Menjaga Kelestarian Cerita Rakyat Tujuh Suku, Dinas Perpustakaan Teluk Bintuni Gelar Workshop

0
2
Google search engine
Spread the love

BINTUNI, jurnalpapua – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Disperpan) Kabupaten Teluk Bintuni, menggelar workshop penulisan cerita rakyat tujuh suku bersama praktisi literasi, 23 – 25 September 2026.

Workshop ini menjadi rangkaian dari upaya melestarikan warisan budaya masyarakat tujuh suku Teluk Bintuni.

Program ini diawali dengan mengundang para penulis di Teluk Bintuni, untuk mendaftarkan artikel cerita rakyat dari tujuh suku.

Kepala Bidang Perpustakaan Disperpan Teluk Bintuni, Robert I. Parantean, menjelaskan, selama periode pendaftaran dibuka hingga penutupan, terdapat 32 artikel yang diterima panitia.

“Sebanyak 14 naskah telah lolos kurasi tahap pertama. Selebihnya, 18 naskah masih belum lolos karena sejumlah catatan dari panitia dan curator,” kata Robert, Senin (7/9/2026).

Artikel yang lolos kurasi ini, merupakan hasil karya yang ditulis oleh Ronald Fandi Frabun, Glorina Ferdinanda Awak, Andris Kristiono, Dewi Julita Pakpahan, Firna Hahury, Nova Astrid Pattiasina, Tantowi Djauhari, Septon Asmuruf, Katharina Ernesta Londa, Hasnah, Florida Mabaha, George Orolaleng, Joko Royanto dan Ferdinandus Usfinit.

Beberapa catatan tersebut, antara lain karena pengumpulan naskah tidak tepat waktu, kemudian jumlah kata kurang dari 1000 karakter, dan yang ketiga, terdeteksi adanya plagiasi dan penggunaan AI lebih dari 3 poin dalam penulisan naskah.

Untuk 14 artikel yang lolos kurasi, akan diikutkan dalam workshop dan bedah naskah bersama praktisi literasi.

Dari artikel yang terpilih, kata Robert, akan dicetak menjadi sebuah buku dan diterbitkan sebagai aset Dinas Perpan untuk dinikmati masyarakat secara luas.

“Harapan saya, 18 artikel yang belum lolos kurasi, dapat tetap dititipkan di Dinas Perpurtakaan dan Kearsipan untuk diprogramkan dalam penerbitan buku cerita rakyat edisi kedua,” tukas Robert.

Membukukan legenda cerita rakyat tujuh suku Teluk Bintuni, merupakan salah satu upaya menjaga kelestarian budaya masa lalu agar tetap menjadi warisan yang bisa dinikmati generasi masa mendatang.

“Kalau hanya diceitakan secara lisan, lama-lama warisan budaya leluhur ini bisa punah, ketika para tokok adat maupun tokoh masyarakat yang memiliki cerita itu, sudah tidak ada lagi,” kata Robert. JP01

Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here