Dr. Dra. Hj. Sitti Ma’ani Nina, M.Si. CGCAE; Kartini Masa Kini dari Tanah Jawara

0
1
Google search engine
Spread the love

TANGGAL 21 April, menjadi momentum yang selalu mengulik sosok perempuan tangguh yang populer dengan nama Raden Ajeng Kartini. Di tanggal itu, putri bangsawan Jawa, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir, dan dikenang dalam memperjuangkan kemerdekaan dan kedudukan kaumnya. Kegigihannya di masa lalu, membuat Raden Ayu Kartini, nama lain dari Raden Ajeng Kartini, telah ditahbiskan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Kemerdekaan Indonesia. Kini, keharuman namanya telah menjadi kiblat kaum perempuan yang juga gigih berjuang sesuai masanya.

Di Provinsi Banten, terdapat sosok yang menapaki perjuangan Kartini. Namanya Sitti Ma’ani Nina. Meski jauh dari sepadan jika disandingkan dengan Sosok Kartini, namun kiprah Perempuan yang akrab disapa Nina, cukup memberi warna bagi kaumnya.

Kariernya di dunia birokrasi, memberikan banyak tantangan dan pelajaran. Baginya, menjadi ASN adalah pilihan untuk pengabdian seumur hidup. Ia selalu memegang prinsip; Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.

“Prinsip itu menjadi pengingat agar saya tidak berhenti belajar, tidak mudah menyerah, dan selalu menjaga niat tulus dalam setiap langkah,” tegasnya.

Nina juga percaya bahwa seorang perempuan dapat menjadi pemimpin tanpa harus kehilangan sisi lembutnya. Dalam setiap keputusan, ia berusaha mengedepankan keseimbangan antara ketegasan dan empati. Di tengah kesibukan sebagai pejabat publik, Nina tetap berupaya menjalankan peran sebagai istri dan ibu. Karena dari keluarga, ia belajar arti sebenarnya dari ketulusan dan kekuatan.

“Perjalanan ini belum selesai. Masih banyak yang ingin saya lakukan untuk masyarakat Banten,” katanya.

Sitti Ma’ani Nina, kini duduk sebagai Inspektur di Pemerintahan Provinsi Banten. Keberhasilan bukan diukur dari jabatan yang dicapai, tetapi dari seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan untuk orang lain. Itulah makna sejati dari mengabdi dengan hati dan melangkah dengan integritas.

Perjalanan karir birokrasi alumnus Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) ini, dimuali dari penugasan sebagai staf Kelurahan Kota Baru di Pemerintah Kabupaten Serang, sekitar tahun 1990-an. Sembari berkarir, lulusan SMAN 15 Bandung ini melanjutkan pendidikan jenjang S3.

“Saat itu, dunia birokrasi masih sangat kental dengan sistem manual dan penuh tantangan. Saya belajar banyak hal mulai dari ketelitian administrasi, disiplin waktu, hingga cara berkomunikasi dengan masyarakat dan rekan kerja. Seiring terbentuknya Provinsi Banten, saya bergabung dengan Pemerintah Provinsi Banten,” kenang lulusan S3 kelahiran Bandung, 12 Oktober 1968 ini.

Di lingkungan Pemprov Banten, perjalanan kariernya berlanjut melalui berbagai jabatan. Dari urusan kepegawaian hingga komunikasi publik. Nina pernah dipercaya menjadi Kabag Protokol, Kabag Dokumentasi, hingga menjabat Kepala Biro Humas & Protokol.

Setiap posisi memberikan pelajaran baru: tentang tanggung jawab, keteladanan, dan pentingnya menjaga kepercayaan publik. Bahkan ia sempat memimpin Biro Pemerintahan dan Biro Umum Setda Provinsi Banten, dua posisi yang mengajarkannya makna koordinasi lintas sektor dan pengelolaan sumber daya secara efektif.

Sebelum menjabat sebagai Inspektur, Nina mengemban amanah sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Provinsi Banten pada 2017. Sejak Februari 2025 sampai bulan Oktober, Nina merangkap sebagai Plt. Inspektur Daerah Provinsi Banten.

“Dua peran ini memiliki tantangan yang berbeda, namun saling melengkapi. Di DP3AKKB, saya berjuang bersama tim untuk mewujudkan masyarakat Banten yang ramah perempuan dan layak anak, melalui berbagai program pemberdayaan, perlindungan, kependudukan dan pencatatan sipil serta peningkatan kualitas keluarga. Sementara di Inspektorat, saya berupaya memperkuat tata kelola pemerintahan yang bersih dan berintegritas,” jelasnya.

Sebagai bentuk profesionalisme, Nina juga berkomitmen untuk terus belajar. Salah satunya dengan meraih sertifikat CGCAE (Certified Government Chief Audit Executive), sebagai bukti keseriusan dalam mengembangkan kompetensi di bidang pengawasan dan audit pemerintahan.

Sertifikat ini bukan hanya simbol, tetapi juga tanggung jawab untuk memastikan setiap proses pemerintahan berjalan transparan, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan publik. Di era serba digital ini, tantangan dan rintangan yang dirasakan Nina cukup besar karena menyentuh dua ranah penting dalam kehidupan karier dan keluarga.

Sebagai perempuan yang aktif dan adaptif di dunia kerja, Nina menghadapi kenyataan bahwa teknologi berkembang sangat cepat, sementara sumber daya, waktu, tenaga, dan modal sering kali terbatas. Kesenjangan teknologi dan literasi digital masih menjadi kendala, terutama dalam menyesuaikan diri dengan sistem kerja berbasis digital.

“Dalam perjalanan karier saya telah melewati banyak masa dari era mesin ketik hingga kini ketika hampir semua pekerjaan dilakukan melalui sistem digital. Perubahan itu luar biasa cepat. Namun bagi saya, yang paling berat bukan sekadar belajar teknologi baru, melainkan menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah dunia yang serba otomatis,” paparnya.

Nina pun bersyukur dapat mengikuti masa transisi itu. Ketika ia memulai karier sebagai ASN muda di Kabupaten Serang, semua dilakukan manual seperti menulis surat, mengetik laporan, menyusun arsip. Kini semuanya serba digital efisien, tetapi juga menuntut kemampuan beradaptasi yang tinggi.

“Saya belajar untuk tidak takut dengan perubahan. Saya selalu percaya, pemimpin harus menjadi contoh pertama yang siap belajar hal baru, bukan hanya menyuruh orang lain menyesuaikan diri,” tambahnya.***

Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here