Investor Syariah Melonjak 158%, BEI Gelar Elevate 2026 Bertaraf Internasional di Ulang Tahun ke-15 Kebangkitan

0
5
Saham Syariah/istimewa
Google search engine
Spread the love

JAKARTA,jurnalpapua.id – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) semakin masif menggencarkan edukasi dan kampanye publik untuk memperkuat pengembangan pasar modal syariah nasional. Upaya ini membuahkan hasil signifikan, tercatat jumlah investor saham syariah per Maret 2026 mencapai 221.714 investor, atau melonjak 158 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020 yang hanya 85.891 investor.

Memasuki tahun peringatan 15 tahun kebangkitan pasar modal syariah—yang ditandai dengan peluncuran Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI), Fatwa DSN-MUI Nomor 80, serta implementasi Sistem Online Trading Syariah (SOTS)—BEI, KPEI, KSEI, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar kegiatan internasional bertajuk Elevate 2026. Mengusung tema “15 Years Rising – Heading Worldwide”, rangkaian acara yang berlangsung 20–23 Mei 2026 di Main Hall BEI ini terdiri dari IFN Indonesia Forum dan Sharia Investment Week (SIW) 2026, sebagai upaya mengenalkan pasar modal syariah Indonesia ke tingkat global.

Sebagai bagian dari rangkaian tersebut, BEI menjalin kerja sama strategis dengan Redmoney Group untuk memperkuat branding pasar modal syariah Indonesia di kancah dunia. Kolaborasi ini akan diwujudkan melalui penyelenggaraan IFN Indonesia Forum 2026 pada 20 Mei 2026 sekaligus menjadi pembuka menuju Sharia Investment Week (SIW) 2026—kegiatan flagship BEI yang telah berlangsung konsisten sejak 2019. SIW 2026 sendiri dirancang sebagai ajang silaturahmi investor syariah melalui talkshow dan expo guna meningkatkan literasi serta inklusi pasar modal syariah di Tanah Air.

Kepala Divisi Pasar Modal Syariah BEI, Irwan Abdalloh, menyampaikan bahwa pasar modal syariah kini semakin relevan sebagai pilihan investasi masyarakat Indonesia. Menurutnya, investasi syariah tidak hanya menawarkan potensi keuntungan finansial, tetapi juga memberikan ketenangan karena dijalankan sesuai prinsip-prinsip Islam.

“Pasar modal syariah bukan sekadar alternatif, tetapi telah menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang ingin berinvestasi secara halal, transparan, dan berkelanjutan,” ujar Irwan.

Ia menambahkan bahwa seluruh aktivitas di pasar modal syariah berlandaskan prinsip Islam yang melarang unsur riba, gharar (ketidakpastian), dan maysir (spekulasi). Selain itu, instrumen investasi yang diperdagangkan juga harus berasal dari kegiatan usaha yang halal serta dikelola melalui mekanisme yang sesuai syariah.

Di Indonesia, penerapan prinsip tersebut mengacu pada regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Hal ini memastikan bahwa seluruh proses, mulai dari seleksi efek hingga transaksi, tetap berada dalam koridor syariah.

Irwan menambahkan, transaksi saham syariah di BEI dilakukan secara transparan melalui sistem perdagangan yang adil. Saham yang dapat diperdagangkan adalah saham yang tercantum dalam Daftar Efek Syariah (DES), yang diterbitkan secara berkala oleh OJK.

“Investor tidak perlu ragu, karena seluruh proses sudah melalui pengawasan ketat regulator dan mengacu pada fatwa syariah yang berlaku,” jelasnya.

Kinerja pasar modal syariah Indonesia juga terus menunjukkan tren positif dan semakin inklusif. Pertumbuhan jumlah investor, peningkatan kapitalisasi pasar, serta aktivitas transaksi yang terus meningkat menjadi indikator tingginya minat masyarakat terhadap investasi syariah.

“Kepercayaan masyarakat terus tumbuh. Ini terlihat dari peningkatan jumlah investor syariah yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir,” kata Irwan.

Dari sisi produk, pasar modal syariah Indonesia menawarkan beragam instrumen investasi, mulai dari saham syariah, reksa dana syariah, sukuk, hingga exchange-traded fund (ETF) syariah. Data per Maret 2026 menunjukkan jumlah efek syariah yang terus meningkat mencapai 673 saham atau sebesar 70% saham yang tercatat di BEI, mencerminkan perkembangan industri yang semakin kuat.

Lebih lanjut, Irwan menekankan bahwa pasar modal syariah tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga memiliki dimensi sosial. Berbagai inovasi seperti wakaf saham, zakat saham, dan sukuk berbasis wakaf menjadi bukti bahwa investasi juga dapat memberikan dampak sosial yang lebih luas bagi masyarakat.

“Pasar modal syariah menggabungkan aspek investasi dan nilai sosial. Ini yang menjadi kekuatan utama dalam mendorong ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Komitmen dalam membangun ekosistem pasar modal syariah yang inklusif dan berkelanjutan tersebut juga mendapat pengakuan di tingkat internasional. Penguatan posisi Indonesia di kancah global tercermin dari berbagai penghargaan internasional yang berhasil diraih pasar modal syariah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Prestasi tersebut berlanjut dengan diraihnya GIFA Championship Award for Islamic Capital Market 2025, yang semakin menegaskan pengakuan dunia internasional terhadap konsistensi dan inovasi Indonesia dalam mengembangkan industri pasar modal syariah.

Ke depan, BEI akan terus memperluas jangkauan edukasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak guna meningkatkan partisipasi masyarakat. Dengan semakin banyak masyarakat yang memahami pasar modal syariah, industri ini diharapkan dapat menjadi salah satu pilar penting dalam pembangunan ekonomi nasional.

“Edukasi adalah fondasi. Ketika masyarakat paham, maka kepercayaan akan tumbuh, dan pada akhirnya pasar modal syariah akan berkembang lebih pesat,” tutup Irwan.(JP02)

Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here