
BINTUNI, jurnalpapua – Setelah 14 hari berlalu sejak kematian Kristian Roberto Suu, alumni P2TIM Petrotekno yang meninggal tak wajar di Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, manajemen Petrotekno P2TIM akhirnya mengunjungi keluarga korban di Kampung Horna Baru, Atibo, Distrik Manimeri pada Kamis (30/4/2026) sore.
Manajemen Petrotekno P2TIM diwakili oleh Pascalina Yamlean, Training Center Manager (TCM) P2TIM Petrotekno. Bersama seorang staf bagian pendataan alumni, Pascalina bertemu dengan kedua orangtua korban dan kerabat lainnya.
“Kami dari keluarga besar Petrotekno turut berduka cita atas kematian dari anak alumni kami. Hari ini kami ada memberikan sedikti uang duka kepada keluarga,” kata Pascalina.
Sejatinya, manajemen Petrotekno di Teluk Bintuni sudah mendapat kabar atas peristiwa duka itu sejak kejadian pada 17 April 2026. Saat itu, kata Pascalina, pihaknya menanyakan kapan akan dibawa pulang ke Bintuni.
Saat jasad Kristian tiba di Bintuni pada Senin (20/4/2026), manajemen P2TIM Petrotekno tidak ada yang bisa datang ke rumah duka. Alasannya, dalam waktu yang bersamaan, sedang ada ujian siswa di tempat pelatihan.
Pihak keluarga korban sempat menyesalkan sikap dari manajemen P2TIM Petrotekno, yang tidak ada muncul sekedar menyampaikan ucapan duka, sejak peristiwa terjadi hingga korban dimakamkan.
Berita Terkait: Alumni Petrotekno Meninggal Tak Wajar di Perusahaan Tambang, Bupati Anisto Berikan Pendampingan Hukum
Padahal, keberangkatan Kristian untuk pergi kerja di Obi, semuanya difasilitasi oleh P2TIM Petrotekno. “Memang waktu itu kita fasilitasi keberangkatannya, sampai ke perusahaan. Kami juga ada dalam grup-grup (WA) mereka, dan kami ikuti setiap perkembangan informasinya. Sebagai orangtua, kami selalu berikan nasihat, yang utama, harus rajin berdoa dalam setiap aktifitas,” ungkap Pascalina.
Kendati demikian, Pascalina menegaskan bahwa P2TIM Petrotekno bukan lembaga penyalur tenaga kerja. P2TIM Petrotekno hanya lembaga pelatihan, yang membentuk karakter dan keterampilan anak-anak untuk siap bekerja.
Banyak perusahaan besar di luar Bintuni yang sudah mengenal Petrotekno, sehingga ketika mereka membutuhakn tenaga kerja, manajemen Petrotekno yang dihubungi.
“Kami kan ada database para alumni. Kebutuhan itu kami tawarkan ke mereka, siapa yang mau? Kami tidak memaksakan mereka harus bekerja di luar Bintuni. Kami sebatas menawarkan. Jika memang diterima bekerja, selanjutnya itu menjadi tanggungjawab sepenuhnya pihak perusahaan yang mempekerjakan mereka,” ungkap Pascalina.JP01




















