Berbagi Kisah Masa Lalu di Bimbel Little Bee, Wakil Bupati Teluk Bintuni Ditanya Besarnya Gaji

0
51
Wakil Bupati Teluk Bintuni, Matret Kokop SH berbagi cerita masa lalunya dengan anak-anak Bimbel Little Bee di Jalur 2 SP 4, Selasa (17/10/2023).
Spread the love

BINTUNI, jurnalpapua – Ada yang berbeda di ruang belajar terbuka di Little Bee di Jalur 2 Kampung Banjar Ausoy SP 4 Distrik Manimeri, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat pada Selasa (17/10/2023). Lembaga Bimbingan Belajar ini mendapat kunjungan tamu istimewa, Wakil Bupati Matret Kokop SH.

Disela-sela kesibukannya sebagai orang nomor dua di birokrasi Pemda Teluk Bintuni, Matret Kokop meluangkan waktunya untuk duduk dan berbagi cerita masa lalunya saat masih sekolah, dengan anak-anak Little Bee yang seumuran dengan cucunya.

Matret Kokop berkisah bagaimana susahnya situasi zaman ia masih kecil, dan duduk di bangku SD. Dari kampung halamannya di Aranday, membutuhan waktu satu minggu untuk perjalanan ke Bintuni demi bisa sekolah.

Cerita belajar dengan fasilitas yang serba terbatas, juga ia bagikan ke anak-anak. Matret Kokop bilang, saat SMP, ia tinggal di asmara sekolah di Bintuni bersama para siswa yang lain.

“Kalau mau makan itu susah, harus jalan kaki dari belakang Panti Asuhan itu sampai toko Citra. Di situ kita punya pengawas asrama tinggal, namanya Pak Haji Ridwan. Kita ambil makan di situ, tiap hari bergiliran,” ungkapnya.

Saat malam waktu belajar di asrama, juga di jalani Matret Kokop bersama teman-temannya dengan situasi yang remang-remang. Karena belum ada listrik seperti sekarang, lampu penerangan menggunakan pelita berbahan bakar solar.

“Kita ambil solar dari tangk-tangki di SMP itu pake kaleng susu, baru kasi sumbu terus bakar. Jadi belajar kalau selesai, bangun tidur, lihat hidung hitam. Karena tidak ada lampu to,” ungkap Matret Kokop, sembari tertawa terkekeh.

Meski dengan segala keterbatasan, semangat Matret Kokop untuk belajar tidak kendur. Semangat itu yang harus di tiru oleh anak-anak di Little Bee, agar kelak menjadi orang yang sukses, bisa menjadi pejabat seperti dirinya.

“Sekarang fasilitas sudah bagus, harus lebih rajin lagi, tidak boleh malas-malas. Kalau mau sukses, jadi pejabat, jangan main terus. Main itu ada waktunya,” pesan Matret Kokop.

Suasana ruang belajar menjadi meriah saat tiba waktu tanya jawab. Anak-anak Little Bee berebut mengajukan pertanyaan kepada tete Matret Kokop yang duduk di depannya. Mereka bertanya mulai dari soal warna kesukaan, makanan yang disenangi, apakah wakil bupati bisa nyopir atau tidak, hingga soal besarnya gaji seorang wakil Bupati.

“Berapa gajinya Pak Wakil Bupati,” tanya Gloria Orocomna, seorang anak didik Little Bee.

Sebelum dijawab, Natalia Dessy, seorang mentor Little Bee melontarkan tebakan kepada anak didiknya untuk menjawab berapa gaji Matret Kokop sebagai wakil Bupati. Jawaban beragam saling bersahutan, mulai dari 3 juta hingga 50 juta.

“Kalau saya gaji empat juta lebih, tapi pekerjaannya banyak,” jawab Matret Kokop, pada akhirnya.

Di penghujung acara sebelum mengakhiri kegiatan dengan foto bersama, Matret Kokop mendapatkan kenang-kenangan berupa bibit mangga dari anak-anak Little Bee, untuk di tanam di rumah dinas. JP01

Google search engine
Google search engine
Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here