JAKARTA,jurnalpapua.id – Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 yang jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026, akan segera menyapa masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Tahun ini menandai dimulainya era Shio Kuda Api (Bǐng Wǔ), sebuah siklus dalam kalender lunar Kongzili yang diyakini membawa energi perubahan yang dinamis hingga 5 Februari 2027 mendatang.
Seperti perayaan tahun-tahun sebelumnya, dominasi warna merah dipastikan akan kembali menghiasi setiap sudut kota, mulai dari dekorasi lampion hingga busana para perayak. Namun, penggunaan warna mencolok ini bukanlah sekadar urusan estetika atau tren fesyen semata.
Secara filosofis, masyarakat Tionghoa memandang warna merah sebagai representasi dari elemen api. Elemen ini merupakan simbol universal bagi kekuatan, gairah, dan vitalitas hidup. Mengenakan pakaian merah dari ujung kepala hingga kaki dipercaya sebagai bentuk afirmasi diri untuk memicu semangat baru dalam menghadapi tantangan di tahun yang baru.
“Merah bukan hanya soal kemeriahan. Bagi kami, warna ini adalah magnet keberuntungan yang dipercaya mampu membuka pintu rezeki sekaligus membentengi diri dari aura negatif atau nasib buruk,” ungkap narasi tradisi yang mengakar kuat di kebudayaan Tionghoa.
Selain sebagai simbol keberuntungan, warna merah juga memiliki akar sejarah sebagai alat perlindungan. Dalam mitologi Tiongkok, warna ini digunakan untuk mengusir makhluk jahat dan mendatangkan kedamaian.
Dengan kehadiran Tahun Kuda Api yang dikenal penuh energi dan keberanian, penggunaan warna merah pada Imlek 2026 ini diharapkan menjadi katalisator bagi masyarakat untuk menjemput masa depan yang lebih cerah dan penuh optimisme. Perayaan kali ini bukan sekadar pesta pora, melainkan refleksi harapan agar ritme hidup setahun ke depan senantiasa dinaungi keberkahan dan semangat yang tak kunjung padam.(JP02)


















