Energi Berdikari di Kampung Adat Malasigi

0
8
LOCAL HERO - Edison Fami, pemuda Kampung Adat Malasigi menjelaskan tentang perawatan panel solar cell yang menjadi sumber energi di Kampung Adat Malasigi, Senin (27/7/2026). Sebagai anggota Pokdarwis Belembe, Edison dipercaya sebagai pengelola fasiilitas PLTS dan instalasi air bersih di kampung ini. Foto: Tantowi/JP
Google search engine
Spread the love
  • Masyarakat Kampung Adat Malasigi melindungi hutan adat dari ancaman investasi berbasis lahan. SK Perhutanan Sosial menjadi tameng untuk bertahan dari ekspansi perkebunan sawit.
  • Program Matahati Malasigi yang di canangkan Pertamina EP Papua Field, menjadi inisiatif pemberdayaan masyarakat adat di Kampung Adat Malasigi yang berfokus pada pengelolaan hutan lestari berbasis ekowisata.
  • Kampung Adat Malasigi adalah wujud prismatik kerja kolaborasi antarlembaga yang saling menggiatkan tugas dan fungsinya, dengan melepas belenggu egosektoral. Semuanya saling membahu membangun Kampung Adat Malasigi, dengan bertumpu pada landasan konservasi.

KONDA Wooo…

Nulu feee…

Mar mau feee…

Mau fee..

Kali lephe luuu…

LIRIK berbahasa Moi Kelim itu dilantunkan berulang, ditingkahi tarian adat penuh suka ria. Inilah awal keramahan penduduk Kampung Adat Malasigi yang kami rasakan, setiba di gerbang selamat datang, pada Senin, (27/7/2026). Mereka menyambut kami, para jurnalis dan perwira Pertamina EP Papua Field yang bertandang, dengan Tarian Alen.

Atraksi seni tradisional ini dimainkan secara massal oleh laki-laki dan perempuan dewasa, juga anak-anak. Semuanya tampil dengan pakaian adat. Yang laki-laki mengenakan sepotong kain warna merah sebagai bawahan, telanjang dada berkalung untaian manik-manik, dan mahkota khas Suku Moi di kepala. Di tangannya sebilah parang di pegang.  Sedangkan yang perempuan, tubuhnya berbalut kain adat hingga di dada, memegang tongkat kayu dan tas noken yang diselempangkan di kepala. 

Dalam bahasa Moi, Alen memiliki arti ungkapan rasa syukur dan kebahagiaan. Dahulu, tarian ini hanya disajikan khusus untuk pendidikan adat Kambik yang bersifat sakral. Tidak dipertunjukkan ke khalayak umum. Kini, wisatawan di Kampung Adat Malasigi dapat menikmati tarian ini dengan nuansa tradisional yang kental.

“Kami juga mengajarkan kepada anak-anak, supaya tarian ini tidak punah,” kata Hengki Fami, tokoh pemuda Malasigi, yang aktif sebagai salah satu penari.

Dari titik penjemputan, kami diarak diarak menuju bangunan panggung dari kayu yang beratap daun sagu. Tempat ini multi fungsi. Selain sebagai tempat transit tamu, pertemuan rapat, juga sebagai ruang makan bersama.

Selagi tamu melepas penat setelah perjalanan, perempuan muda di Kampung Adat Malasigi yang bertugas menyiapkan tempat menginap, sigap bergerak. Layaknya petugas room service hotel di kota, mereka terlihat lincah membersihkan kasur, merapikan selimut, sprei dan menata bantal. Yang lain, merebus air di dapur untuk menyeduh kopi dan teh.

“Bapak permisi… glampingnya sudah siap. Silakan kalau mau taruh barang-barang di dalam. Yang mau salat, silakan bisa di homestay,” kata Sherlin Komigi, perempuan Kampung Adat Malasigi kepada kami.

Bukan hanya cekatan menyiapkan kebutuhan menginap para tamu. Para perempuan Malasigi juga cakap dalam mengolah makanan hingga cara menyajikan. Untuk keterampilan ini, Charles Toto, koki asal Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua, yang populer dengan sebutan “Jungle Chef”, pernah hadir selama dua pekan menularkan ilmunya di Malasigi.

SIAP SAJI – Mama mama Papua di Kampung Adat Malasigi menyiapkan makanan untuk pengunjung ekowisata. Ini adalah paket pelayaan yang disajikan Pokdarwis Belembe. Foto : Tantowi/JP

Keramahtamahan dan penghormatan masyarakat terhadap setiap tamu yang datang, menjadi kesan yang sulit terlupakan. Adat dan budaya masyarakat yang tersaji dengan sederhana, memberikan pengalaman eksklusif. 

Kampung Adat Malasigi yang berada di Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, adalah perwujudan kolaborasi multipihak dalam pengelolaan hutan secara berkelanjutan berbasis ekowisata. Masyarakat Malasigi mampu membuktikan, bahwa antara adat dan kebijakan pemerintah tak selalu berbenturan.

Masyarakat Kampung Adat Malasigi pun dapat merasakan langsung manfaatnya berupa peningkatan pendapatan melalui aktivitas ekowisata, serta terjaganya hutan di tanah ulayat mereka berkat adanya Hutan Belempe. Hutan Belempe adalah kawasan Perhutanan Sosial seluas 1.750 hektare yang ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Potensi alam di Kampung Adat Malasigi cukup populer di mata internasional. Ekosistem hutannya yang menyimpan keanekaragaman hayati, mulai dikembangkan sebagai sumber ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat.

Identifikasi yang dilakukan Fauna & Flora Tanah Papua, setidaknya 131 jenis satwa liar yang terdiri 95 jenis burung, 13 jenis mamalia, 13 jenis amfibi dan 10 jenis reptil berada di hutan kampung ini. Birdwatching menjadi atraksi primadona yang ditawarkan. Terdapat lima jenis cenderawasih sebagai ‘burung surga’, yang dengan mudah disaksikan.

Keindahan warna bulu cenderawasih kecil (Lesser bird of paradise), cenderawasih mati kawat (Twelve wired bird of paradise), toowa cemerlang (Magnificent riflebird), cenderawasih belah rotan (Magnificent bird of paradise) dan cenderawasih raja (King bird of paradise) menjadikan Kampung Adat Malasigi sebagai destinasi pilihan bagi para pecinta burung kelas dunia.

Burung langka dan endemik di Tanah Papua seperti cekakak pita biasa, paok papua selatan, paok hijau papua, julang papua hingga mambruk ubiaat, juga masih menjadi penghuni belantara hutan kampung ini.

Peta potensi Kampung Adat Malasigi.

Selain  menjadi habitat bagi burung surga dan satwa endemik Papua lainnya, kampung ini juga dilengkapi pemandian air panas alami yang mengalir jernih di Sungai Klaguluk. Go Wo’batiwala,  nama gua karst sepanjang 350 meter dengan chamber luas, akan menambah pengalaman menjelajah. Dengan kombinasi masyarakat Moi yang ramah, menjadikan Kampung Adat Malasigi disebut sepenggal surga yang ada di bumi.

Ragam potensi alam ini dikelola generasi muda Malasigi yang meriung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Belempe, dibawah naungan Lembaga Pengelolaan Hutan Kampung (LPHK) Belempe.

Timothy G. Laman, seorang Wildlife Photojournalist and Filmmaker, kepincut mengabadikan keindahan The Birds of Paradise di Kampung Adat Malasigi. Tim bertandang ke Malasigi pada Sabtu, 30 Agustus 2025. Jepretan foto dan rekaman video kamera ahli arnitologi ini banyak beredar pada channel broadcaster dunia, seperti National Geographic dan BBC Earth.

Deretan nama wisatawan mancanegara lainnya juga tercatat dalam buku tamu. Ada Slim Chabby dari Australia, Laura Suzanne dan Samuel Taveine dari Prancis, Tomas Espinosa (Argentina) atau Helmut Jacob dari Jerman serta Yanauca Holst dari Belanda.

It was an honor to be your first guest. Looking forward to come back,” tulis Nicolas Meyer dari Zurich, Swiss, setelah merasakan 5 hari bertandang di Kampung Adat Malasigi.

Kunjungan para tamu, baik asing maupun nusantara, menjadi sumber pundi-pundi rupiah yang renyah. Kata Manase Fami, Ketua LPHK Belempe, dalam tiga tahun terakhir, rata-rata pendapatan yang dibukukan mencapai Rp 100 juta per bulan. Tak kurang dari 10 trip tamu dalam sehari.

Uang itu dihimpun dari penggunaan homestay Rp 250.000/malam/orang, glamping Rp 150.000/malam/orang, jasa memasak dan menyajikan ke tamu Rp 200.000/hari/paket. Untuk atraksi adat selamat datang yang disuguhkan kelompok penari Alen, jasanya Rp 500.000 untuk sekali tampil.

Hingga kini, Pokdarwis Belempe belum mengutip ongkos dari setiap spot wisata yang ditengok pengunjung. Soal sewa kendaraan menuju Kampung Adat Malasigi dan jasa pemandu wisata, para tamu langsung berurusan dengan sopir dan guide untuk bicara nominal angkanya.

Uang yang terkumpul dari kunjungan ini, dibagikan secara adil ke setiap individu masyarakat yang terlibat sesuai perannya. Selebihnya, disimpan sebagai kas kampung untuk kebutuhan perbaikan maupun perawatan fasilitas wisata.

Efek domino dari kunjungan wisata di Malasigi, adalah terbukanya peluang pasar baru atas kerajinan tangan para ibu-ibu. Mereka yang biasanya merajut noken berbahan kulit kayu untuk kebutuhan sendiri, kini dijual kepada pengunjung sebagai oleh-oleh.

“Harganya tergantung ukuran. Kalau yang kecil-kecil begini, 150 ribu. Kalau yang bisa untuk simpan laptop, 300 ribu. Yang paling besar, 500 ribu,” kata Maria Asmuruf, seorang mama Papua.

NOKEN – Maria Asmuruf menata noken yang dijajakan ke pengunjung ekowisata Malasigi, Senin (27/7/2026). Noken berbahan kulit kayu ini adalah buah tangan mama-mama Papua di Kampung Adat Malasigi. Foto: Tantowi/JP

Di Kampung Adat Malasigi, Maria didapuk sebagai koordinator perajut noket. Tugasnya mengumpulkan noken dari mama-mama Papua untuk dipajang, ketika ada tamu yang berkunjung ke Malasigi.  Setiap noken sudah tertulis harga sekaligus nama pemilik.

“Kalau laku, uangnya kita kasih ke yang punya. Kalau tidak laku, ya kita kembalikan lagi untuk disimpan. Nanti dikumpul lagi kalau ada tamu yang datang berikutnya,” kata Maria.

Hasil menjual noken, diakuinya lumayan sebagai tambahan uang belanja. Satu kali kunjungan tamu, tak kurang dari 5 buah noken terjual. Bahkan bagi Lisbeth Suu, uang hasil jual  noken bisa membiayai dua dari empat anaknya, menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi.

Anak bungsunya, saat ini sedang kuliah di Universitas Negeri Papua (Unipa) di Manokwari, Papua Barat. Anak yang ketiga, sedang menempuh studi Program Sarjana (S1) Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Sorong. Anak nomor dua dan empat, masih istirahat. “Ya dari hasil jual noken ini sudah. Jual noken, jual rica, jual sayur,” kata Lisbeth.

Selain noken, yang juga menjadi kesibukan baru mama-mama Malasigi sejak dibukanya kampung wisata, adalah mengolah keripik pisang. Jika dulu buah pisang yang melimpah di Malasigi hanya dijual mentah ke kota, kini diolah menjadi keripik dalam kemasan, dengan dua varian rasa. Balado dan manis. Ilmu membuat keripik pisang hingga mengemas menjadi produk makanan siap saji, diperoleh dari pembinaan yang dilakukan Pertamina EP.

***

RAMAH – Keramahan terhadap pengunjung menjadi ciri khas masyarakat Kampung Adat Malasigi. Sikap ini menambah suasana nyaman setiap wisatawan yang bertandang menikmati potensi ekowisata di Kampung Adat Malasigi. Foto diambil Senin (27/7/2026). Tantowi/JP

SEJAK tahun 2020, masyarakat Kampung Adat Malasigi berkomitmen menjaga hutan dengan segala habitatnya. Tak ada lagi perburuan satwa endemik dan dilindungi. Tidak juga menebang pohon untuk memuaskan syahwat bisnis para cukong kayu.

Keputusan ini yang melahirkan kepercayaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk menerbitkan SK  Perhutanan Sosial Nomor: SK.8557/MENLHK-PSKL/PKPS/PSL.0/8/2023. SK ini diserahkan Presiden Joko Widodo kepada Manase Fami, Ketua LPHK Belempe, di Jakarta pada 18 September 2023. 

Berbekal surat ini, masyarakat Kampung Adat Malasigi mendapatkan akses secara legal. Tanpa khawatir akan alih fungsi lahan, mereka mengelola hutan kampung seluas 1.750 hektare dengan nilai-nilai adat istiadat yang berlaku di tiap jengkal tanah ulayat yang ada.

Manase Fami, menyebut, dari luas area itu ia membaginya menjadi dua zonasi. Zona Lindung sebagai kawasan untuk menjaga kelestarian biodiversitas hutan, dan Zona Pemanfaatan sebagai kawasan permukiman penduduk, berkebun dan berburu babi hutan atau rusa. Aliran sungai dan tegakkan pohon, dimanfaatkan sebagai batas wilayahnya.

“Hutan itu adalah ibu kita. Jadi tergantung masing-masing marga, siapa yang merawat dan menjaga. Kalau yang berpikir ke anak cucu generasi masa depan, ya berbuatlah dari sekarang sebelum ancaman dari berbagai perusahaan yang datang untuk merusak,” kata Manase.

Sebelum muncul kesadaran ini, pembalakan liar terhadap kayu merbau (Intsia bijuga) di belantara Klayili terbilang masif. Masyarakat menjual kayu yang memiliki derajat premium di pasar internasional ini, antara Rp 200.000 sampai Rp 300.000/m3 kepada cukong lokal.

Perburuan satwa endemik yang dilindungi, juga dilakukan secara bar bar. Cenderawasih, kakatua jambul kuning, nuri kepala hitam, menjadi spesies yang paling diburu untuk memenuhi hasrat kolektor. Manase Fami bilang, semua perilaku kelam ini diperbuat, semata-mata untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga.

Bersama Kafiar Maurits, aktivis Fauna & Flora Tanah Papua, Manase Fami mengajak masyarakat berbalik arah dalam mendulang cuan dari dalam hutan. Tanpa merusak hutan dan biodiversitasnya, kekayaan alam itu akan menjadi sumber peruntungan secara terus menerus. 

Sebagai penggerak masyarakat dalam mewujudkan Kampung Adat Malasigi yang berkarakter dan  berbudaya dalam melestarikan hutan, ada prinsip yang selalu digaungkan Manase Fami; Tanah Ulayat Terjaga, Masyarakat Sejahtera. 

Komitmen masyarakat Malasigi ditunjukkan dengan membangun beberapa fasilitas penunjang ekowisata secara gotong royong. Rumah panggung yang sebelumnya menjadi Balai Kampung, disulap menjadi homestay dengan dua kamar tidur. Lengkap dengan kamar mandi di dalam.

Di bagian halaman, dipermak menjadi area camping ground. Buah kolaborasi dengan para mitra, LPHK Belembe memiliki 10 unit glamping untuk memanjakan tamu yang menginap. Kasur busa yang empuk komplit dengan selimut, handuk, bantal dan guling, ada di dalamnya.

Untuk mengamati cenderawasih dari jarak dekat, masyarakat Kampung Adat Malasigi membangun rumah persembunyian atau hide. Fasilitas ini berdiri pada 2023, hasil kolaborasi dengan Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya.

Terdapat lima hide untuk mengamati cenderawasih kuning kecil (Paradisaea minor), cenderawasih mati kawat (Seleucidis melanoleucus), toowa cemerlang (Ptiloris magnificus), cenderawasih belah rotan (Cicinurus magnificus), paok hijau papua dan paok papua selatan. Semuanya dibangun dengan memanfaatkan kayu yang sudah roboh, bekas tebangan masa lalu.

***

PIALA JUARA – Manase Fami, Kepala Kampung Malasigi yang juga Ketua LPHK Belembe, menunjukkan piala Juara I Anugerah Desa Wisata yang diperoleh dari Kementerian Pariwisata RI, Penghargaan ini diterima Manase Fami di Teater Tanah Airku TMII pada Minggu (14/11/2024). Foto: Tantowi/JP

MINGGU, 17 November 2024. Teater Tanah Airku di Taman Mini Indonesia Indah, menjadi saksi bisu diraihnya penghargaan bergengsi oleh Kampung Adat Malasigi, dari Kementerian Pariwisata RI.

Kampung yang jauh dari gemerlap ibu kota ini, dinobatkan sebagai Juara I Desa Wisata Rintisan dari total 6.061 peserta. Ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 ini, mengambil tema “Desa Wisata Menuju Pariwisata Hijau Berkelas Dunia”.

ADWI yang digelar sejak tahun 2021, merupakan ajang penghargaan Kementerian Pariwisata RI untuk menggali dan mengidentifikasi potensi lokal, guna mendorong kualitas kesejahteraan masyarakat melalui desa wisata sebagai salah satu penggerak ekonomi desa berkelanjutan

Kampung Adat Malasigi disebut sebagai surga bagi penikmat keindahan alam dan satwa liar di bagian barat Pulau Papua. Kampung ini adalah pemekaran dari Kampung Klayili, Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya.

Kampung Adat Malasigi menjadi tempat tinggal bagi Marga Fami dan Komigi, bagian dari suku Moi Kelim. Permukimannya berada di tengah hutan. Bangunan rumah model panggung berbahan kayu beratap seng atau daun sagu. Tersusun rapi memanjang, dikelilingi pepohonan yang rimbun.

Dengan luas sekitar 1.570 hektare, kampung ini dihuni oleh 15 rumah tangga dengan jumlah penduduk 46 jiwa. Bahasa Moi menjadi bahasa sehari-hari yang digunakan dalam berkomunikasi antarmasyarakat setempat.

Untuk menjalankan administrasi pemerintahan, masyarakat Kampung Adat Malasigi dipimpin seorang Kepala Kampung. Juga ada seorang Kepala Adat yang bertugas menjaga norma dan adat istiadat di dalam kampung, khususnya terhadap pengunjung.

Akses menuju kampung ini sejatinya cukup mudah, namun sedikit menantang. Berjarak sekira 50 km dari Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Kota Sorong, perjalanan ke Malasigi dapat ditempuh menggunakan motor trail maupun mobil selama kurang lebih 2 jam.

Untuk keamanan dan kenyamanan, direkomendasikan menggunakan mobil double gardan (4×4), mengingat sebagian besar jalan yang akan dilalui menuju kampung ini masih berupa jalan tanah yang licin saat turun hujan.

“Kaki-kaki mobil ini sudah modifikasi. Saya naikkan 5 senti di bagian suspensinya,” kata Mekiyan Dedai, sopir mobil hilux yang biasa mengantar tamu ke Malasigi.

AIR PANAS – Yoel Fami, seorang pemuda Kampung Adat Malasigi mengantar tamu ke lokasi wisata sumber air panas, Senin (27/7/2026). Untuk menjaga kesakralan adat, wisatawan yang berkunjung ke Malasigi, dilarang jalan sendiri tanpa panduan dari masyarakat lokal. Foto : Tantowi/JP

Para tamu yang datang ke Malasigi, tidak bisa menjelajah sendiri ke tempat-tempat wisata yang ada. Harus ditemani masyarakat setempat sebagai pemandu lokal. Aturan ini berlaku, karena ada hal-hal tertentu yang dianggap pamali.

“Perempuan yang sedang haid, tidak boleh turun di pemandian air panas. Karena itu air belempe (suci),” kata Stepanus Fami, Ketua Adat Malasigi.

Stepanus Fami menjadi orang satu-satunya orang tua di Kampung Adat Malasigi yang mengikuti dan lulus Sekolah Adat Kambik pada tahun 1960. Kambik adalah sistem pendidikan adat Suku Moi yang mengajarkan kepada generasi Suku Moi, terutama laki-laki, tentang kepemimpinan, pengobatan tradisional, pertanian, sosial, adat istiadat, berburu maupun berperang.

Keteguhan menjaga adat istiadat Suku Moi, melindungi wilayah-wilayah sakral, satwa liar, dan kepercayaan terhadap leluhur yang berkaitan dengan hutan, yang menjadi landasan Malasigi dikukuhkan sebagai Kampung Adat pada 8 November 2017.

Bertani, berkebun dan meramu, menjadi sumber penghidupan utama masyarakat Kampung Adat Malasigi. Aktivitas berburu satwa liar seperti celeng dan rusa, kerap dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hasil berburu biasanya dijual ke pusat kota di Aimas atau Kota Sorong.

Nama Malasigi, merupakan gabungan dua suku kata bahasa Moi; Mala yang berarti gunung dan Sigi memiliki arti udang. Secara harfiah, Malasigi memiliki makna; Sebuah gunung yang berbentuk seperti udang.

Dalam tuturan leluhur yang ditularkan secara turun temurun, terbentuknya Kampung Adat Malasigi berawal dari tahun 1969. Marga Fami dan Komigi yang tinggal di atas Gunung Malasigi, turun membuka permukiman baru yang diberi nama Klasanik.

“Kampung ini (Klasanik) menjadi cikal bakal Kampung Klayili, yang menjadi induk dari Kampung Adat Malasigi,” kata Manase Fami, yang dipercaya masyarakat Malasigi sebagai Kepala Kampung.

Kemudian tahun 2015, Marga Fami yang ada di Kampung Klayili, bersepakat mendirikan kampung sendiri di atas tanah ulayatnya dan diberi nama Malasigi. Saat ini, Malasigi masih menunggu proses mendapatkan pengakuan secara administratif sebagai kampung definitif dari Pemerintah Kabupaten Sorong.

Kampung Adat Malasigi, menjadi bagian dari 194 kampung pemekaran di Kabupaten Sorong, yang sudah 10 tahun statusnya terkatung-katung. Selama belum definitif, Malasigi dan 193 kampung lainnya, masih berstatus sebagai Kampung Persiapan.

“Secara administratif masih disebut Dusun, dan menjadi bagian dari kampung induknya,” kata Maklon Wally, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung Kabupaten Sorong, saat saya temui.

Hadirnya ratusan kampung persiapan ini , berawal dari usulan Bupati Sorong Stepanus Malak. Melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 25 Tahun 2015, bupati yang sudah almarhum ini mengusulkan 91 kampung persiapan kepada Kementerian Dalam Negeri, melalui Gubernur Papua Barat. Kemudian pada tahun 2017, Johny Kamuru, Bupati periode berikutnya, kembali mengusulkan 103 kampung persiapan.

Maklon Wally menyebut, dengan segala potensi dan prestasi yang telah dicapai, ia berharap Kampung Adat Malasigi bisa masuk dalam daftar prioritas untuk didefinitifkan.

“Kalaupun dari 194 kampung persiapan itu tidak semua bisa didefinitifkan, harapan saya Malasigi masuk dalam prioritas yang bisa,” kata Maklon.

Segala proses pengajuan syarat administratif kampung persiapan menjadi definitif, Maklon bilang, ranahnya ada di Bagian Pemerintahan, Sekretariat Daerah Kabupaten Sorong. Kementerian Dalam Negeri menjadi puncak penentu atas usulan ini.

Tetapi kata Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Sorong, Adi Bremantyo, proses mengubah status kampung persiapan menjadi definitif, butuh ongkos yang besar. Ada proses penerbitan peta wilayah, yang harus disetujui dan disahkan Badan Informasi Geospasial (BIG).

Adi bilang, dari 30 distrik yang ada di Kabupaten Sorong, saat ini baru dua distrik yang memiliki peta wilayah; Distrik Sorong dan Distrik Botai. Tahun ini, sedianya Bagian Pemerintahan mengajukan pemetaan lagi untuk disahkan BIG, yakni Distrik Buk dan Distrik Klabot.

“Tapi dengan kebijakan efisiensi anggaran, kayaknya batal lagi pengusulannya,” kata Adi.

Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Daerah ini menyebut, prioritas penerbitan peta dilakukan untuk distrik yang berada di wilayah perbatasan. Kepentingannya, agar jelas mana garis wilayah yang legal, ketika terjadi konflik perbatasan dengan kota atau kabupaten tetangga.

Seperti keberadaan Distrik Sorong, posisinya berbatasan dengan wilayah Kota Sorong. Distrik Botai, berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sorong Selatan. Sedangkan Distrik Buk dan Klabot yang akan diusulkan peta wilayahnya, menjadi daerah perbatasan dengan Kabupaten Tambraw dan Kabupaten Maybrat.

***

KAMPUNG WISATA – Dua perwira Pertamina menunggu prosesi adat setiba di Kampung Adat Malasigi, Senin (27/7/2026). Setiap tamu yang berkunjung di kampung ini, akan disambut dengan prosesi adat dan Tarian Alen oleh masyarakat setempat. Foto : Tantowi/JP

EKOWISATA menjadi kunci utama yang membawa berbagai perubahan positif di Kampung Adat Malasigi. Komitmen yang kuat dalam menjaga kelestarian hutan dan keterbukaan masyarakatnya, menjadi modal utama kampung ini berkembang sebagai destinasi ekowisata minat khusus.

Perubahan perilaku masyarakat ini, tak lepas dari kolaborasi yang harmoni antara Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, Pemerintah Kabupaten Sorong, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua Barat Daya, Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Maluku Papua (BPSKL), Kelompok Pengelola Hutan Kabupaten Sorong (KPH), NGO ⁠Fauna & Flora, Yayasan Kasuari Tanah Papua dan Pertamina EP Field Papua.

Senior Officer Commrel & CID Zona 14 Pertamina EP, Amarullah menyebut, Kampung Adat Malasigi berada di area Ring 2 wilayah operasi sumur eksplorasi Kembo milik PEP Field Papua. Berjarak sekira 1 kilometer dari Sumur Kembo, atau 55 kilometer dari Kantor PEP di Kota Sorong.

PEP Field Papua hadir  secara fisik untuk mendukung fasilitas di Kampung Adat Malasigi sejak awal tahun 2024. Dalam kolaborasi ini, kata Amarullah, pihaknya menitik beratkan pada dukungan sarana prasarana kebutuhan pokok, seperti air bersih dan listrik.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas panel surya 8,72 kilowatt peak (kWp) di Kampung Adat Malasigi, telah diaktivasi pada 20 Januari 2025. Jika dikonversi ke PLTD, pemanfaatan panas matahari sebagai sumber energi listrik ini, telah mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) sebanyak 3.600 liter per tahun, atau menghemat duit belanja BBM Rp 36 juta/tahun. PLTS ini juga berpotensi menurunkan emisi hingga 9,022 ton CO2eq/tahun.

Selain sebagai sumber energi lampu jalan, stroom dari PLTS ini juga didistribusikan ke rumah-rumah warga. Saat malam, Kampung Adat Malasigi bak mutiara yang berpendar di balik rimbunnya belantara hutan hujan tropis Papua. LPHK Belempe memasang lampu hias di sejumlah sudut strategis yang menambah elok suasana.

BERPENDAR – Suasana malam di Kampung Adat Malasigi, Distrik Klayili Kabupaten Sorong, Papua Badart Daya. Masyarakat Malasigi memasang lampu penerangan di sejumlah sudut kampung, menggunakan sumber energi dari PLTS yang dibangun PT Pertamina EP Papua Field. Foto: Tantowi/JP

Perhatian terhadap Kampung Adat Malasigi, menjadi upaya Pertamina EP mewujudkan dukungan terhadap pelestarian alam dan pelestarian budaya Suku Moi. Melindungi keanekaragaman hayati, flora dan fauna berdasarkan kearifan lokal sebagai bagian aset bangsa, tertulis dalam Asta Cita Program Kerja Presiden Prabowo pada kelompok Ekonomi Hijau.

Pertamina EP meracik Program Pengembangan Masyarakat Bidang Lingkungan ini dalam kemasan Desa Energi Berdikari (DEB) Papua Community Matahati Malasigi. Ini merupakan salah satu program yang bertujuan mendorong peningkatan perekonomian dan mendukung ketersediaan akses energi baru terbarukan yang andal dan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.

Program ini juga selaras dengan Asta Cita pemerintah dalam hal Swasembada Energi; Mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus menjadikan Indonesia sebagai raja energi hijau dunia dalam bidang energi baru dan terbarukan.

Ardi, Papua Field Manager dalam keterangannya menyebut, program DEB Papua Community Mata Hati Malasigi merupakan salah satu program Community Involvement and Development (CID) Subholding Upstream Pertamina. Program ini berupaya menghadirkan kemandirian energi masyarakat secara berkelanjutan.

Selain mendukung ketersediaan energi bersih, program DEB juga akselerasi atas program pemerintah mereduksi emisi karbon dengan target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Program ini sejalan dengan komitmen terhadap kinerja keberlanjutan perusahaan dalam kerangka Environmental, Social and Governance (ESG), serta mendukung pencapaian agenda internasional Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan 7, 8 dan 13

Dampak ekonominya, selain penghematan hingga Rp36 juta/tahun dari pengurangan penggunaan BBM, juga peningkatan pendapatan LPHK Belempe dari Rp1 juta/bulan menjadi Rp4 juta/bulan.

Meningkatkan produktivitas anggota LPHK Belempe, pemberdayaan belasan keluarga kelompok rentan, mendorong kreativitas masyarakat dalam mengelola hutan secara berkelanjutan, serta perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, menjadi dampak sosial atas program ini. 

“Malasigi ini prospeknya sangat luar biasa. Sebagai kampung perintis, saya pikir kita harus support penuh, dengan target akhir mereka bisa berdiri sendiri,” kata Ardi, sepulang kami dari Malasigi pada Senin (27/7/2026) malam.

Ardi, Papua Field Manager PT Pertamina EP. Foto : Tantowi/JP

Empowerment of Indigenous Communities and Spatial Planning Coordinator Fauna & Flora Papua, Maurits Cristian Kafiar bilang, konservasi adalah kerja yang melintasi ruang dan waktu. Oleh karenanya, meski kewenangan pengelolaan hutan telah ditetapkan, kolaborasi dalam kerja-kerja konservasi adalah keniscayaan.

Kampung Adat Malasigi adalah wujud prismatik dari hasil kerja kolaborasi antarlembaga yang saling menggiatkan tugas dan fungsinya, dengan melepas belenggu egosektoral. Semuanya saling bahu membahu membangun Kampung Adat Malasigi, dengan bertumpu pada landasan konservasi yang kuat.

“Ini adalah praktik kolaborasi yang nyata dan efektif dalam mengharmonisasikan aspek sosial, ekonomi dan ekologi yang berkelanjutan,” kata Maurits.

Bagaikan sebuah mesin, semua unsur telah menyatu menjadi roda gigi yang saling terhubung. Pemerintah dapat mengembangkan program yang kontekstual sesuai bidangnya melalui partisipasi masyarakat yang aktif.

Badan Usaha dapat memberikan tanggung jawab sosial lingkungannya sesuai kebutuhan prioritas masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat menjadi fasilitator pendukung berbagai program pemerintah dan badan usaha agar tepat sasaran. Masyarakat melalui kearifan lokal dan modal sosialnya, menguatkan trust dengan menjalankan berbagai program dengan penuh semangat dan motivasi yang tinggi.

Maurits bilang, budaya saling percaya (mutual trust), saling menghormati (mutual respect), dan saling memberikan manfaat (mutual benefit), adalah kunci keberhasilan dalam menjalin kolaborasi. Dengan kebutuhan dasar yang terpenuhi, biodiversitas yang memberikan manfaat, dan relasi yang saling menguatkan, Kampung Adat Malasigi mampu berdaya melalui konservasi.

***

AIR SUDAH DEKAT – Seorang anak Kampung Adat Malasigi mencuci tangan di sudut ruang makan pengunjung wisata Kampung Adat Malasigi, Senin (27/7/2026). Program Matahati Malasigi yang dicanangkan Pertama EP Papua Field, membuat air bersih di kampung ini mudah diakses warga setempat. foto: Tantowi/JP

TERPENUHINYA dua kebutuhan dasar; listrik dan air, menjadi penyempurna kehidupan masyarakat adat Kampung Adat Malasigi di pedalaman Kabupaten Sorong. Aspek ekonomi, sosial dan budaya, perlahan bangkit beriringan.

Revitalisasi energi bersih melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) oleh Pertamina EP Papua Field, bukan sekadar menjawab kebutuhan dasar masyarakat akan lampu penerangan. Tetapi, energi ini juga telah mempermudah masyarakat mendapatkan air bersih yang layak.

Awalnya, meskipun telah berhasil mengelola ekowisata, Malasigi masih dihadapkan pada keterbatasan pemenuhan kebutuhan dasar, khususnya akses terhadap air bersih. Selama ini, masyarakat memanfaatkan air sungai secara langsung tanpa proses pengolahan. Mereka hanya mengendapkan air di bak penampungan untuk memisahkan padatan tersuspensi.

Kondisi aksesibilitas menuju kampung yang memerlukan kendaraan khusus, serta ketergantungan masyarakat pada genset berbahan bakar fosil dan sistem distribusi air menggunakan mesin pompa alkon (genset modifikasi), menyebabkan tingginya biaya operasional pembelian BBM, sekaligus menimbulkan potensi dampak lingkungan dari emisi karbon yang dihasilkan.

Permasalahan ini berpengaruh secara langsung terhadap kualitas hidup masyarakat adat, kesehatan lingkungan, serta keberlanjutan aktivitas sosial dan ekonomi di Kampung Adat Malasigi.

Kondisi ini yang memantik munculnya Inovasi Revitaleaf (Revitalizing Clean Energy and Biodegradable Water Filtration Using Banana Leaf), sebuah inovasi hijau (green innovation) oleh Pertamina EP. Inovasi revilataleaf memadukan energi hijau dari PLTS berkapasitas 8.720 watt dan bio-degradable filter (Hydro B-Leaf Filter) yang berbahan pelepah pisang.

Inovasi ini dirancang untuk mengintegrasikan pemanfaatan PLTS sebagai sumber energi ramah lingkungan dengan pengolahan air bersih menggunakan limbah pelepah pisang sebagai media filtrasi alami. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada energi fosil, tetapi juga menerapkan konsep zero waste dengan memanfaatkan limbah organik dari sumber daya lokal yang mudah diperoleh dan berkelanjutan. Sistem filtrasi ini mampu meningkatkan kualitas air bersih menjaga kelestarian lingkungan kampung adat Malasigi.

Dalam praktiknya, selain menjadi sumber penerangan rumah penduduk dan fasilitas umum di Kampung Adat Malasigi, energi PLTS juga digunakan sebagai energi penggerak mesin pompa yang menyedot air dari Sungai Klaligi. Air sungai  yang keruh itu, ditampung dalam profil tank berkapasitas 2200 liter, kemudian disaring melewati tabung filter yang menggunakan pelepah pisang. Air bersih hasil filtrasi ini ditampung pada profil tank berkapasitas 5200 liter,  yang kemudian didistribusikan ke rumah penduduk dan fasilitas umum.

“Inovasi ini telah menciptakan solusi komprehensif terhadap masalah energi, air bersih, dan lingkungan,” kata Ardi.

Inforafis program Matahati Malasigi.

Dari aspek sosial, Inovasi Revitaleaf menempatkan masyarakat adat sebagai subjek utama pembangunan. Masyarakat dilibatkan secara aktif mulai dari tahap perencanaan, pembangunan, hingga pengelolaan sistem PLTS dan instalasi filter air bersih.

Dari sisi green innovation, program ini memperkenalkan teknologi ramah lingkungan, antara lain pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 8.720 watt dan sistem penyediaan air bersih dengan bio-degradable filter berbahan pelepah pisang. Menariknya, filter pelepah pisang ini merupakan produk hasil inovasi Yogress, UMKM binaan Pertamina EP Papua Field.

Kedua inovasi ini tidak hanya menjawab keterbatasan infrastruktur dasar masyarakat adat, tetapi juga menjadi model pemanfaatan sumber daya lokal yang berkelanjutan. Selain itu, program ini juga mengedepankan pendekatan ekosistem (ecosystem services) dengan mendukung aktivitas ekowisata minat khusus sebagai strategi ekonomi sekaligus instrumen konservasi.

“Sekarang air bersih su (sudah) dekat, tinggal putar keran di rumah. Tamu yang datang bermalam, juga sudah tidak terganggu suara bising mesin genset,” kata Edison Fami.

Edison Fami adalah pemuda Papua asli Malasigi yang tergabung dalam Pokdarwis Belempe di bawah naungan LPHK Belempe. Edison menunjukkan komitmen kuat dalam mengintegrasikan konservasi alam, nilai budaya lokal, dan inovasi pengelolaan ekowisata berkelanjutan.

Dengan komitmen tinggi terhadap pelestarian alam, Edison menerapkan pendekatan partisipatif yang melibatkan masyarakat secara langsung dalam pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan. Ia memadukan nilai-nilai kearifan lokal dengan inovasi pengelolaan lingkungan sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Sebagai penanggungjawab atas pengelolaan PLTS dan sarana air bersih, Edison secara rutin memfasilitasi berbagi pengetahuan kepada anggota kelompok terkait pengelolaan fasilitas air bersih dan pengembangan ekowisata. Upaya ini dilakukan untuk mempersiapkan Kampung Adat Malasigi sebagai destinasi ekowisata berkelanjutan yang selaras dengan konservasi alam.

Setelah dua hari menjelajah spot pengamatan burung di Kampung Adat Malasigi, Timothy G. Laman pun menuliskan kesannya di buku tamu; Thank you for a great visit. Guest home was very nice and guide very helpful.

Melepas perjalanan pulang para tamu yang telah sudi bertandang, di gapura kampung tertulis kalimat dengan bahasa Moi Kelim; “Mani Pausantili Suk”, yang artinya “Terima kasih, sampai jumpa kembali”.  (tantowi djauhari)

Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here