Waspada Penyakit di Pos Pengungsian Sumbar: Kemenkes Catat 181 Kasus ISPA dalam Seminggu

0
110
TCK-EMT Pusat Krisis Regional Sumbar dimobilisasi ke Kab. Agam untuk mendukung pelayanan kesehatan, Jumat (5/12). Sumber: Puskris Kemenkes
Google search engine
Spread the love

PADANG, jurnalpapua.id – Penanganan sektor kesehatan terus diintensifkan di wilayah terdampak bencana Sumatra Barat (Sumbar) untuk mengantisipasi lonjakan kasus penyakit di pos-pos pengungsian. Berdasarkan data Pusat Krisis (Puskris) Kementerian Kesehatan dari periode 25 November hingga 2 Desember 2025, tercatat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi kasus penyakit yang paling mendominasi dengan total 181 kasus.

Selain ISPA, sepuluh penyakit terbanyak lainnya yang teridentifikasi menghantui masyarakat di wilayah terdampak meliputi demam (131 kasus), darah tinggi (103 kasus), dan infeksi kulit (79 kasus), seiring dengan Kemenkes yang juga menyiagakan antisipasi untuk potensi penyakit lainnya.

Puskris dan Dinas Kesehatan Sumbar telah melakukan kesiapsiagaan untuk mencegah timbulnya kasus penyakit di tengah masyarakat. Di wilayah Sumbar, pihaknya dan Dinas Kesehatan Sumbar telah memobilisasi tim pendampingan manajemen krisis kesehatan.

Puskris merilis potensi peningkatan penyakit, di antaranya berbasis lingkungan, seperti diare dan ISPA, berbasis pada zoonosis, penyakit leptospirosis, serta potensi penyakit lainnya yaitu malaria, DBD, chikungunya, campak, difteri dan pertussis.

Hal senada disampaikan Kepala Bidang SDK Dinas Kesehatan Sumbar Saiful Jamal, SKM., M.Si. saat memberikan keterangan pers di Posko Terpadu Sumbar, Jumat (5/12). Setelah bencana terjadi dan masyarakat berada di pos pengungsian atau sekitar tempat tinggalnya, kondisi air dan sanitasi menjadi perhatian dinas kesehatan.

Saiful mengatakan, tim kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan dari Dinas Kesehatan Sumbar dan berbagai pihak telah turun ke lapangan. Tim ini memantau potensi kondisi yang dapat memicu terjadinya penyakit di tengah masyarakat di wilayah kabupaten dan kota terdampak.

Saiful juga menyampaikan, pihaknya telah memantau ketersediaan air dan sanitasi di lokasi pengungsian. Tim Kesehatan Lingkungan juga menghitung kebutuhan toilet portabel, memastikan ketersediaan air dan sanitasi, serta memantau penyakit yang mungkin berkembang setiap hari.

Pada hari ini, Jumat (5/12), dinas kesehatan mendapatkan dukungan tim kesehatan dan logistic dari Irjen Kesprimkom Palembang dan BBLKM Regional 2 Palembang untuk alat penjernih air.

Di samping itu, pihaknya menekankan pada warga yang memiliki kondisi tertentu, khususnya bagi warga yang harus dirawat secara rutin, seperti pasien cuci darah atau mereka yang harus mengkonsumsi obat secara rutin.

Saiful yang juga Ketua HEOC berpesan, kondisi sekarang masyarakat dengan perawatan khusus, pasien dengan obat rutin segera melapor ke puskesmas, pustu, bidan desa untuk melaporkan pasien khusus dapat terlayani. Ini sesuai dengan arahan Menteri Kesehatan.

Saat ini pusat operasi kedaruratan kesehatan atau HEOC telah diaktifkan di tingkat provinsi. Dengan adanya pusat ini, tenaga kesehatan dari sektor pemerintah maupun non-pemerintah terlebih dahulu berkoordinasi sebelum memberikan pelayanan medis.

Puskris juga memobilisasi tenaga cadangan kesehatan (TCK) dari regional Sumbar. Sejumlah tenaga medis dan tenaga kesehatan diperbantukan untuk memberikan pelayanan di sejumlah fasilitas kesehatan yang terdampak bencana, di antaranya tenaga medis dan kesehatan dari RSU Dadi Makassar ke RSUD Sikaping dan RS Khusus Daerah Dadi menuju RSUD Lubung Basung, keduanya berada di Kabupaten Agam.(JP02)

Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here