Program 100 Hari Kerja Bupati Teluk Bintuni, 100 Hektare Padi Sawah Mulai Panen

0
157
Plt Sekda Teluk Bintuni, Frans Nikolas Awak bersama unsur Forkopimda melakukan panen raya padi sawah di Jalur 9 SP 4 Kampung Banjar Ausoy Distrik Manimeri, Sabtu (13/9/2025).
Google search engine
Spread the love

BINTUNI, jurnalpapua – Program penanaman padi di atas lahan seluas 100 hektare sawah yang menjadi program prioritas Bupati-Wakil Bupati Teluk Bintuni periode 2025-2030, mulai menampakkan hasil.

Secara bertahap, benih padi yang ditanam lima bulan lalu, mulai dipanen oleh petani. Panen raya ini ditandai dengan pemotongan padi di sawah Kampung Banjar Ausoy SP 4 oleh Plt Sekretaris Daerah Teluk Bintuni, Frans Nikolas Awak dan pejabat Forkopimda, pada Sabtu (13/9/2025).

Ketua Panitia Panen Raya 100 hektare padi sawah, Ivang A. Manibuy menyampaikan, program menanam padi di atas lahan 100 hektare ini, secara resmi di-launching pada 17 Maret 2025. Program Pengembangan Tanaman Padi dilaksanakan selama lima bulan, mulai Juni sampai November tahun 2025.

Berdasarkan hasil survey langsung di lapangan menggunakan teknologi drone, luas tanam padi sampai dengan Agustus 2025 tercatat seluas 9.39 hektare, atau sekitar 96.39 persen dari target yang ditentukan.

“Program Pengembangan Tanaman Padi seluas 100 Hektar merupakan salah satu dari Program Prioritas 100 hari kerja Bupati dan Wakil Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy – Joko Lingara,” kata Ivang A. Manibuy, yang juga menjabat Kepala Seksi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian Kabupaten Teluk Bintuni.

Untuk menjalankan program ini, pemerintah memberikan bantuan dalam bentuk uang tunai kepada kelompok tani padi sawah, sebesar Rp 11.292.100/hektare. Kata Ivang, bantuan tersebut ditransfer langsung ke Rekening Kelompok Tani Penerima Bantuan.

Dana Bantuan yang bersumber dari APBD Teluk Bintuni melalui DPA Dinas Pertanian Tahun Anggaran 2025, digunakan dengan metode Swakelola Tipe IV melalui Kelompok Tani yang tersebar di Distrik Manimeri seluas 67 hektare, Tuhiba 18 hektare, Tembuni 6,75 hektare dan Mayado seluas 8,25 hektare.

Dana bantuan tersebut, telah dimanfaatkan untuk pembukaan lahan, pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan tanaman, pembelian benih padi, pupuk dan obat-obatan.

Untuk varietas padi yang ditanam cukup beragam, diantaranya varietas M70, Ciherang, Impari 30, Mekongga dan lainnya. Luas tanaman yang sudah di panen hingga saat ini sekitar 4,75 hektare dengan jumlah produksi yang sangat bervariasi, antara 2,5 sampai 4,34 ton/ hektare.

“Penanaman padi tidak dilakukan secara serentak, sehingga umur panen pun tidak sama. Seperti yang kita lihat sama-sama, ada tanaman yang sudah siap dipanen tetapi ada juga tanaman yang masih hijau,” kata Ivang.

Dalam proses pengembangan 100 hektare padi sawah, kendala utama yang dihadapi petani adalah tingginya serangan hama penyakit tanaman yang diduga akibat perubahan iklim yang cukup signifikan.

Jenis hama penyakit yang menyerang tanaman padi, antara lain jamur, sundep, hama penggulung daun, hama penggerek batang serta wereng cokelat. Tingginya serangan hama penyakit, sanga berdampak pada menurunnya hasil panen hingga 100 persen. Untuk mengatasi kendala tersebut, kata Ivang, Dinas Pertanian berencana membentuk Brigade Pengendalian OPT dan mengaktifkan kembali Regu Pengendalian Hama dan Penyakit. JP01

Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here