Was-was Ancaman Sawit di Supermarket Alam Hutan Konda

0
117
Hutan Bariat di Distrik Konda menyimpan banyak tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat dan kebutuhan lain. Foto: Tantowi
Spread the love

JOHNY Okomsaru, setengah berlari bergegas menuju rumahnya di Kampung Wamargege, Distrik Konda, Sorong Selatan, Papua Barat. Bersama Nadat Okomsaru, dia memikul celeng sudah tak bernyawa. Babi betina ini hasil buruan di hutan selama tujuh jam, pada 29 Oktober lalu.

Babi hutan itu dia letakkan di samping rumah yang berdinding papan kayu sembari membuang napas, Johny, lega.

“Wuh.. berat sampe..,” katanya sembari menyaput keringat yang meleleh di kening.

Hari itu, Johny turun dari rumah sejak pukul 10.00 pagi, berburu bersama Nadat dan Santo Okomsaru. Tetangga Johny, Leonard Mabruaru, Hendra Oseri dan Susipater Mabruaru juga berburu babi hutan. Mereka dapat dua, satu untuk konsumsi, satu lagi di kandang dan akan diantar ke ke Teminabuan, ada pesanan dari seorang pejabat.

Johny Okomsaru (kiri) memikul seekor babi betina hasil berburu di hutan yang tak jauh dari kampung Konda, Distrik Wamargege, Kabupaten Sorong Selatan pada Sabtu, 29 Oktober 2022. Celeng gendut ini untuk persiapan ‘makan besar’ bersama keluarga. Foto: Tantowi

Berita Terkait: Bersekutu Menjaga Hutan dari Agresi Kebun Sawit

Sabtu adalah hari yang selalu dihabiskan masyarakat Distrik Konda untuk fokus mencari kebutuhan pangan di esok hari. Karena Minggu menjadi hari yang sakral, kesempatan beribadah dan istirahat di rumah tanpa aktivitas lain-lain. Lazimnya, para lelaki pergi berburu ke hutan atau menjaring ikan di laut. Sedang perempuan, menokok sagu di pinggiran hutan atau mencari kerang di belantara akar mangrove yang ada di muara sungai.

Aktivitas perburuan celeng dan rusa di hutan, akan makin intens dilakukan masyarakat Kampung Konda dan Wamargege ketika memasuki akhir November hingga pertengahan Desember. Mereka lebih banyak memasang jerat agar binatang yang terperangkap masih tetap hidup saat dibawa pulang. Binatang hasil buruan itu kemudian disimpan dalam kandang, menunggu pembeli datang dari luar daerah.

“Nanti kalau su masuk Desember kandang banyak isi. Biasanya orang dari Sorong dan Maybrat yang datang beli,” kata Andarias Mabruaru, Kepala Kampung Konda, Distrik Konda kepada Mongabay, 29 Oktober lalu.

Momen inilah yang menjadikan suasana kampung riuh, banyak orang luar hilir mudik belanja babi maupun rusa untuk suguhan Natal. Pundi-pundi rupiah pun mengalir di kampung yang berada di pesisir pedalaman Sorong Selatan ini.

Ketika setok hewan di kandang sudah ludes dan terlipat dalam kantong, giliran masyarakat beramai-ramai turun ke kota untuk berbelanja kebutuhan Natal dan Tahun Baru. Bagi yang kantongnya tebal, akan turun ke Kota Sorong yang durasi tempuhnya mencapai lima jam perjalanan darat. Bagi yang uangnya pas-pasan, cukup ke Teminabuan, ibukota Sorong Selatan yang berjarak sekitar 30 kilometer dari kampung.

Nuansa meriah dibarengi menggeliatnya pergerakan ekonomi warga ini khawatir hilang kalau hutan tempat masyarakat adat meramu menjadi perkebunan sawit. Bagi masyarakat Konda maupun Wamargege, kata Andarias, hutan adalah ibu yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Tak pelak, 178 keluarga di Kampung Konda maupun 362 keluarga di Wamargege, menolak kehadiran perusahaan sawit. Mereka tidak ingin menyengsarakan hidup anak dan cucunya di masa depan, dengan menyerahkan lahan peninggalan leluhur itu ke pemilik modal alias perusahaan sawit.

Markus Meres, warga Wamargege dari Suku Absya mengatakan, 100% masyarakat bergantung hidup dari hutan. “Tapi kalo perusahaan su masuk babat kami pu hutan, tak bisa lagi tong lihat orang pikul babi seperti itu. Tegas kami tolak perusahaan sawit hadir di sini. Kami tidak pernah minta makan dari perusahaan,” katanya.

Kampung Konda dan Wamargege, posisinya berhadapan. Hanya dipisahkan jalan poros yang melintang di tengah. Suku yang mendiami Konda adalah Yaben, Nakna, Absya dan Gemna dengan marga tidak kurang dari 16 gelek (marga). Sedangkan Wamargege, dihuni oleh suku Yaben dengan jumlah 11 gelek.

Dua kampung di Distrik Konda ini masuk dalam incaran PT Anugerah Sakti Internusa (ASI), perusahaan sawit yang berencana membongkar belantara hutan menjadi hamparan kebun. Selain Kampung Konda dan Wamargege, ada juga kampung Bariat, Manelek dan Nakna yang masuk dalam peta konsesi sawit PT ASI.

Seluruhnya ada lima kampung definitif, dan enam kampung persiapan pemekaran. Total luas wilayah Distrik Konda mencapai 612,70 km2, dengan populasi penduduk yang dicatat Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sorong Selatan pada 2021, sebanyak 2.437 jiwa.

Supermarket Alam

Bagi masyarakat Distrik Konda, hutan merupakan sumber pangan sehari-hari. Masyarakat memelihara tumbuhan di hutan sebagai aset yang dapat dijual ketika tumbuhan tersebut telah berbuah. Beberapa jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk dijual adalah langsat, cempedak, durian, mangga dan rambutan.

Hutan bukan hanya supermarket alam yang menyediakan kebutuhan pokok pangan sehari-hari dan buah secara alami. Namun hutan juga menjadi apotek yang menyediakan jenis tumbuhan yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tanaman obat atau obat alam.

Dari penilaian integritas hutan di Kampung Bariat yang dilakukan Yayasan Bentala Pusaka Rakyat pada Agustus 2021, sedikitnya terdapat tiga jenis tumbuhan yang kerap dimanfaatkan masyarakat sebagai obat untuk merauh-rauh ibu hamil dan anak bayi. Bagian tumbuhan yang paling sering diramu adalah daun. Masyarakat lokal sering menyebut tanaman ini dengan nama Gomyak, Mbres dan Renat.

Untuk penawar racun, ada tumbuhan dengan nama lokal Rugun. Bagian yang digunakan dari tumbuhan ini juga daun. Sedangkan getah dan daun pohon Nggrimit, mujarab untuk meredakan batuk, penambah darah dan mengobati paru-paru. Ada lagi tumbuhan bernama lokal Yowon, yang konon ampuh mengobati usus buntu. Kesemua jenis tumbuhan ini, masih satu rumpun dari keluarga Pohon Langsat (Lansium domesticum).

Obat penyembuh katarak, masyarakat Konda lazim memanfaatkan getah pohon munggu, atau meracik kulit batang pohon mgan untuk mencari ikan dengan meracunnya. Nama lain dari jenis tanaman ini dikenal dengan nama Gaharu Buaya (Aetoxylon sympetalum).

Franky Samperante, Direktur Pelaksana Yayasan Pusaka Bentala Rakyat menyebut, tumbuhan gaharu buaya tergolong dalam jenis tumbuhan yang kritis atau jumlahnya di alam sudah sangat sedikit hingga perlu perlindungan.

“Tumbuhan ini juga merupakan jenis tumbuhan yang baru tercatat ditemukan persebarannya hingga Papua karena selama ini hanya ditemukan di Kalimantan Tengah,” kata Angky, sapaan Franky Samperante. 

Kampung Bariat yang menjadi ibukota Distrik Konda, merupakan wilayah adat suku Afsya, sub suku dari suku besar Tehit. Suku Afsya memiliki lima marga, yakni Konjol, Kareth, Kameray, Sawor dan Komendi.

Bentuk ketergantungan masyarakat Tehit terhadap tumbuhan (Etnobotani) yang ada di dalam hutannya, kata Angky, dapat diamati melalui identifikasi tumbuhan yang sering dimanfaatkan oleh manusia. Pemanfaatan yang sering digunakan utamanya adalah sebagai bahan pangan, obat tradisional, bahan papan dan aksesoris budaya. 

Sejumlah perempuan di Kampung Wamargege baru pulang dari aktivitas mencari kerang di kawasan mangrove, Sabtu 29 Oktober 2022. Selain dikonsumsi sendiri, aneka jenis kerang ini juga dijual seharga Rp 150 ribu untuk sekarung bekas beras kemasan 10 kilo. Foto: Tantowi

Melalui metode Forest Integrity Assesment (FIA), di belantara hutan Bariat banyak ditemukan jenis tumbuhan yang batangnya dapat dimanfaatkan untuk membangun rumah, papan dan perahu oleh masyarakat. Salah satu diantaranya memiliki status konservasi genting yaitu kayu besi (Intsia bijuga), yang jumlahnya sudah terbatas di alam.

Tumbuhan ini juga memiliki nilai penting bagi marga Sawor dan Kameray, karena merupakan tumbuhan keramat yang tidak boleh ditebang. Kayu besi juga menjadi tumbuhan penting bagi hewan karena memiliki fungsi sebagai rumah bagi jenis burung tertentu.

“Kami temukan jenis pohon yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan komersil dan penggunaan lokal,” tukas Angky.

Hutan di kawasan Kampung Bariat, Sorong Selatan merupakan kawasan hutan hujan tropis dataran rendah yang memiliki tingkatan pertumbuhan yang berbeda. Pohon yang tumbuh di wilayah ini didominasi oleh pohon yang memiliki diameter 10-40 cm dan beberapa diantaranya memiliki diameter lebih dari 80 cm. Di wilayah ini juga banyak ditemui tumbuhan merambat namun tidak ditemukan jenis yang memiliki diameter lebih dari 10 cm.

Hasil penilaian hutan yang dilakukan Yayasan Pusaka, jenis pohon yang banyak ditemui adalah pohon Cempedak (Artocarpus integer) dengan berbagai ukuran diameter yang ditemukan (kurang 10 – lebih 80). Selain pohon yang masih hidup, ditemukan juga tumbuhan yang sudah tumbang secara alami dengan diameter kurang dari 40 cm. Kata Angky, kehadiran pohon tumbang mengindikasikan bahwa hutan ini mengalami pertumbuhan atau regenerasi sehingga hutan ini dapat digolongkan sebagai hutan yang sehat.

Pohon yang telah tumbang secara alami akan mengalami pelapukan dan menghasilkan nutrisi bagi organisme lain dan sebagai media (rumah) bagi organisme lainnya seperti jamur, lumut bahkan fauna kecil seperti semut, rayap.  

Batang kayu yang tumbang secara alami di hutan Bariat, menjadi mediator tumbuhnya lumut dan jamur. Foto: Tantowi

Tipe tumbuhan yang banyak ditemukan di dalam hutan yang terukur terdiri dari jenis pohon, jenis tali-talian (Liana), dan jenis tumbuhan epifit. Di dalam hutan ini juga terjadi interaksi antar tumbuhan seperti tumbuhan epifit yang menumpang pada pohon inangnya. Tumbuhan epifit yang banyak ditemukan adalah paku sarang burung (Asplenium nidus) dan Senggernas. 

Berdasarkan Forest Integrity Assesment Yayasan Pusaka, di dalam kawasan hutan keramat Mrasa ini juga ditemukan jenis tumbuhan yang bernilai budaya bagi masyarakat. Salah satu diantaranya juga tergolong dalam jenis tumbuhan genting yakni Damar Merah (Vatica rassak). Aksesoris atau benda budaya yang paling banyak ditemukan bahan bakunya di alam adalah noken atau tas asli masyarakat. Sedangkan bagian yang paling umum dimanfaatkan sebagai bahan baku benda budaya adalah daun.

Kesejahteraan semu

Andrianus Kemerai, Kepala Kampung Bariat menyebut, hutan di Bariat merupakan hutan yang sangat sehat karena menyediakan kebutuhan manusia dan hewan. Di wilayah ulayat marga Afsya ini juga menyimpan banyak tempat keramat yang harus dijaga dari tangan-tangan jahil yang akan merusaknya.

PT Anugerah Sakti Internusa (ASI), perusahaan sawit kelompok Indonusa Agromulia tengah mengincar hutan ini untuk dibongkar menjadi hamparan perkebunan. Perusahaan ini mengantongi bekal izin lokasi dan Izin Usaha Perkebunan (IUP) yang diterbitkan Bupati Sorong Selatan pada Desember 2013. Luas lahan yang diberikan mencapai 37.000 hektar.

Jika ambisi perusahaan itu terwujud, Charles Tawaru, Coordinator Project Yayasan Konservasi Indonesia (YKI) Sorong menyebut kesuraman masa depan masyarakat adat sudah menganga di depan mata. Selain menghancurkan biodiversitas hutan, dalam hitungan jangka panjang kebun sawit bukan proyek yang ramah lingkungan.

Charles Tawaru, Coordinator Project Yayasan Konservasi Indonesia (YKI) Sorong.

Konsesi minimal berdurasi selama 30 tahun, akan dimanfaatkan perusahaan untuk menggenjot produktivitas kebun secara maksimal. Penggunaan bahan kimia sebagai pupuk sawit menjadi kelaziman. Jika ini yang terjadi, praktis lahan bekas sawit akan menjadi kawasan tandus yang tak produktif lagi untuk bercocok tanam saat HGU berakhir. Unsur hara dalam tanah menjadi kritis.

“Yang ada lahan itu hanya bisa jadi pemukiman,” kata Charles.

Imbas lain yang bakal dirasa masyarakat selama pohon sawit masih berdiri, adalah sumber air. Sawit merupakan tanaman yang rakus akan air. Satu pohon dalam sehari menyerah antara 8 sampai 16 liter air. Charles mengkalkulasi, jika dalam satu hektar lahan ditanam minimal 100 pohon, maka dari 37 ribu hektar lahan di Konda akan terdapat 3.7 juta pohon sawit yang bercokol selama 30 tahun. Air yang diserap perhari, sebanyak 59,2 juta liter air perhari.

“Bisa dibayangkan bagaimana kondisi sungai yang ada di wilayah ini. Akan terserap habis oleh sawit dan kering,”ucapnya.

Iming-iming kebun plasma sawit yang lazim ditawarkan perusahaan, Charles bilang hanyalah kesejahteraan semu yang menipu. Mengolah kebun sawit membutuhkan ongkos yang tidak sedikit dan keahlian. Dari 37 ribu total luas konsesi, alokasi untuk plasma minimal sekitar 6.000 hektar (20%). Ongkos operasional yang dibutuhkan selama tiga tahun sejak ditanam hingga berbuah, mencapai Rp116,4 juta. Biaya ini tak sebanding dengan harga jual tandan buah segar (TBS) di Papua yang hanya Rp1.000/kg.

Ujung-ujungnya, masyarakat yang tak mampu bertahan akan mengembalikan lahan plasma ini ke perusahaan, dengan kompensasi Rp300 ribu perbulan. Apalagi masyarakat Papua tak biasa mengelola kebun sawit.

“Sampai hari ini, kami tegas menolak hadirnya perusahaan sawit yang akan menghancurkan hutan adat. Kami tidak mau peninggalan leluhur tempat kami meramu, hancur dan tidak bisa dinikmati anak cucu,” kata Andrianus.

Tapi Iwan Kurniawan Niode, kuasa hukum ASI dan PUA menolak jika usaha perkebunan kliennya dicap sebagai perusak alam. Sebaliknya, hadirnya investasi sawit di Sorong Selatan, akan memberikan dampak ekonomi dan sosial kepada masyarakat, seperti terbukanya lapangan pekerjaan.

“Kalau perkebunan sawit disebut merusak alam, mungkin tidak akan pernah ada investasi di bidang ini di Papua atau ditempat lain. Buktinya banyak tuh perkebunan sawit yang tetap jalan,” kata Iwan. (selesai)

———————————-

Liputan ini bagian dari program Journalist Fellowship yang diselenggarakan Mongabay Indonesia dan Kaoem Telapak tahun 2022.

Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here