di lereng perbukitan dataran tinggi Gayo ini porak-poranda setelah material lumpur dan ratusan gelondongan kayu hutan menerjang pemukiman serta areal persawahan warga.

Bencana itu menyisakan luka mendalam bagi para petani. Hamparan sawah yang menjadi sumber penghidupan mereka kini tertutup rapat oleh tumpukan sedimen lumpur tebal dan batang-batang kayu besar, sehingga aktivitas pertanian terhenti total.

Menindaklanjuti situasi darurat ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama aparat desa setempat langsung bergerak cepat. Pada Minggu (22/2), tim gabungan diterjunkan ke lokasi untuk memimpin proses pembersihan lahan pertanian. Fokus utama adalah mengevakuasi kayu-kayu besar untuk membebaskan lahan agar proses masa tanam dapat segera dimulai.

“Kami bersama kepala desa dan warga langsung turun ke lapangan. Prioritas kami saat ini adalah membersihkan lahan sawah dari timbunan kayu. Ini langkah awal agar ekonomi warga bisa kembali bergerak,” ujar Abdul Muhari, Ph.D., Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB dalam keterangannya.

Dirinya menambahkan, material kayu yang berhasil dievakuasi dari area persawahan kemudian dipindahkan dan ditempatkan sementara di lahan-lahan kosong milik warga yang lebih stabil. Uniknya, warga tidak membiarkan kayu-kayu tersebut menjadi sampah. Dalam semangat ketangguhan dan pemulihan mandiri, ratusan gelondongan kayu itu dipilah untuk dimanfaatkan kembali. Sebagian akan digunakan sebagai bahan bangunan untuk memperbaiki struktur rumah yang rusak, sementara sisanya dijadikan kayu bakar untuk kebutuhan sehari-hari.

Meski demikian, skala dampak yang besar menjadi tantangan tersendiri. Luasnya area terdampak dan volume material yang menggunung membuat proses pembersihan secara manual tidak cukup cepat. Untuk mengatasi kendala ini, BNPB berkoordinasi dengan lintas kementerian dan lembaga untuk segera menambah unit alat berat ke lokasi.

“Pengerjaan secara gotong-royong terus dilakukan, tapi kami sadar butuh percepatan. Alat berat sangat diperlukan untuk mengeruk lumpur dan memindahkan kayu-kayu besar yang tidak mungkin diangkut secara manual. Ini solusi mendesak agar lahan segera pulih,” tambah Abdul Muhari.

Kolaborasi antara pemerintah dan warga diharapkan mampu mengembalikan fungsi lahan pertanian di Kampung Toweren. Lebih dari itu, pemanfaatan material sisa bencana ini menjadi bukti semangat warga untuk bangkit dan membangun kembali desa mereka dari keterpurukan.(JP02)

Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here