
LEBARAN haji tinggal menghitung hari. Seiring tingginya kebutuhan sapi atau kambing untuk disembelih, harga hewan untuk kurban ini juga terkerek naik. Ini adalah momentum masa panen bagi peternak.
Begitu juga bagi Hadi Loli. Pekerja serabutan ini berniat menjual seekor sapinya, menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriyah yang jatuh pada Jumat, 6 Juni 2025. Dari 8 ekor yang ia pelihara, sapi betina dewasa menjadi pilihan pembeli yang datang dari Manokwari.
“Saya minta 9 juta, tapi dia nawar 8 juta,” kata Hadi Loli, saat ditemui di ladang sembari memberi minum sapi ternaknya, Rabu (18/6/2025).
Hadi Loli adalah salah satu dari puluhan peternak sapi di Kampung Banjar Ausoy, Distrik Manimeri, Kabupaten Teluk Bintuni. Ia tinggal di Jalur 6 SP 4, lumayan jauh dari ladang tempat mengembala sapi ternaknya yang ada di Jalur 9.
Seperti kebanyakan peternak sapi di Banjar Ausoy, Hadi Loli membiarkan hewan piarannya itu merumput di ladang. Untuk mencegah ternak menerobos ladang tetangga, Loli mengikatnya dengan tali yang cukup panjang.
Memberi minum sapi di ladang, menjadi rutinitas Hadi Loli setiap sore, sepulang bekerja. Hadi Loli membawa satu drum air bersih dari rumah. “Air di sumur ladang ini keruh,” kata Hadi Loli.
Di momentum lebaran haji, ia berniat menikmati hasil jerih payahnya itu. Tapi nasibnya belum mujur. Sapi betina itu meronta saat akan dibawa naik ke mobil bak terbuka.
Sekuat tenaga, Hadi Loli mencoba mengendalikan dengan menarik tali yang mengikat leher dan kepala hewan ternaknya itu. Lacur, ototnya kalah kuat dengan tenaga hewan yang sudah bertahun-tahun ia piara. Hadi jatuh tersungkur. Sapi yang hendak diserahkan ke pembeli, kabur melarikan diri.
Drama memilukan ini terjadi pada Selasa, 20 Mei 2025 sekitar pukul 13.00 WIT. Lokasinya di ladang jalur 9 ujung, Kampung Banjar Ausoy Distrik Manimeri, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Ini adalah tempat Hadi Loli memelihara sapi ternaknya. “Saya kejar, makin liar lari masuk hutan. Saya kehilangan jejak,” kenangnya.
Matahari sudah menyingsing di ufuk barat. Senja sebentar lagi tiba. Hadi Loli menghentikan langkahnya dan menepi. Ia meminta pembeli sapinya, untuk datang lagi esok hari setelah sapinya kembali. Uang pembelian batal ia kantongi. Malamnya, Hadi Loli kembali mencari sapinya itu di hutan.
Berbekal senter sebagai penerangan, ia mencoba peruntungan. Hadi khawatir sapinya itu terlilit diantara pohon-pohon kecil yang ada di hutan. “Karena waktu dia lari, dia bawa tali,” tukasnya.
Hadi Loli mulai gelisah. Hingga jam 1 dini hari, sapi ternaknya tidak ditemukan. Tidak ada tanda-tanda dimana sapi itu sembunyi. Ia berjalan gontai pulang menuju rumah.
Masih diliputi rasa penasaran, sepulang mengantar anaknya yang masih kelas 4 SD ke sekolah, Hadi Loli langsung menuju ladang. Ia kembali melanjutkan perburuannya mencari sapi yang semalaman tidur di hutan. Mondar mandir Hadi Loli melangkah menyusuri setiap jejak di semak belukar.
Laki-laki yang usianya sudah lewat setengah abad ini nyaris putus asa. Sudah satu jam lebih menyusuri belantara, tidak ada tanda-tanda. Hadi Loli membalikkan badan untuk kembali pulang.
“Kraakk.. ! Saya mendengar macam kayu patah. Saya diam, saya dengarkan lagi baik-baik,” kata Hadi Loli.
Langkahnya terhenti. Ia pasang telinga. Matanya waspada. Hadi Loli memastikan darimana sumber suara itu. Sunyi. Tidak ada bunyi lagi. Hadi Loli hendak melangkah lagi, dan berprasangka itu suara kayu yang jatuh.
Tetapi.. kraak! Terdengar suara itu lagi. Hadi kembali diam. “Dari sini saya sudah feeling, ini bukan patah. Ini pasti sapi saya yang mungkin terjepit di pohon-pohon,” kata Hadi Loli.
Lama ditunggu tidak terdengar lagi, Hadi berjalan mencari sumber suara. Niat pulang itu urungkan. Ia kembali menerobos masuk hutan. Untuk ketiga kalinya, dari kejauhan ia mendengar suara. Tapi bukan lagi seperti kayu patah, melainkan suara seperti sapi meronta. Ia berjalan menuju arah sumber suara.
“Weh.. kaget juga. Saya kaget karena saya dapat sapinya sudah dipanggal-panggal. Tapi saya belum tahu, itu sapi siapa. Apakah sapi saya atau bukan?” kata Hadi Loli.
Hadi Loli melihat ada jejak jalan menuju keluar hutan. Ia telusuri, untuk mencari tahu siapa pelaku mutilasi itu. Hadi Loli bergegas pulang untuk melaporkan temuannya itu ke Sudirman, Kepala Kampung Banjar Ausoy. Ia juga menghubungi beberapa rekannya untuk membantu memburu pelaku.
Tidak butuh waktu lama, puluhan orang sudah berkumpul di tempat potongan badan sapi ditemukan. Kepala Kampung datang bersama beberapa polisi. Karena penasaran, Hadi memeriksa kepala sapi yang sudah terpenggal.
“Begitu saya balik, saya baru tahu. Ini sapi saya yang kemarin lepas. Saya tahu itu, karena saya ikat sapi itu di hidungnya. Jadi masih ada bekas,” ungkap Hadi Loli.

Tidak jauh dari tempat itu, ditemukan lagi sapi jantan yang sudah terpenggal kepalanya. Badannya masih utuh, belum dipotong-potong. Sapi yang kedua ini, diketahui milik Joni Haryoko, seorang anggota Kodim 1806 Teluk Bintuni.
Laporan adanya alap-alap sapi yang meresahkan, di respons cepat Satuan Reskrim Polres Teluk Bintuni, Polda Papua Barat. Kasat Reskrim AKP Boby Rahman S.Tr.K.,S.I.K, menurunkan Tim Resmob Macan Gunung yang beranggotakan 8 orang.
Ini adalah tim pemburu bandit yang dibentuk sejak tahun 2023. Nama Macan Gunung dipilih karena identik dengan fisik yang kuat, kepribadian yang adaptif dan memiliki keberanian, serta jiwa kepemimpinan.
Karakteristik yang melekat pada Tim Macan Gunung, kata Boby, memiliki kemampuan dalam melakasanakan tugas operasional seperti upaya penyelidikan dalam mengungkap pelaku kejahatan dan kemampuan taktis yang mumpuni.
“Cepat, tepat, tanggap serta cermat dalam melaksanakan tugas di lapangan. Semua itu tergambar di jiwa Tim Macan Gunung Res Bintuni,” kata Boby, Jumat (27/6/2025).
Penanganan perkara pencurian sapi ini, berdasarkan laporan Nomor : LP/B/72/V/2025/PAPUA BARAT/POLRES TELUK BINTUNI/SPKT.
Bobi bilang, sejak menerima laporan Pencurian dengan Pemberatan (curat) pada Rabu (21/6/2025) pagi, Macan Gunung meluncur ke TKP di SP 4 Manimeri, pada pukul 09.30 Wit. Pengumpulan bahan dan keterangan, diambil dari para saksi.
Hanya butuh waktu 30 menit, Macan Gunung berhasil meringkus satu orang terduga pelaku atas nama MR. Ia adalah tetangga Hadi Loli yang tinggal di Jalur 8 SP 4 Kampung Banjar Ausoy.
Dari pemeriksaan awal yang dilakukan terhadap MR, ada satu orang terduga pelaku lain atas nama GR. Setelah pemetaan dan profiling, Tim Macan Gunung menemukan GR di rumahnya di Kampung Hogut, SP 5.
Para pelaku yang terjerat Pasal 363 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara ini, sedang meringkuk di sel Polres Teluk Bintuni, menanti proses kelengkapan berkas penyidikan. “Sudah P-19,” kata Boby.
Untuk menekan terjadinya aksi kriminal ini terulang, Boby berpesan kepada masyarakat, agar mewaspadai orang yang tidak dikenal yang masuk ke wilayah peternakan. Terutama jika ada transaksi jual beli sapi.
Selain itu, rutin mengawasi ternak dan mengunjungi kandang secara berkala adalah cara ampuh mencegah terjadinya pencurian. Berikan penerangan yang cukup pada kandang, agar mudah terpantau dan terlihat aman.
“Segera laporkan kepada pihak berwajib jika melihat atau mencurigai adanya aktivitas yang berpotensi pencurian,” tandas Boby.
Kepala Kampung Banjar Ausoy, Sudirman mengapresiasi gerak cepat jajaran Polres Teluk Bintuni, Polda Papua Barat, dalam memberikan pelayanan dan perlindungan terhadap masyarakat.
“Alhamdulillah pencuri sapi yang meresahkan warga kami, sudah ditangkap. Tidak sampai sehari,” kata Sudirman.
Hadi Loli juga merasa lega. Polisi cepat meringkus pencuri sapinya, kendati uang sapi batal ia kantongi.
“Cepat juga ya didapat (ditangkap) orangnya. Senang saya,” tukas Hadi Loli.
(tantowi djauhari)












