JAKARTA,jurnalpapua.id – Penelitian terkini mengungkap korelasi mengkhawatirkan antara aktivitas remaja di media sosial dengan peningkatan kasus gangguan pola makan serta citra tubuh negatif. Fenomena ini terutama banyak ditemukan pada remaja perempuan yang aktif mengonsumsi konten-konten terkait mode, kecantikan, dan kehidupan selebritas seperti dilansir pmc.ncbi.nlm.nih.gov
Berdasarkan data statistik pertumbuhan internet, hampir setengah populasi global telah menjadi pengguna internet pada 2014, dengan waktu yang dihabiskan online meningkat signifikan setiap tahunnya. Di tengah arus informasi ini, platform-platform populer kerap dipenuhi konten yang menampilkan standar kecantikan semu hasil editan digital atau filter.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Slater dan rekan pada 2011 mengonfirmasi bahwa mayoritas iklan di platform yang digemari remaja didominasi oleh figur perempuan muda dengan tubuh ramping dan paras cantik. Implikasinya, pesan yang tersirat sering mengidentikkan “kecantikan sejati” dengan tubuh yang sangat kurus.
Akibat paparan berkelanjutan terhadap konten semacam itu, banyak siswi sekolah menengah mulai menginternalisasi tubuh ideal yang tidak realistis. Mereka menunjukkan kecenderungan kuat untuk terus-membandingkan penampilan diri, merasakan ketidakpuasan terhadap berat badan sendiri, dan mengembangkan keinginan ekstrem untuk menjadi lebih kurus.
Tren berbahaya ini diperparah dengan maraknya influencer yang mempromosikan pola makan ekstrem—seperti clean eating atau diet detoks—tanpa penyertaan dasar medis yang memadai. Tagar seperti #thinspiration atau #bodygoals secara tidak langsung mendorong remaja untuk mengejar bentuk tubuh yang seringkali mustahil dicapai secara sehat.(JP02)











