
BINTUNI, jurnalpapua – Aktivitas eksplorasi dan eksploitasi minyak di Wilayah Kerja (WK) Bintuni Basin Distrik Weriagar Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, oleh PT Petroenergy Utama Wiriagar (PUW), belum memberikan hasil yang sesuai.
Hasil produksi harian, perusahaan mitra KSO PT Pertamina EP Papua Field ini hanya mendapatkan minyak antara 20 sampai 30 barrel (BOPD). Padahal, jumlah ekonomis yang harus diperoleh adalah 200 sampai dengan 300 BOPD, jika perusahaan ini bisa berjalan normal.
“Dari data yang tadi dipaparkan, jujur secara ekonomis untuk sebuah bisnis itu merugi. Kita butuh untuk bisa perusahaan normal dalam operasi, produksinya sekitar 230 BOPD. Sekarang kita diangka 20 – 30. Jadi itu sangat tidak ekonomis buat kami,” kata Robinson Nederupun, Penanggungjawab Lapangan PT PUW, Senin (3/8/2026).
Hasil produksi minyak mentah ini, oleh PUW dikirim ke Kasim Marine Terminal (KMT) di Sorong, untuk diolah menjadi BBM di kilang Pertamina RU VII Kasim.
Dengan luas WK 5,148 kilometer persegi, PT PUW telah terikat kontrak dengan PT Pertamina EP sebagai mitra KSO salama 20 tahun, terhitung sejak 2015. Perjalanan operasi PUW mengalami pasang surut, terkait dengan persoalan di lapangan. Tahun 2018, aktivitas PUW sempat terhenti karena adanya pemalangan.
Pada 6 Juli 2019, hasil pertemuan manajemen PUW dengan Bupati Teluk Bintuni, Kepala Distrik Weriagar, SKK Migas Pamalu, Kodam XVIII Kasuari, Polsek Aranday serta tokoh masyarakat Weriagar, menghasilkan keputusan KSO PUW beroperasi kembali dengan mengoperasikan sumur lama (W-3, W-4 dan W-5).
Baca juga: Marga Bauw dan Patiran Tuntut Denda Adat 500 Miliar Terkait Eksploitasi Migas di Weriagar
Untuk menambah hasil produksi, pada tahun 2023 KSO PUW melakukan tajak (drilling) sumur baru WPL-3. Namun sumur ini akhirnya ditutup kembali, karena yang dihasilkan, 100 persen air.
Dengan kondisi seperti ini, disampaikan Robinson, sejatinya berat untuk maju. Namun dengan keyakinan akan adanya pengembangan sumur baru di Weriagar, PUW memilih bertahan untuk menjalankan operasinya di Weriagar.
“Kami masih menunggu arahan dari pimpinan, seperti apa rencana pengembangan ke depannya,” tukas Robinson. JP01

























