JAKARTA,jurnalpapua.id — Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dijadwalkan menghadiri peluncuran Edlink Dosen Pro AI, sistem kecerdasan buatan karya anak bangsa yang dirancang untuk meringkas beban administratif dosen sekaligus mempercepat implementasi Kurikulum Outcome Based Education (OBE) di perguruan tinggi.
Peluncuran berlangsung dalam Executive Workshop bertajuk “Lead The Future: Memimpin Orkestrasi Kampus Berdampak dengan Artificial Intelligence dan Kurikulum Outcome Based Education” di Rumah Perubahan, Jakarta, Kamis (12/2/2026). Acara ini digelar secara hybrid oleh SEVIMA bersama LLDIKTI Wilayah III Kemdiktisaintek.
Hadir pula Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A., Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo, serta Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hj. Himmatul Aliyah, M.Si.
CEO dan Founder SEVIMA Sugianto Halim mengungkapkan, akar persoalan tingginya pengangguran sarjana—yang menurut data BPS per November 2025 mencapai 7,35 juta orang—bermula dari kurikulum yang belum selaras dengan kebutuhan industri.
“Kurikulum tidak akan berubah substansial selama dosen masih dibebani pekerjaan administratif yang sebetulnya bisa diotomasi,” kata Sugianto dalam keterangannya, Selasa (10/2/2026).
Edlink Dosen Pro AI merupakan hasil hilirisasi riset yang didanai Hibah Riset Prioritas Kemdiktisaintek skema Ajakan Industri. Fitur ini mampu mengonversi presentasi PowerPoint dan bahan ajar menjadi video pembelajaran secara otomatis, menyusun draf Rencana Pembelajaran Semester (RPS) berbasis OBE, serta menghasilkan bank soal yang terpetakan ke taksonomi Bloom dan selaras dengan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL).
Sugianto menjelaskan, pendekatan OBE berfokus pada luaran pendidikan. Bukan sekadar proses. Selama ini, penyusunan kurikulum di tingkat program studi bisa memakan waktu berminggu-minggu. Dengan teknologi AI, kata dia, proses itu bisa ditekan menjadi hitungan menit.
“Tinggal di-review dan disesuaikan oleh dosen. Tujuannya satu: mempersiapkan lulusan yang sesuai kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.
SEVIMA tercatat memperoleh pendanaan Hiliriset 2025 untuk lima judul riset bersama mitra kampus, antara lain Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Universitas Kristen Petra, dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
Salah satu produk turunan dari kolaborasi tersebut adalah AI Prediksi Kelulusan Mahasiswa hasil riset bersama ITS. Fitur ini mampu mengidentifikasi mahasiswa yang berisiko drop out sejak dini berdasarkan pola akademik, sehingga intervensi dapat dilakukan sebelum terlambat.
Sugianto menegaskan, kebijakan Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu telah memberi ruang bagi kampus untuk mengembangkan kurikulum yang fleksibel, bahkan melampaui Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Namun, ia mengingatkan bahwa tanpa infrastruktur teknologi, implementasi kebijakan itu hanya akan menjadi formalitas belaka.
“Standar pendidikan Indonesia dan internasional saat ini sudah mensyaratkan fokus kepada hasil keluaran. OBE memfokuskan kampus mengembangkan kompetensi mahasiswa yang dibutuhkan dunia kerja. Teknologi AI memungkinkan implementasi substansial, bukan sekadar menggugurkan kewajiban,” pungkasnya.(JP02)











