Kampung Adat Malasigi; Berkilau di Balik Rimbunnya Hutan Hujan Tropis Papua

0
206
KAMPUNG BINAAN - Kampung Adat Malasigi di Distrik Klayili Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, menjadi kampung binaan Pertamina EP Field Papua dalam program Desa Energi Berdikari (DEB). Foto: Tantowi/JP
Google search engine
Spread the love
  • Tanah Ulayat Terjaga, Masyarakat Sejahtera, menjadi prinsip dan landasan komitmen masyarakat Kampung Malasigi dalam menjaga dan melestarikan hutan.
  • Kolaborasi multipihak dalam kerja-kerja konservasi adalah keniscayaan yang harus dibangun.
  • Sebagai kampung persiapan, Malasigi berhasil menyabet Juara I Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024, kategori Desa Wisata Rintisan.

TIM Laman membersihkan sepatu hitamnya dari lumpur. Di bawah kucuran air dari keran, jari-jari tangannya terlihat lincah mengorek sisa tanah yang masih menempel. Saya bertemu jurnalis foto satwa liar kaliber dunia ini, pada Sabtu, 30 Agustus 2025.  

Timothy G. Laman – begitu nama lengkapnya – baru saja menuntaskan petualangannya merekam keindahan burung cenderawasih di Kampung Malasigi, Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Ia sedang berkemas dan siap beranjak pergi, ketika saya baru tiba dan menyapanya.

“Dimana-mana begitu. Sudah biasa. Hanya jalan menuju ke sini yang harus diperbaiki,” kata Tim, menjawab pertanyaan saya; apakah jalur menuju tempat pengamatan burung, rusak?

Tim Laman adalah seorang ahli arnitologi, yang jepretan foto dan rekaman video kameranya banyak beredar pada channel broadcaster dunia, seperti National Geographic dan BBC Earth.

Yang dimaksud Tim ‘jalan menuju ke sini’, adalah ruas jalan sepanjang 28 kilometer. Mulai dari simpang enam Tugu Merah di Kelurahan Klamesen Distrik Mariat, wilayah ibu kota Kabupaten Sorong hingga ke Malasigi. Banyak titik ruas jalan yang hancur. Hanya jenis kendaraan tertentu yang bisa menembus medan ini.

Padahal, potensi alam di Kampung Malasigi cukup populer di mata internasional. Ekosistem hutan Malasigi yang menyimpan keanekaragaman hayati, mulai dikembangkan sebagai sumber ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat.

Identifikasi yang dilakukan Fauna & Flora Tanah Papua, setidaknya 131 jenis satwa liar yang terdiri 95 jenis burung, 13 jenis mamalia, 13 jenis amfibi dan 10 jenis reptil berada di hutan kampung ini. Birdwatching menjadi atraksi primadona yang ditawarkan. Terdapat lima jenis cenderawasih sebagai ‘burung surga’, yang dengan mudah disaksikan.

Keindahan warna bulu cenderawasih kecil (Lesser bird of paradise), cenderawasih mati kawat (Twelve wired bird of paradise), toowa cemerlang (Magnificent riflebird), cenderawasih belah rotan (Magnificent bird of paradise) dan cenderawasih raja (King bird of paradise) menjadikan Kampung Malasigi sebagai destinasi pilihan bagi para pecinta burung kelas dunia.

Burung langka dan endemik di Tanah Papua seperti cekakak pita biasa, paok papua selatan, paok hijau papua, julang papua hingga mambruk ubiaat, juga masih menjadi penghuni belantara hutan kampung ini.

Selain  menjadi habitat bagi burung surga dan satwa endemik Papua lainnya, kampung ini juga dilengkapi pemandian air panas alami yang mengalir jernih di Sungai Klaguluk. Go Wo’batiwala,  nama gua karst sepanjang 350 meter dengan chamber luas, akan menambah pengalaman menjelajah. Dengan kombinasi masyarakat Moi yang ramah, menjadikan Kampung Malasigi disebut sepenggal surga yang ada di bumi.

Ragam potensi alam ini dikelola generasi muda Malasigi yang meriung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Belempe, dibawah naungan Lembaga Pengelolaan Hutan Kampung (LPHK) Belempe.

TAMU ASING – Slim Chabby dari Australia, menunjukkan foto satwa yang diabadikan melalui kameranya, usai menyaksikan keindahan cenderawasih bersama para pemandu. Foto: Tantowi/JP

Bukan hanya Tim Laman, seorang Wildlife Photojournalist and Filmmaker yang kepincut mengabadikan keindahan The Birds of Paradise di Kampung Malasigi. Deretan nama wisatawan mancanegara yang tercatat dalam buku tamu, ada Slim Chabby dari Australia, Laura Suzanne dan Samuel Taveine dari Prancis, Tomas Espinosa (Argentina) atau Helmut Jacob dari Jerman serta Yanauca Holst dari Belanda.

It was an honor to be your first guest. Looking forward to come back,” tulis Nicolas Meyer dari Zurich, Swiss, setelah merasakan 5 hari bertandang di Kampung Malasigi.

Kunjungan para tamu, baik asing maupun nusantara, menjadi sumber pundi-pundi rupiah yang renyah. Kata Manase Fami, Ketua LPHK Belempe, dalam tiga tahun terakhir, rata-rata pendapatan yang dibukukan mencapai Rp 100 juta per bulan. Tak kurang dari 10 trip tamu dalam sehari.

Uang itu dihimpun dari penggunaan homestay Rp 250.000/malam/orang, glamping Rp 150.000/malam/orang, jasa memasak dan menyajikan ke tamu Rp 200.000/hari/paket. Untuk atraksi adat selamat datang yang disuguhkan kelompok penari, jasanya Rp 500.000 untuk sekali tampil.

Hingga kini, Pokdarwis Belempe belum mengutip ongkos dari setiap spot wisata yang ditengok pengunjung. Soal sewa kendaraan menuju Kampung Malasigi dan jasa pemandu wisata, para tamu langsung berurusan dengan sopir dan guide untuk bicara nominal angkanya.

Uang yang terkumpul dari kunjungan ini, dibagikan secara adil ke setiap individu masyarakat yang terlibat sesuai dengan perannya. Selebihnya, disimpan sebagai kas kampung untuk kebutuhan perbaikan maupun perawatan fasilitas wisata.

Namun kata Manase Fami, akibat jalan rusak itu, 50 rencana perjalanan tamu asing batal bertandang. Jangankan sepeda motor. Mobil pun kalau bukan yang sudah modifikasi untuk lintasan offroad, susah tembus. Uang dari bule yang sudah siap ia terima pada rentang Januari hingga Agustus 2025, hanya tinggal cerita.

“Baru beberapa hari ini saja mulai ada yang bisa masuk lagi,” kata Manase Fami, dalam obrolan keluh kesahnya di ruang makan. **

Pesona Kampung Adat Malasigi

MINGGU, 17 November 2024.TeaterTanah Airku di Taman Mini Indonesia Indah, menjadi saksi bisu diraihnya penghargaan bergengsi oleh Kampung Adat Malasigi, dari Kementerian Pariwisata RI.

Kampung yang jauh dari gemerlap ibu kota ini, dinobatkan sebagai Juara I Desa Wisata Rintisan dari total 6.061 peserta, dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 yang mengambil tema “Desa Wisata Menuju Pariwisata Hijau Berkelas Dunia”.

ADWI yang digelar sejak tahun 2021, merupakan ajang penghargaan Kementerian Pariwisata RI untuk menggali dan mengidentifikasi potensi lokal, guna mendorong kualitas kesejahteraan masyarakat melalui desa wisata sebagai salah satu penggerak ekonomi desa berkelanjutan

Kampung Malasigi disebut sebagai surga bagi penikmat keindahan alam dan satwa liar di bagian barat Pulau Papua. Ini adalah kampung pemekaran dari Kampung Klayili, Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya.

JALAN RUSAK – Banyak ruas jalan menuju Kampung Malasigi yang rusak. Hanya mobil double gardan yang sudah dimodifikasi, yang bisa menaklukkan medan ini. Foto: Tantowi/JP

Akses menuju kampung ini sejatinya cukup mudah, namun sedikit menantang. Berjarak sekira 55 km dari Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Kota Sorong, perjalanan ke kampung ini dapat ditempuh dengan menggunakan motor trail maupun mobil selama kurang lebih 2 jam.

Untuk keamanan dan kenyamanan, direkomendasikan menggunakan mobil double gardan (4×4), mengingat sebagian besar jalan yang akan dilalui menuju kampung ini masih berupa jalan tanah yang licin saat terjadi hujan.

“Kaki-kaki mobil ini sudah modifikasi. Saya naikkan 5 senti di bagian suspensinya,” kata Mekiyan Dedai, sopir mobil hilux yang mengantar saya ke Malasigi.

Kampung Malasigi menjadi tempat tinggal bagi Marga Fami dan Komigi, bagian dari suku Moi Kelim. Permukimannya berada di tengah hutan. Bangunan rumah model panggung berbahan kayu beratap seng atau daun sagu. Tersusun rapi memanjang, dikelilingi pepohonan yang rimbun.

Dengan luas sekitar 1.570 hektare, kampung ini dihuni oleh 15 rumah tangga dengan jumlah penduduk 46 jiwa. Bahasa Moi menjadi bahasa sehari-hari yang digunakan dalam berkomunikasi antarmasyarakat setempat.

Untuk menjalankan administrasi pemerintahan, masyarakat Kampung Malasigi dipimpin seorang Kepala Kampung. Juga ada seorang Kepala Adat yang bertugas menjaga norma dan adat istiadat di dalam kampung, khususnya terhadap pengunjung.

Para tamu yang datang ke Malasigi, tidak bisa menjelajah sendiri ke tempat-tempat wisata yang ada. Harus ditemani masyarakat setempat sebagai pemandu lokal. Aturan ini berlaku, karena ada hal-hal tertentu yang dianggap pamali.

AIR PANAS – Sumber air panas yang mengalir dari celah bebatuan di Sungai Klaguluk, menjadi tempat pemandian wisata sakral di Kampung Malasigi. Foto: Dok. LPHK Belempe

“Perempuan yang sedang haid, tidak boleh turun di pemandian air panas. Karena itu air belempe (suci),” kata Stepanus Fami, Ketua Adat Malasigi.

Stepanus Fami menjadi orang satu-satunya orang tua di Kampung Adat Malasigi yang mengikuti dan lulus Sekolah Adat Kambik pada tahun 1960. Kambik adalah sistem pendidikan adat Suku Moi yang mengajarkan kepada generasi Suku Moi, terutama laki-laki, tentang kepemimpinan, pengobatan tradisional, pertanian, sosial, adat istiadat, berburu maupun berperang.

Keteguhan menjaga adat istiadat Suku Moi, melindungi wilayah-wilayah sakral, satwa liar, dan kepercayaan terhadap leluhur yang berkaitan dengan hutan, yang menjadi landasan Malasigi dikukuhkan sebagai Kampung Adat pada 8 November 2017.

Bertani, berkebun dan meramu, menjadi sumber penghidupan utama masyarakat Kampung Malasigi. Aktivitas berburu satwa liar seperti celeng dan rusa, kerap dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hasil berburu biasanya dijual ke pusat kota di Aimas atau Kota Sorong.

Nama Malasigi, merupakan gabungan dua suku kata bahasa Moi; Mala yang berarti gunung dan Sigi memiliki arti udang. Secara harfiah, Malasigi memiliki makna; Sebuah gunung yang berbentuk seperti udang.

Dalam tuturan leluhur yang ditularkan secara turun temurun, terbentuknya Kampung Malasigi berawal dari tahun 1969. Marga Fami dan Komigi yang tinggal di atas Gunung Malasigi, turun membuka permukiman baru yang diberi nama Klasanik.

“Kampung ini (Klasanik) menjadi cikal bakal Kampung Klayili, yang menjadi induk dari Kampung Malasigi,” kata Manase Fami, yang dipercaya masyarakat Malasigi sebagai Kepala Kampung.

Kemudian tahun 2015, Marga Fami yang ada di Kampung Klayili, bersepakat mendirikan kampung sendiri di atas tanah ulayatnya dan diberi nama Malasigi. Saat ini, Malasigi masih menunggu proses mendapatkan pengakuan secara administratif sebagai kampung definitif dari Pemerintah Kabupaten Sorong.

SANG PENGGERAK – Manase Fami, Ketua LPHK Belempe Kampung Malasigi. Foto: Tantowi/JP

Kampung Adat Malasigi, menjadi bagian dari 194 kampung pemekaran di Kabupaten Sorong, yang sudah 10 tahun statusnya terkatung-katung. Selama belum definitif, Malasigi dan 193 kampung lainnya, masih berstatus sebagai Kampung Persiapan.

“Secara administratif masih disebut Dusun, dan menjadi bagian dari kampung induknya,” kata Maklon Wally, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung Kabupaten Sorong, saat saya temui pada Selasa, 2 September 2025.

Hadirnya ratusan kampung persiapan ini , berawal dari usulan Bupati Sorong Stepanus Malak. Melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 25 Tahun 2015, bupati yang sudah almarhum ini mengusulkan 91 kampung persiapan kepada Kementerian Dalam Negeri, melalui Gubernur Papua Barat. Kemudian pada tahun 2017, Johny Kamuru, Bupati periode berikutnya, kembali mengusulkan 103 kampung persiapan.

Maklon Wally menyebut, dengan segala potensi dan prestasi yang telah dicapai, ia berharap Kampung Malasigi bisa masuk dalam daftar prioritas untuk didefinitifkan.

“Kalaupun dari 194 kampung persiapan itu tidak semua bisa didefinitifkan, harapan saya Malasigi masuk dalam prioritas yang bisa,” kata Maklon.

Segala proses pengajuan syarat administratif kampung persiapan menjadi definitif, Maklon bilang, ranahnya ada di Bagian Pemerintahan, Sekretariat Daerah Kabupaten Sorong. Kementerian Dalam Negeri menjadi puncak penentu atas usulan ini.

Tetapi kata Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Sorong, Adi Bremantyo, proses mengubah status kampung persiapan menjadi definitif, butuh ongkos yang besar. Ada proses penerbitan peta wilayah, yang harus disetujui dan disahkan Badan Informasi Geospasial (BIG).

Adi bilang, dari 30 distrik yang ada di Kabupaten Sorong, saat ini baru dua distrik yang memiliki peta wilayah; Distrik Sorong dan Distrik Botai. Tahun ini, sedianya Bagian Pemerintahan mengajukan pemetaan lagi untuk disahkan BIG, yakni Distrik Buk dan Distrik Klabot.

“Tapi dengan kebijakan efisiensi anggaran, kayaknya batal lagi pengusulannya,” kata Adi.

Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Daerah ini menyebut, prioritas penerbitan peta dilakukan untuk distrik yang berada di wilayah perbatasan. Kepentingannya, agar jelas mana garis wilayah yang legal, ketika terjadi konflik perbatasan dengan kota atau kabupaten tetangga.

Seperti keberadaan Distrik Sorong. Posisinya berbatasan dengan wilayah Kota Sorong. Distrik Botai, berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sorong Selatan. Sedangkan Distrik Buk dan Klabot yang akan diusulkan peta wilayahnya, menjadi daerah perbatasan dengan Kabupaten Tambraw dan Kabupaten Maybrat. **

Kolaborasi untuk Konservasi

SEJAK tahun 2020, masyarakat Kampung Adat Malasigi berkomitmen menjaga hutan dengan segala habitatnya. Tak ada lagi perburuan satwa endemik dan dilindungi. Tidak juga menebang pohon untuk memuaskan syahwat bisnis para cukong kayu.

SATWA ENDEMIK – Burung kakatua jambul kuning bertengger di ranting pohon di Kampung Malasigi. Wisatawan yang berkunjung di kampung ini, dengan mudah menyaksikan satwa endemik papua yang hidup di alam liar. Foto: Tantowi/JP

Keputusan ini yang melahirkan kepercayaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk menerbitkan SK Nomor: SK.8557/MENLHK-PSKL/PKPS/PSL.0/8/2023. Pada 18 September 2023, SK ini diserahkan Presiden Joko Widodo kepada Manase Fami, Ketua LPHK Belempe, di Jakarta. 

Berbekal surat ini, masyarakat Kampung Malasigi mendapatkan akses secara legal. Tanpa khawatir akan alih fungsi lahan, mereka mengelola hutan kampung seluas 1.750 hektare dengan nilai-nilai adat istiadat yang berlaku di tiap jengkal tanah ulayat yang ada.

Manase Fami, menyebut, dari luas area itu ia membaginya menjadi dua zonasi. Zona Lindung sebagai kawasan untuk menjaga kelestarian biodiversitas hutan, dan Zona Pemanfaatan sebagai kawasan permukiman penduduk, berkebun dan berburu babi hutan atau rusa. Aliran sungai dan tegakkan pohon, dimanfaatkan sebagai batas wilayahnya.

“Hutan itu adalah ibu kita. Jadi tergantung masing-masing marga, siapa yang merawat dan menjaga. Kalau yang berpikir ke anak cucu generasi masa depan, ya berbuatlah dari sekarang sebelum ancaman dari berbagai perusahaan yang datang untuk merusak,” kata Manase.

Sebelum muncul kesadaran ini, pembalakan liar terhadap kayu merbau (Intsia bijuga) di belantara Klayili terbilang masif. Masyarakat menjual kayu yang memiliki derajat premium di pasar internasional ini, antara Rp 200.000 sampai Rp 300.000/m3 kepada cukong lokal.

Perburuan satwa endemik yang dilindungi, juga dilakukan secara bar bar. Cenderawasih, kakatua jambul kuning, nuri kepala hitam, menjadi spesies yang paling diburu untuk memenuhi hasrat kolektor. Manase Fami bilang, semua perilaku kelam ini diperbuat, semata-mata untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga.

Bersama aktivis Fauna & Flora Tanah Papua, Manase Fami mengajak masyarakat berbalik arah dalam mendulang cuan dari dalam hutan. Tanpa merusak hutan dan biodiversitasnya, kekayaan alam itu akan menjadi sumber peruntungan secara terus menerus. 

Sebagai penggerak masyarakat dalam mewujudkan Kampung Malasigi yang berkarakter dan  berbudaya dalam melestarikan hutan, ada prinsip yang selalu digaungkan Manase Fami; Tanah Ulayat Terjaga, Masyarakat Sejahtera. 

ASRI – Homestay dan glamping yang dibangun LPHK Belempe untuk menginap tamu di arena camping ground Kampung Malasigi. Foto: Tantowi/JP

Komitmen masyarakat Malasigi ditunjukkan dengan membangun beberapa fasilitas penunjang ekowisata secara gotong royong. Rumah panggung yang sebelumnya menjadi Balai Kampung, disulap menjadi homestay dengan dua kamar tidur. Lengkap dengan kamar mandi di dalam.

Di bagian halaman, dipermak menjadi area camping ground. Buah kolaborasi dengan para mitra, LPHK Belembe memiliki 10 unit glamping untuk memanjakan tamu yang menginap. Kasur busa yang empuk komplit dengan selimut, handuk, bantal dan guling, ada di dalamnya.

Untuk mengamati cenderawasih dari jarak dekat, masyarakat Kampung Malasigi membangun rumah persembunyian atau hide. Fasilitas ini berdiri pada 2023, hasil kolaborasi dengan Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya.

Terdapat enam hide untuk mengamati cenderawasih kuning kecil (Paradisaea minor), cenderawasih mati kawat (Seleucidis melanoleucus), toowa cemerlang (Ptiloris magnificus), cenderawasih belah rotan (Cicinurus magnificus), paok hijau papua dan paok papua selatan. Semuanya dibangun dengan memanfaatkan kayu yang sudah roboh, bekas tebangan masa lalu.

Sebagai oleh-oleh para tamu, perempuan Kampung Malasigi membuat noken khas yang bisa dibawa pulang sebagai cendera mata.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo, menyampaikan, saat ini Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya sedang mengembangkan wisata rendah karbon melalui penerapan energi terbarukan.

“Apa yang dicapai Kampung Adat Malasigi dalam 2 tahun ini luar biasa. Namun jangan cepat berpuas diri, karena ini baru permulaan,” kata Yusdi.

Perubahan perilaku masyarakat ini, tak lepas dari kolaborasi yang harmoni antara Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, Pemerintah Kabupaten Sorong, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua Barat Daya, Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Maluku Papua (BPSKL), Kelompok Pengelola Hutan Kabupaten Sorong (KPH), NGO ⁠Fauna & Flora, Yayasan Kasuari Tanah Papua dan Pertamina EP Field Papua.

Senior Officer Commrel & CID Zona 14 Pertamina EP, Amarullah menyebut, Kampung Malasigi berada di area Ring 2 wilayah operasi sumur eksplorasi Kembo milik PEP Field Papua. Berjarak sekira 1 kilometer dari Sumur Kembo, atau 50 kilometer dari Kantor PEP di Kota Sorong.

PEP Field Papua hadir  secara fisik untuk mendukung fasilitas di Kampung Malasigi sejak awal tahun 2024. Dalam kolaborasi ini, kata Amarullah, pihaknya menitik beratkan pada dukungan sarana prasarana kebutuhan pokok, seperti air bersih dan listrik.

SOLAR CELL – Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas panel surya 8,72 kilowatt peak (kWp) yang dibangun Pertamina EP Field Papua di Kampung Malasigi, Distrik Klayili sebagai bentuk mewujudkan program Desa Energi Berdikari (DEB). Foto : Dok. PEP Field Papua.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas panel surya 8,72 kilowatt peak (kWp) di Kampung Malasigi, telah diaktivasi pada 20 Januari 2025. Jika dikonversi ke PLTD, pemanfaatan panas matahari sebagai sumber energi listrik ini, telah mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) sebanyak 3.600 liter per tahun, atau menghemat duit belanja BBM Rp 36 juta/tahun. PLTS ini juga berpotensi menurunkan emisi hingga 9,022 ton CO2eq/tahun.

Selain sebagai sumber energi lampu jalan, stroom dari PLTS ini juga didistribusikan ke rumah-rumah warga. Saat malam, Kampung Malasigi bak mutiara yang berpendar di balik rimbunnya belantara hutan hujan tropis Papua. LPHK Belempe memasang lampu hias di sudut strategis yang menambah elok suasana.

Perhatian terhadap Kampung Malasigi, menjadi upaya Pertamina EP mewujudkan dukungan terhadap pelestarian alam dan pelestarian budaya Suku Moi. Melindungi keanekaragaman hayati, flora dan fauna berdasarkan kearifan lokal sebagai bagian aset bangsa, tertulis dalam Asta Cita Program Kerja Presiden Prabowo pada kelompok Ekonomi Hijau.

Pertamina EP meracik Program Pengembangan Masyarakat Bidang Lingkungan ini dalam kemasan Desa Energi Berdikari (DEB) Papua Community Mata Hati Malasigi. Ini merupakan salah satu program yang bertujuan mendorong peningkatan perekonomian dan mendukung ketersediaan akses energi baru terbarukan yang andal dan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.

Program ini juga selaras dengan Asta Cita pemerintah dalam hal Swasembada Energi; Mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus menjadikan Indonesia sebagai raja energi hijau dunia dalam bidang energi baru dan terbarukan.

Melalui siaran pers yang saya terima pada 21 Januari 2025, Manager CSR Pertamina Hulu Energi, Elvina Winda Sagala menjelaskan, program DEB Papua Community Mata Hati Malasigi merupakan salah satu program Community Involvement and Development (CID) Subholding Upstream Pertamina. Program ini berupaya menghadirkan kemandirian energi masyarakat secara berkelanjutan.

Selain mendukung ketersediaan energi bersih, program DEB juga akselerasi atas program pemerintah mereduksi emisi karbon dengan target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Program ini sejalan dengan komitmen terhadap kinerja keberlanjutan perusahaan dalam kerangka Environmental, Social and Governance (ESG), serta mendukung pencapaian agenda internasional Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan 7, 8 dan 13

Dampak ekonominya, selain penghematan hingga Rp36 juta/tahun dari pengurangan penggunaan BBM, juga peningkatan pendapatan LPHK Belempe dari Rp1 juta/bulan menjadi Rp4 juta/bulan.

Meningkatkan produktivitas anggota LPHK Belempe, pemberdayaan kelompok rentan sebanyak 15 keluarga, mendorong kreativitas masyarakat dalam mengelola hutan secara berkelanjutan, terbentuknya 3 unit usaha baru, perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, dan mengurangi angka pengangguran sebanyak 10 jiwa, menjadi dampak sosial atas program ini. 

PENDAMPING – Maurits Cristian Kafiar, Empowerment of Indigenous Communities and Spatial Planning Coordinator Fauna & Flora Papua. Foto: Tantowi/JP

Empowerment of Indigenous Communities and Spatial Planning Coordinator Fauna & Flora Papua, Maurits Cristian Kafiar bilang, konservasi adalah kerja yang melintasi ruang dan waktu. Oleh karenanya, meski kewenangan pengelolaan hutan telah ditetapkan, kolaborasi dalam kerja-kerja konservasi adalah keniscayaan.

Kampung Adat Malasigi adalah wujud prismatik dari hasil kerja kolaborasi antarlembaga yang mampu bersama-sama saling menggiatkan tugas dan fungsinya, dengan melepas belenggu egosektoral. Semuanya saling bahu membahu membangun Kampung Adat Malasigi, dengan bertumpu pada landasan konservasi yang kuat.

“Ini adalah praktik kolaborasi yang nyata dan efektif dalam mengharmonisasikan aspek sosial, ekonomi dan ekologi yang berkelanjutan,” kata Maurits.

Bagaikan sebuah mesin, semua unsur telah menyatu menjadi roda gigi yang saling terhubung. Pemerintah dapat mengembangkan program yang kontekstual sesuai bidangnya melalui partisipasi masyarakat yang aktif.

Badan Usaha dapat memberikan tanggung jawab sosial lingkungannya sesuai kebutuhan-kebutuhan prioritas masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat dapat menjadi fasilitator pendukung berbagai program pemerintah dan badan usaha agar tepat sasaran. Masyarakat melalui kearifan lokal dan modal sosialnya, menguatkan trust dengan menjalankan berbagai program dengan penuh semangat dan motivasi yang tinggi.

Maurits bilang, budaya saling percaya (mutual trust), saling menghormati (mutual respect), dan saling memberikan manfaat (mutual benefit), adalah kunci keberhasilan dalam menjalin kolaborasi.

Dengan kebutuhan dasar yang terpenuhi, biodiversitas yang memberikan manfaat, dan relasi yang saling menguatkan, Kampung Adat Malasigi mampu berdaya melalui konservasi.**

Mani Pausantili Suk

KONDA Wooo…

Nulu feee…

Mar mau feee…

Kali lephe luuu…

Syair lagu berbahasa Moi Kelim itu dilantunkan berulang, ditingkahi tarian adat penuh suka ria. Inilah awal keramahan penduduk Kampung Malasigi yang dirasakan setiap tamu yang baru datang. Mereka menyambutnya dengan Tarian Alen.

PROSESI ADAT – Rombongan dari Pertamina EP disambut dengan prosesi dan tarian adat Alen, saat berkunjung ke Kampung Malasigi pada Senin, 20 Januari 2025. Foto : Dok. PEP Field Papua.

Atraksi seni tradisional ini dimainkan secara massal oleh laki-laki dan perempuan dewasa, juga anak-anak. Semuanya tampil dengan pakaian adat. Yang laki-laki mengenakan sepotong kain warna merah sebagai bawahan, telanjang dada berkalung untaian manik-manik, dan mahkota khas Suku Moi di kepala. Di tangannya sebilah parang di pegang.  Sedangkan yang perempuan, tubuhnya berbalut kain adat hingga di dada, memegang tongkat kayu dan tas noken yang diselempangkan di kepala. 

Dalam bahasa Moi, Alen memiliki arti ungkapan rasa syukur dan kebahagiaan. Dahulu, tarian ini hanya disajikan khusus untuk pendidikan adat Kambik yang bersifat sakral. Tidak dipertunjukkan ke khalayak umum. Kini, wisatawan di Kampung Adat Malasigi dapat menikmati tarian ini dengan nuansa tradisional yang kental.

“Kami juga mengajarkan kepada anak-anak, supaya tarian ini tidak punah,” kata Hengki Fami, tokoh pemuda Malasigi, yang aktif sebagai salah satu penari.

Dari titik penjemputan, tamu biasanya diarak menuju bangunan panggung dari kayu yang beratap daun sagu. Tempat ini multi fungsi. Selain sebagai tempat transit tamu, pertemuan rapat, juga sebagai ruang makan bersama.

Selagi tamu melepas penat setelah perjalanan, perempuan muda di Kampung Malasigi yang bertugas menyiapkan tempat menginap, sigap bergerak. Layaknya petugas room service hotel di kota, mereka terlihat lincah membersihkan kasur, merapikan selimut, sprei dan menata bantal. Yang lain, merebus air di dapur untuk menyeduh kopi dan teh.

“Bapak permisi… glampingnya sudah siap. Silakan kalau mau taruh barang-barang di dalam,” kata Sherlin Komigi, perempuan Kampung Malasigi kepada kami. Hari itu, saya melakukan liputan di Kampung Malasigi bersama dua orang jurnalis Papua; Mikel Bambang Kabuare dan Zadrak Wanggai.

Bukan hanya cekatan menyiapkan kebutuhan menginap para tamu. Para perempuan Malasigi juga cakap dalam mengolah makanan hingga cara menyajikan. Untuk keterampilan ini, Charles Toto, koki asal Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua, yang populer dengan sebutan “Jungle Chef”, pernah hadir selama dua pekan menularkan ilmunya di Malasigi.

MAKAN MALAM – Mama-mama Papua di Kampung Malasigi, mendapat tugas memasak dan menyajikan makanan untuk para tamu yang berkunjung. Foto: Tantowi/JP

Keramahtamahan dan penghormatan masyarakat terhadap setiap tamu yang datang, menjadi kesan yang sulit terlupakan. Adat dan budaya masyarakat yang tersaji dengan sederhana, memberikan pengalaman eksklusif. 

Kampung Adat Malasigi adalah wujud nyata kolaborasi multipihak dalam pengelolaan hutan secara berkelanjutan berbasis ekowisata di Kabupaten Sorong. Kampung Adat Malasigi juga mampu membuktikan bahwa antara adat dan kebijakan pemerintah tak selalu berbenturan dalam praktiknya.

Masyarakat Kampung Malasigi pun dapat merasakan langsung manfaatnya berupa peningkatan pendapatan melalui aktivitas ekowisata, serta terjaganya hutan di tanah ulayat mereka berkat adanya Hutan Kampung.

“Saya berharap, model-model pengelolaan hutan secara kolaboratif yang terintegrasi seperti ini dapat terus dikembangkan dan diperbanyak di berbagai kampung, sehingga kebermanfaatannya juga dirasakan setiap masyarakat di Kabupaten Sorong,” kata Maurits.

Ekowisata menjadi kunci utama yang membawa berbagai perubahan positif di Kampung Malasigi. Komitmen yang kuat dalam menjaga kelestarian hutan dan keterbukaan masyarakatnya, menjadi modal utama kampung ini berkembang sebagai destinasi ekowisata minat khusus.

Namun geliat ekonomi masyarakat ini, tidak terekam dalam catatan statistik BPS Kabupaten Sorong. Dari data Potensi Desa tahun 2024, hanya tercatat banyak sarana penunjang ekonomi masyarakat yang keberadaannya masih nol. Tidak ada pasar, atau sekedar warung kopi. Jarak terdekat bengkel mobil atau motor dari Klayili, 35 kilometer.

Setelah dua hari menjelajah spot pengamatan burung di Kampung Malasigi, Timothy G. Laman pun menuliskan kesannya di buku tamu; Thank you for a great visit. Guest home was very nice and guide very helpful.

Melepas perjalanan pulang Tim Laman, di gapura kampung tertulis kalimat dengan bahasa Moi Kelim yang juga ditujukan kepada pengunjung yang telah sudi bertandang; “Mani Pausantili Suk”, yang artinya “Terima Kasih, Sampai Jumpa Kembali”.  (tantowi djauhari)

Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here