Kesadaran Orangtua Kunjungi Posyandu Membaik, Angka Penderita Stunting di Teluk Bintuni Melonjak

0
102
Pertemuan lintas sektor peserta aksi konvergensi percepatan penurunan stunting di aula Bappelitbangda Kabupaten Teluk Bintuni, Selasa (4/7/2023).
Spread the love

BINTUNI, jurnalpapua – Kesadaran orangtua di Kabupaten Teluk Bintuni membawa anaknya ke Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) pasca pandemi covid-19, secara berangsur-angsur mulai pulih dan membaik. Dampaknya, angka jumlah anak penderita stunting di daerah ini melonjak dibanding tahun sebelumnya.

Jika di tahun 2021 jumlah penderita stunting di Teluk Bintuni tercatat sebanyak 604 anak, pada Desember tahun 2022 jumlahnya menurun menjadi 413 anak. Namun pada semester I tahun 2023, jumlah tersebut melonjak menjadi 523 anak penderita stunting.

Stunting merupakan manifestasi dari kegagalan pertumbuhan yang dimulai sejak dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Kabupaten Teluk Bintuni tahun 2022 sebesar 22,8%,  balita yang menderita stunting.

Prevalensi ini lebih rendah apabila dibandingkan dengan angka provinsi sebesar 30,0 % dan nasional sebesar 26,4%. Hal ini menjadi perhatian global, mengingat prevalensi stunting di Indonesia masih di atas 20% dan target Kabupaten Teluk Bintuni  tahun 2023 menurunkan menjadi 18,8 %.

“Kenaikan angka pada jumlah penderita di semester I ini justru menjadi indikator positif, terkait kesadaran ibu datang membawa anak balitanya ke Posyandu. Kami menjadi tahu fakta yang sebenarnya akan kondisi kesehatan balita di masyarakat, yang justru itu akan menjadi bom waktu kedepannya jika tidak terdata dengan baik,” kata Christina Y. Inanosa SKM, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Teluk Bintuni, Selasa (4/7/2023).

Saat ini, jumlah Posyandu aktif di Kabupaten Teluk Bintuni tercatat sebanyak 152 dari 154 Posyandu yang ada. Jumlah kader Posyandu, mencapai 777 orang yang aktif.

Disampaikan Christina, pada 2022 lalu tingkat kesadaran ibu membawa balitanya ke Posyandu relatif rendah, dipicu kekhawatiran terpapar covid-19. Kondisi ini yang kemudian berdampak pada menurunnya jumlah penderita stunting secara signifikan dari tahun sebelumnya.

“Tapi ada juga pengurangan hasil dari upaya kita dalam menangani penderita stunting,” tukasnya.

Dalam menangani penderita stunting, sejak tahun 2021 di Kabupaten Teluk Bintuni telah dilakukan aksi konvergensi untuk pencegahan dan percepatan penurunan stunting. Aksi penanggulangan stunting secara terintegrasi ini diketuai Wakil Bupati Matret Kokop dan menyasar kelompok prioritas dalam percepatan penurunan stunting.

Sejumlah OPD teknis yang terlibat dalam aksi intervensi ini antara lain, Dinas Kesehatan, Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman, Dinas Perikanan, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga Berencana (DP2AKB) serta Bappelitbangda.

Pertemuan lintas sektor peserta aksi konvergensi stunting Kabupaten Teluk Bintuni telah dua kali dilakukan, yakni pada 26-27 Juni 2023 di aula Kartini Ruko Panjang Kalikodok dan 4 Juli 2023 di Aula Bappelitbangda.

Disampaikan Christina, dari pendataan keluarga oleh DP2AKB pada 10 distrik, dari 3.828 keluarga di Kabupaten Teluk Bintuni yang menjadi sasaran aksi ini, terdapat 2.500 keluarga atau 65,31 persen yang berisiko stunting. JP01

Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here