JAKARTA,jurnalpapua.id – Baterai berbasis natrium diperkirakan akan mencapai kesetaraan biaya dengan baterai litium-ion dalam dua tahun ke depan, membuka jalan bagi adopsi yang lebih luas di berbagai sektor, mulai dari kendaraan listrik hingga penyimpanan energi skala besar.
Melansir Carnewschina, Rabu, 1 April, pernyataan itu disampaikan oleh Li Shujun, manajer umum Zhongke Haina, perusahaan yang juga dikenal dengan nama Hina Battery Technology. Dalam laporan yang dikutip oleh IT-Home, Li mengungkapkan bahwa saat ini biaya baterai litium berkisar antara 0,3 hingga 0,5 yuan per watt-jam (setara 0,044–0,073 dolar AS per Wh). Sementara itu, baterai natrium masih terbilang lebih mahal, yakni di rentang 0,5 hingga 0,7 yuan per Wh (0,073–0,102 dolar AS per Wh), tergantung pada skenario pemakaian.
Namun, yang menarik perhatian adalah tren pergerakan kedua jenis biaya tersebut. Li menjelaskan bahwa biaya baterai natrium sedang menurun dengan cepat, sementara biaya baterai litium justru berada di bawah tekanan kenaikan. Kondisi inilah yang dinilai membuka peluang terjadinya konvergensi harga.
“Kami memperkirakan kedua rentang biaya tersebut akan bersinggungan sekitar tahun 2027. Waktu ini relatif pasti,” ujar Li. Ia menambahkan, pada tahun 2028, kedua rentang biaya tersebut diproyeksikan akan benar-benar tumpang tindih.
Menurut Li, titik temu biaya ini bukan sekadar angka, melainkan penanda penting bagi adopsi pasar. “Penyelarasan biaya biasanya menjadi prasyarat sebelum terjadi penggantian skala besar di seluruh jenis kimia baterai,” jelasnya.(JP02)


















