Bupati Anisto: Lulusan P2TIM Belum Terserap Optimal di Industri Migas Teluk Bintuni

0
435
Bupati dan Wakil Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy - Joko Lingara, saat pertemuan dengan pimpinan dan anggota Komisi XII DPR RI, Gubernur dan Kapolda Papua Barat di Manokwari, Senin (27/10/2025). Foto: Dok. Prokopim Setda Teluk Bintuni.
Google search engine
Spread the love

BINTUNI, jurnalpapua – Lulusan Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas (P2TIM) yang dikelola Petrotekno di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, disebut belum terserap secara optimal pada industri migas.

Penegasan ini disampaikan Yohanis Manibuy, Bupati Teluk Bintuni dalam pertemuan dengan pimpinan dan anggota Komisi XII DPR RI, Gubernur Papua Barat, Kapolda Papua Barat, dan sejumlah pejabat penting dari Direktorat Minerba Kementerian ESDM serta para Bupati se-Papua Barat di Manokwari, Senin (27/10/2025).

“Saat ini memasuki bacth ke 19, telah meluluskan sekitar 1700an lebih tenaga kerja. Namun belum terserap secara optimal pada industri migas di Kabupaten Teluk Bintuni,” kata Bupati Yohanis Manibuy.

Padahal, pembiayaan yang dialokasikan untuk P2TIM dalam APBD, kata Bupati, cukup besar. Berbagai keahlian dan keterampilan yang diajarkan, diantaranya electrical, mechanical, pipefifter, rigger, scafolder dan welder.

Pelatihan di P2TIM oleh Petrotekno, proyeksinya adalah untuk mengurangi angka pengangguran di Kabupaten Teluk Bintuni. Disampaikan Bupati, angkatan kerja di Kabupten Teluk Bintuni tahun 2024, sebanyak 47.728 orang. Dari jumlah itu, yang bekerja 46.218 orang dan yang masing menganggur 1.510 orang. Dengan demikian, angka pengangguran terbuka di Kabupaten Teluk Bintuni, sebesar 3,16 persen.

Penyerapan tenaga kerja lokal pada perusahaan migas, masih terbatas pada tenaga unskill, mengingat kebutuhan tenaga kerja dibidang migas, baik pada masa prakonstruksi, konstruksi dan operasi, sebagian besar membutuhkan tenaga skill dan semi skill.

Belum optimalnya lulusan P2TIM diserap industri migas, juga menjadi perbincangan di media sosial dan diskusi di grup percakapan WA. Seperti disampaikan pemilik nomor WA 082189xxxx08, yang menyebut dirinya masih menganggur.

“Yang kami tahu, banyak lulusan P2TIM masih menunggu pekerjaan, bahkan sebagian sudah kembali ke kampung karena tidak terserap di proyek-proyek migas yang katanya untuk masyarakat lokal,” katanya.

Dari angkatan pertama hingga angkatan 18, kata pemilik nomor ini, total ada sekitar 1.780 orang yang sudah lulus dari P2TIM Teluk Bintuni. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 50 orang yang bekerja di LNG Tangguh, dan sekitar 20 orang di PT IWIP. Sisanya, masih belum mendapatkan pekerjaan.

“Tidak benar ada yang bekerja di Qatar dan luar negeri seperti yang diberitakan di media,” katanya.

“Belakangan ini beredar postingan yang bilang P2TIM jadi bukti masyarakat lokal tak lagi jadi penonton. Lucu juga klaim itu, seolah realita di lapangan bisa disulap dengan caption manis dan angka asal comot,” tulisnya.

Bahkan pemilik nomor ini juga memposting ulang postingan seorang ibu yang mengeluh di akun medsosnya, karena anak perempuannya tidak ada uang tiket untuk pulang ke Teluk Bintuni. Padahal, katanya, anak perempuannya ini dikirim ke Batam untuk bekerja.

Postingan ini diikuti narasi “Kaka ini salah satu contoh keluhan dari seorang ibu yang anaknya lulussan P2TIM TB. Yang saat ini berada di Batam. Ini contoh kasus yang perlu kami audiens di depan pejabat dinas Perindagkop dan DPRD”. JP01

Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here