JAKARTA,jurnalpapua.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi memperkuat pengembangan Language Documentation in Indonesia (LADIN), sebuah platform repository data kebahasaan nasional yang dirancang untuk menyelamatkan bahasa daerah Indonesia melalui sistem digital terintegrasi.
Peneliti dari Pusat Riset Preservasi Bahasa dan Sastra (PR PBS) BRIN, Dwiani Septiana, menjelaskan bahwa LADIN merupakan repositori kebahasaan nasional yang dikembangkan dalam ekosistem Repository Ilmiah Nasional (RIN) BRIN. Pemaparan tentang pengembangan LADIN ini disampaikan dalam rangkaian Workshop on Introduction to Typology of Papuan Languages yang digelar di Gedung Widya Graha BRIN, Jakarta, pada Kamis, 7 Mei 2026 lalu.
Langkah strategis ini diambil sebagai upaya untuk menyelamatkan data kebahasaan Nusantara yang selama ini tersebar di berbagai tempat, belum terstandarisasi, dan rentan hilang akibat minimnya pengarsipan berkelanjutan. BRIN menyadari bahwa Indonesia memiliki kekayaan bahasa yang luar biasa, namun banyak di antaranya terancam punah.
“Selama ini data hasil dokumentasi bahasa, baik dari peneliti, universitas, maupun lembaga internasional, masih tersebar dan belum diarsipkan secara berkelanjutan,” ungkap Dwiani di hadapan para peserta workshop.
Untuk menjawab tantangan tersebut, LADIN dikembangkan dengan mengusung prinsip FAIR (Findable, Accessible, Interoperable, Reusable). Dengan prinsip ini, setiap data bahasa yang masuk ke dalam platform dapat ditemukan, diakses, dioperasikan, dan digunakan ulang secara terbuka dalam jangka panjang oleh berbagai pihak yang membutuhkan.(JP02)











