Banyak Kebakaran Hutan dan Lahan di Teluk Bintuni, Kasus Penyakit ISPA Meningkat

0
3
Google search engine
Spread the love

BINTUNI, jurnalpapua – Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah di Teluk Bintuni, memicu peningkatan jumlah penderita penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Polusi udara akibat asap kebakaran, menjadi penyebab utama.

Demikian disampaikan Plt Kepala Dinas Kesehatan Teluk Bintuni, Johannes Risamasu, terkait dampak yang timbul akibat maraknya kebakaran hutan dan lahan.

“Sudah kita petakan, ada peningkatan penderita infeksi saluran pernafasan akut, peningkatan kasus asma, juga kasus nyeri telan atau faringitis. Setelah dipetakan, kami telah menyediakan dan mempersiapkan obat-obatan penyakit yang ada kaitannya dengan kebaran hutan dan lahan ini,” kata dokter Jo, sapaan populer Johannes Risamasu, Rabu (26/8/2026).

Selain itu, Dinas Kesehatan juga telah menyiapkan perlengkapan kebutuhan medis, seperti oksigen. Di Puskesmas Tofoi, kata dokter Jo, telah dikirim empat tabung oksigen. Peralatan serupa juga dikirim ke Puskesmas Manimeri sesuai kebutuhan.

Menurut dia, asap kebakaran dapat menyebabkan sesak napas, ISPA dan iritasi mata. Karena itu, masyarakat diminta melakukan langkah pencegahan sejak dini. Ia mengimbau kepada masyarakat Teluk Bintuni, untuk mengenali gejala-gejala penyakit yang mungkin muncul sebagai dampak kebakaran lahan.

Masker, kata Johannes, menjadi salah satu perlindungan sederhana ketika warga harus beraktivitas di luar rumah. Aktivitas di luar ruangan juga perlu dikurangi ketika kualitas udara memburuk.

Di dalam rumah, masyarakat diminta menjaga kualitas udara tetap baik, memperbanyak minum air putih dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Bila keluhan kesehatan semakin berat, masyarakat diminta tidak menunda pemeriksaan.

“Jangan ragu-ragu menggunakan fasilitas-fasilitas layanan kesehatan yang ada, mulai dari Pustu, Puskesmas sampai rumah sakit RSUD Teluk Bintuni,” ujarnya.

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Papua, dr. Wiendo Syahputra Yahya, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap asap kebakaran lahan sebagai sekadar gangguan pandangan.

Asap kebakaran hutan dan lahan mengandung berbagai zat berbahaya, mulai dari karbonmonoksida, karbondioksida, nitrogen oksida, ozon hingga sulfur dioksida.

Ada pula particulate matter atau partikel pencemar udara. Partikel berukuran 2,5 hingga 10 mikrometer (PM10) dapat mengiritasi hidung, tenggorokan dan mata. Sedangkan partikel berukuran kurang dari 2,5 mikrometer (PM2,5) jauh lebih mengkhawatirkan karena dapat masuk ke saluran pernapasan hingga paru-paru.

“Partikel halus ini dapat masuk ke dalam saluran napas dan paru sehingga menimbulkan gangguan paru dan jantung,” kata Wiendo.

Menurut dia, karbon monoksida merupakan salah satu gas paling berbahaya dalam asap kebakaran. Gas ini dapat berikatan dengan hemoglobin jauh lebih kuat dibandingkan oksigen sehingga mengurangi kemampuan darah membawa oksigen ke jaringan tubuh.

Wiendo juga mengingatkan, paparan asap dapat memperburuk penyakit yang sebelumnya sudah dimiliki seseorang. Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dapat meningkat, terutama pada anak-anak. Serangan asma dan gejala PPOK juga dapat memburuk. Pada penderita penyakit jantung, polusi asap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang lebih serius.

Anak-anak, terutama balita, ibu hamil, lanjut usia, penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), penderita penyakit jantung serta mereka yang bekerja di luar ruangan merupakan kelompok yang lebih rentan terhadap paparan asap. JP01

Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here