
- Kilang RU VII Kasim menjadi satu-satunya kilang PT KPI di Indonesia Timur dengan desain kapasitas pengolahan 10 million barrel oil per day (MBOPD).
- Berdiri di area seluas 80 hektare, Kilang Kasim sedang pengembangan infrastruktur (open acces project/OAP) untuk menerima pasokan crude oil dari pemasok selain Petrogas Basin.
- Dibangun pada tahun 1995, 50 persen pekerja organik Kilang Kasim adalah Orang Asli Papua (OAP).
DAVID Rumbiak tengah menuntaskan persiapan perayaan Natal Bersama Mahasiswa Papua yang akan digelar di Kalimantan Tengah, 30 Desember 2025. Sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Papua kota studi Samarinda (Himapasa), Kalimantan Timur, David mendapat mandat menjadi utusan yang akan hadir.
Tuing… Suara notifikasi di ponsel android yang sudah tiga kali berganti LCD, muncul di layar. David memeriksa, apa isi pemberitahuannya. Dari kamar kos ‘kuburan’ di Jalan Pramuka Kota Samarinda, tiba-tiba ia bersorak kegirangan. Antara senang dan rasa tak percaya.
Sebagai mahasiswa yang tengah berjuang alih jenjang dari dari D-3 ke S-1 di Universitas Mulawarman (Unmul), David Rumbiak dinyatakan lolos seleksi dan masuk dalam penentuan perusahaan. Pemberitahuan yang membuatnya sulit tidur itu ia terima melalui surat elektronik pada 28 Desember 2025.
“Ulang-ulang saya scroll layar itu. Mau tidur pun, saya masih scroll–scroll. Rasanya masih belum percaya, saya dinyatakan lolos untuk mengikuti tahapan seleksi berikutnya,” kata David Rumbiak, Selasa, 14 Oktober 2025.
Sebelumnya, pemilik nama lengkap David Charles Rumbiak yang lahir di Jayapura, 10 Desember 1997 ini, kembali mendaftar di Rekrutmen Bersama BUMN 2020, setelah gagal dalam pendaftaran di tahun 2019. Ini adalah program rekrutmen tenaga kerja untuk 51 BUMN yang digagas Kementerian BUMN dan Forum Human Capital Indonesia (FHCI).
Lowongan pekerjaan yang dibuka hingga 20 November 2020 ini, dikhususkan untuk putra putri Papua dan Papua Barat. Kala itu, Tanah Papua belum terpecah menjadi enam provinsi, dengan penambahan empat provinsi baru; Papua Pegunungan, Papua Selatan, Papua Tengah dan Papua Barat Daya.
Yang membuat David tidak percaya, tersebab disiplin ilmu yang ia pelajari sejak kuliah D-3 di Politeknik Negeri Samarinda (Polnes). Hingga lulus pada 2019, David memilih jurusan Administrasi Bisnis. Begitu juga saat peralihan jenjang S-1 di Unmul, ia masih setia di jalur yang sama.
“Yang ada di otak saya itu kan, kalau kerja di Pertamina harus punya disiplin ilmu teknik pertambangan atau perminyakan. Sedangkan saya jurusan Administrasi Bisnis. Ini yang saya bingung,” tukas anak ketiga dari enam saudara ini.

Sejak dinyatakan lolos pada 28 Desember 2020, David berhak mengikuti interview oleh tim rekrutmen Pertamina yang dilakukan secara online pada 9 Januari 2021. Lolos di tahap ini, David terpaksa meninggalkan kamar kos dan bangku kuliah yang baru lima bulan diikuti, untuk menjalani medical cek up (MCU) di salah satu klinik di Jayapura pada 28 Januari 2021.
“Saya dinyatakan lulus seleksi tahap akhir pada 21 Maret 2021, dan mulai penempatan kerja di Kilang Kasim pada 1 April 2021. Sejak masuk sampai saat ini, saya kerja di bagian HC Workforce Services. Menjadi bagian di fungsi enabler,” kata David.
Masuk dari jalur Rekrutmen Bersama BUMN, David tidak sendirian. Di PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit (RU) VII Kasim, terdapat tiga anak Papua lainnya yang seangkatan dengannya. Ada Jeanne Kaiba dan Gloria Torey dari Sorong, serta Maria Sanadi Korwa dari Manokwari.
Area Manager Communication, Relation, CSR & Comp. PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU VII Kasim, Ferdy Saputra, menyebut, 50 persen pekerja organik di Kilang Kasim, adalah Orang Asli Papua (OAP). Saat ini, jumlah pekerja yang tercatat di Human Capital sebanyak 142 orang, yang terbagi di dua fungsi; enabler dan fungsi core. Dalam operasional, lokasi Kilang Kasim yang berada di remote area, menjadikan satu-satunya kilang Pertamina yang menerapkan pola kerja on off.
Kehadiran Kilang Kasim tidak hanya menjaga ketahanan energi nasional, namun juga menjadi tanda kehadiran negara dalam menghadirkan energi bagi semua masyarakat. Kilang Kasim turut memberikan dampak positif dengan membuka lapangan kerja serta mendorong pertumbuhan ekonomi khususnya di wilayah Timur Indonesia. ***
Dapur Mungil
PT KPI adalah Subholding Refining & Petrochemical PT Pertamina (Persero) yang merupakan bagian dari strategic holding company. PT KPI mengembangkan investasi dan menjalankan bisnis Pertamina terkait pengolahan minyak bumi serta bahan lainnya menjadi produk-produk bahan bakar, pelumasan, petrokimia dan farmasi serta pengembangan bisnis pengolahan dan petrokimia.
Dalam operasionalnya, KPI memiliki enam Refinery Unit (RU) yang berdiri di Sumatera hingga Papua. Kilang RU II Dumai, di Riau, RU III Plaju, Palembang, RU IV Cilacap, Jawa Tengah, RU V Balikpapan, RU VI Balongan di Indramayu, Jawa Barat serta Kilang RU VII Kasim, di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.
RU VII Kasim menjadi satu-satunya kilang di Indonesia Timur yang berperan dalam rantai suplai kebutuhan energi di wilayah Papua-Maluku (PAMALU). Dibandingkan lima kilang KPI lainnya, Kilang RU VII merupakan kilang terkecil, dengan kapasitas pengolahan 10 million barrel oil per day (MBPOD). Di RU II Dumai, kapasitas terpasangnya 170 MBOPD, RU III Plaju (126 MBPOD), RU IV Cilacap (348 MBPOD), RU V Balikpapan (360 MBOPD) dan RU VI Balongan (150 MBOPD).
Sebelumnya diambil alih KPI, dapur BBM ini dikelola oleh PT Pertamina (Persero). Perubahan peran tersebut ditandai dengan pengukuhan PT KPI sebagai Subholding Refining & Petrochemical dan bagian dari pembentukan Holding Migas. Perubahan peran ini, diikuti dengan pengangkatan Dewan Komisaris dan Direksi PT KPI yang baru.

Kilang Kasim yang berlokasi Distrik Seget, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, memiliki fungsi strategis dalam memberikan rasa keadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia terkait penyediaan energi. “Keberadaan Kilang Kasim merupakan salah satu wujud kiprah Pertamina memberi energi bagi seluruh wilayah Indonesia, dari wilayah Barat hingga ke wilayah Timur Indonesia,” kata Pjs. Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani, melalui siaran persnya, 14 Oktober 2025.
Sebelumnya, kebutuhan BBM di beberapa wilayah di Papua dipasok dari Kilang Balikpapan. Dengan beroperasinya Kilang Kasim maka kebutuhan BBM di khususnya Papua dan Maluku dapat dipasok dari kilang ini. Selain menjadi salah satu mata rantai ketahanan energi, keberadaan Kilang Kasim telah memacu pembangunan di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Sebagai anak perusahaan Pertamina, KPI menjalankan bisnis utama di bidang pengolahan minyak dan petrokimia dengan prinsip Environment, Social, and Governance (ESG).
Sejak dibangun pada tahun 1995 dan mulai beroperasi pada Juli tahun 1997, Kilang RU VII Kasim didesain untuk mengolah minyak mentah jenis Walio Mix dari Petrogas Basin Ltd (dulu Petrochina). Kapasitas terpasangnya sebesar 10,000 barrel minyak mentah per hari. Saat ini, pasokan bahan baku yang diterima Kilang Kasim dari Petrogas Basin rata-rata 150,000 barrel per bulan.
Dibangun di atas lahan seluas 80 hektare, fasilitas pengolahan minyak mentah yang ada di RU VII Kasim saat ini adalah Crude Distillation Unit (CDU). Ini adalah sarana untuk mengolah minyak mentah (Walio Mix Crude Oil) melalui pemisahan fraksi berdasarkan titik didihnya menjadi produk Light Naphtha, Heavy Naphtha, Kerosene, Diesel, dan Residue.
Kemudian ada Naphtha Hydrotreating Unit (NHTU), yang berfungsi menghilangkan kandungan sulfur pada heavy naphtha sebelum diolah pada unit selanjutnya (CRU), Catalytic Reforming Unit (CRU) untuk meningkatkan nilai Research Octane Number (RON) naphtha dari rata-rata 80 menjadi reformate RON 92 sebagai bahan blending Pertalite.
Di Kilang Kasim juga dilengkapi fasilitas Tankfarm & Jetty, yang merupakan area penampungan bahan baku, produk setengah jadi, maupun produk jadi untuk selanjutnya dikirimkan ke kapal menuju Wayame. Sebagai fasilitas penunjang, ada sarana utilities untuk memproduksi air, steam, dan listrik serta pengaturan pendistribusiannya.
Namun dengan fasilitas yang ada, kata Ferdy Saputra, Area Manager Communication, Relation, CSR & Comp. PT KPI RU VII Kasim, tidak semua crude oil dapat diolah di Kilang Kasim. Kondisi ini tersebab adanya batasan spesifikasi tertentu seperti kandungan sulfur dan Total Acid Number (TAN), yang apabila melebihi ambang batas maka akan berpotensi menimbulkan kerusakan pada peralatan kilang dan mengurangi masa pakai peralatan tersebut. Untuk mengantisipasi kondisi itu, Ferdy bilang, ”setiap crude yang di suplai dari pemasok telah terlebih dahulu dipastikan spesifikasinya agar tetap sesuai dengan batasan yang ditentukan”.
Produk yang dihasilkan Kilang Kasim, awalnya jenis BBM Premium, Solar dan Minyak Tanah (Kerosene). Seiring perubahan kebijakan spesifikasi produk BBM oleh Dirjen Migas serta berbagai program inovasi, optimasi, dan upaya yang telah dilaksanakan oleh pekerja RU VII Kasim, saat ini Kilang Kasim mampu memproduksi BBM jenis Pertalite, Biosolar-B40, serta Industrial Fuel Oil (IFO, sebagai bahan bakar kapal). Kilang Kasim belum dapat memproduksi avtur, lantaran spesifikasi minyak mentah yang diterima belum sesuai.
”Kapasitas produksi aktual saat ini rata-rata 6000 barrel minyak mentah per hari, dikarenakan menyesuaikan suplai dan produksi minyak mentah dari Petrogas Basin Ltd,” kata Ferdy, melalui keterangan tertulisnya pada Selasa, 14 Oktober 2025.
Produksi Biosolar-B40 yang mulai dijalankan pada 1 Januari 2025, merupakan implementasi KPI dalam menjalankan mandatori pemerintah untuk program Biodiesel 40 persen atau B40, sebagai bahan bakar nabati (BBN) guna mendukung swasembada energi. Biosolar-B40 merupakan campuran bahan bakar nabati berbasis CPO atau sawit, yaitu fatty acid methyl esters (FAME) dengan komposisi 40 persen, dan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar 60 persen.

Program mandatori B40 ini tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No 341.K/EK.01/MEM.E/2024 tentang Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel Sebagai Campuran Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Solar Dalam Rangka Pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit sebesar 40 Persen.
Langkah KPI ini sejalan dengan agenda Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto terkait ketahanan dan swasembada energi, serta target Pemerintah mencapai Net Zero Emission di tahun 2060. Pemerintah bahkan menyiapkan rencana peningkatan lebih lanjut ke B50 pada 2026.
Selain di Kilang Kasim, Biosolar-B40 juga diproduksi Kilang Plaju di Palembang. Kesiapan sarana dan fasilitas di dua kilang tersebut, menjadi landasan dalam menjalankannya mandatori. Target produksi masing-masing kilang sebanyak 15.898 KL per bulan (Kilang Kasim), dan sebesar 119.240 KL per bulan (Kilang Plaju). Dalam penyaluran perdana pada 14 Januari 2025, Kilang Kasim di Papua Barat Daya menyalurkan 4.600 KL, dan Kilang Plaju sebanyak 5.000 KL.
Produksi Biosolar diimplementasikan sejak Januari 2019 dengan produk Biosolar B20, dan terus ditingkatkan komposisinya secara bertahap menjadi B30 dan meningkat lagi menjadi B35 pada 2023. Komposisi berada di angka B40 pada awal 2025.
Produk BBM hasil olahan Kilang Kasim, didistribusikan satu pintu ke PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Wilayah Papua Maluku Region VIII, selaku Subholding Commercial & Trading (C&T) Pertamina. Berdasarkan historical pengapalan produk, mayoritas hasil olahan ini di suplai ke Terminal atau Depot BBM Wayame dan Depot BBM Tual. ”Dari sini, nanti PPN yang akan mengatur pendistribusian lebih lanjut agar dapat memenuhi kebutuhan BBM di wilayah Papua Maluku,” tukas Ferdy.
Integrated Terminal (IT) Wayame, menjadi titik utama distribusi BBM di Papua Maluku. Area Manager CommRel & CSR Papua Maluku PT Pertamina Patra Niaga, Ispiani Abbas, menyebut, dari IT Wayame, BBM didistribusikan ke 21 Terminal BBM yang tersebar di Maluku (7 terminal), Maluku Utara (4 terminal), Papua (3 Terminal), 3 Terminal di Papua Barat, 2 di Papua Selatan, 1 di Papua Tengah dan 1 terminal di Papua Barat Daya. Khusus untuk pengisian bahan bakar pesawat, terdapat 12 depot. Untuk sampai di konsumen, PPN Papua Maluku memiliki 924 lembaga penyalur.
”BBM yang kita tampung di IT Wayame, berasal dari Kilang Pertamina Balikpapan dan Kilang Pertamina RU VII Kasim,” kata Ispiani Abbas, 2 Oktober 2025.
Ispiani menyodorkan data realisasi penyaluran BBM Subsidi dan Non Subsidi di Papua Maluku tahun 2024, sebagai gambaran kuota BBM di wilayah operasinya. Tahun lalu, BBM jenis Pertalite (BBM Subsidi) terdistribusi sebanyak 498.221 kiloliter (KL), Pertamax 264.579 KL, Bio Solar (Subsidi) 181.078 KL, Dexlite 84.204 KL, Pertamina Dex 1.575 KL dan Minyak Tanah 311.791 KL. Dari jumlah ini, BBM produksi Kilang Kasim berkonstribusi antara 7 sampai 8 persen.
Penentuan jumlah kebutuhan atau kuota BBM Subsidi di Papua Maluku, Ispiani bilang, dilakukan pemerintah melalui Kementerian ESDM, setelah menghimpun data kebutuhan secara berjenjang, dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Kementerian Kelautan dan Kementerian Pertanian, juga menghimpun data kebutuhan. Seluruh data tersebut, dikumpulkan di Kementerian Keuangan.
Di Kementerian Keuangan, kemudian dibahas bersama Badan Anggaran DPR RI dan diputuskan dalam Rapat Paripurna besaran nilai kuota, sesuai dengan kemampuan APBN tahun selanjutnya. “Nilai rupiah anggaran itu yang kemudian dikonversi dalam volume liter BBM Subsidi dan kilogram LPG 3 kg, yang dibagi ke seluruh kabupaten kota se-Indonesia, termasuk di Papua dan Maluku,” urai Ispiani.

Berbeda dengan di Pulau Jawa. Kondisi geografis Papua dan Maluku yang berupa pegunungan dan kepulauan, menjadi tantangan tersendiri bagi PPN dalam mendistribusikan BBM hingga ke masyarakat. Akses antarkota dan kabupaten yang tidak seluruhnya terhubung dengan jalur darat, menyebabkan proses pendistribusiannya menjadi multimoda transportasi. Laut dan udara. “Kondisi cuaca juga menjadi faktor yang sangat menantang,” tukasnya.
Kendati demikian, PPN berkomitmen memberikan hak yang sama antara orang Papua dan Maluku dengan masyarakat Nusantara lainnya. Soal harga, PPN menggulirkan program BBM Satu Harga. Urusan ketersediaan komoditas, PPN menjalankan manajemen resiko dalam distribusi BBM di Papua Maluku. Caranya, menambah volume diatas kuota sebagai stok cadangan di Terminal. Fungsinya, ketika terjadi cuaca ekstrim di laut, masih ada ruang bagi terminal untuk memenuhi kebutuhan BBM di lembaga penyalur.
Selain itu, untuk menjaga stabilitas pasokan, PPN merancang pembangunan infrastruktur energi serta penguatan armada distribusi jalur laut maupun darat. Pemanfaatan teknologi juga diterapkan untuk monitoring distribusi. Menggandeng Pemerintah Daerah, TNI/Polri dan pemberdayaan pengusaha lokal, menjadi upaya penyaluran komoditas BBM tepat sasaran.
Sedangkan upaya mengantisipasi beredarnya BBM ilegal di masyarakat, kata Ispiani, pihaknya bekerjasama dengan APH dalam pengawasan, penerapan sanksi untuk SPBU nakal. Call Center Pertamina 135, terbuka untuk masyarakat melaporkan temuan adanya kecurangan di lapangan. “Kami terus melakukan edukasi dan sosialisasi ke masyarakat, agar membeli BBM di lembaga penyalur resmi Pertamina,” kata Ispiani.
Yesaya Morino, sopir angkutan umum di Waisai, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, merasakan manfaat dari kebijakan BBM Satu Harga. Seperti halnya pengemudi angkot di Pulau Jawa, Yesasa hanya mengeluarkan uang Rp 200 ribu untuk memenuhi tangki BBM mobil pick up-nya dengan 20 liter Pertalite.
Laki-laki 29 tahun ini menekuni pekerjaan sebagai sopir angkutan, melayani penumpang dari Sapokren, Distrik Waigeo Selatan ke Waisai, ibukota kabupaten. Untuk satu kali jalan dengan kapasitas 14 orang penumpang , Yesaya mengantongi hasil Rp 280.000 dengan tarif Rp 20.000/orang.

Yesaya selalu menyempatkan singgah di SPBU 86.984.21 yang dikelola PT Lima Putra di Jalan Napirboy, Trans Waisai Kelurahan Saonek, Distrik Waigeo Selatan. “Lebih hemat kalau beli di sini (SPBU),” kata Yesaya, membandingkan harga jual BBM oleh pengecer tepi jalan. ***
Open Acces Project
SEJAK dibangun pada tahun 1995 dan resmi beroperasi pada Juli tahun 1997, kapasitas terpasang Kilang RU VII Kasim belum pernah terpakai 100 persen. Sebagai pemasok tunggal bahan baku, Petrogas Basin Ltd hanya mampu mengirim rata-rata 150,000 barrel per bulan, dari kapasitas terpasangnya pengolahan crude oil di Kilang Kasim 10,000 barrel minyak mentah per hari.
Petrogas belum mampu memenuhi kapasitas terpasang di Kilang Kasim, meski minyak mentah yang disetor ke dapur mungil itu juga dihimpun dari hasil eksploitasi Pertamina EP (PEP) Field Papua.
Amarullah, Senior Officer Comrel & CID Zona 14 PEP Field Papua menyebut, jumlah minyak mentah yang ikut diolah Kilang Kasim sebanyak 450 bopd. Menggunakan jalur kapal dan jaringan pipa, minyak dari lapangan Salawati dan Sele Linda ini dikirim di Kasim Marine Terminal (KMT) Petrogas sebelum masuk dapur Kilang Kasim.
Year to date 29 September 2025, produksi minyak Pertamina EP sebanyak 873 bopd. Jumlah ini berasal dari sumur lapangan Klamono, Salawati, Sele dan Linda. Namun tidak seluruh hasil eksploitasi itu bisa diolah di Kilang Kasim. Crude oil dari Sumur Klamono, dikumpulkan melalui jalur pipa ke Loading Terminal Sorong, untuk diangkut menggunakan kapal tanker menuju Kilang RU III Plaju dan Kilang RU V Balikpapan.
“Kapasitas, infrastruktur pipa dan spesifikasi sifat minyak. Karena (hasil produksi) PEP Papua memiliki beberapa jenis minyak,” kata Amarullah, mengenai alasan sebagian produk PEP harus dikirim ke kilang lain.
Total sumur minyak yang saat ini dieksploitasi Pertamina EP, sebanyak 139 sumur. Terdapat 62 sumur peninggalan Belanda yang di suspend karena tidak ekonomis. Pertamina EP menargetkan 5 sumur eksplorasi dan 4 sumur pengembangan sebagai upaya mendukung program Pemerintah meningkatkan produksi nasional. 4 sumur eksplorasi telah selesai dikerjakan yaitu Markisa (MKS)-001, Kembo (KMO)-001, Buah Merah (BMR)-001, North East Markisa(NEM)-001 dan 1 sumur eksplorasi Bintangur (BIT)-001 yang saat ini sedang proses. Sedangkan sumur pengembangan, seluruhnya berada di Salawati (SLW-C4X, SLW-E6X, SLW-F2X, SLW-F3X).

Keterbatasan pasokan minyak mentah ini, kata Ferdy Saputra, Area Manager Communication, Relation, CSR & Comp. PT KPI RU VII Kasim, menjadi hambatan dalam hal operasional dan proses produksi di Kilang Kasim. Apalagi saat ini terjadi penurunan produksi minyak mentah oleh Petrogas Basin Ltd. “Akibatnya, kilang hanya beroperasi pada rata-rata 60 persen dari kapasitas desain,” kata Ferdy.
Manajemen KPI sedang menempuh cara mengatasinya problem itu. Dalam jangka pendek, adalah dengan memaksimalkan penyerapan minyak mentah serta pengaturan atau optimasi kondisi operasi kilang. Terdapat 4 tangki minyak mentah dengan kapasitas masing-masing 110,000 barrel crude. Sehingga meskipun dengan suplai minyak mentah yang terbatas, total produk yang dihasilkan tetap maksimal untuk dapat mensuplai BBM wilayah Pamalu.
Sedangkan untuk jangka panjang, kata Ferdy, saat ini sedang berlangsung pembangunan tangki minyak mentah dan pembangunan jetty (open access project) dengan kapasitas hingga 50,000 Deadweight Tonnage (DWT). Tujuannya, agar kedepan Kilang Kasim dapat menerima pasokan minyak mentah secara fleksibel dari berbagai sumber, dan tidak bergantung pada satu pemasok. “Dengan pasokan yang cukup, harapannya kapasitas pengolahan dapat terpenuhi ke 100 persen dari kapasitas terpasang,” kata Ferdy.
Disamping itu, langkah menjaga keberlangsungan usaha (business sustainability), Kilang RU VII Kasim sedang merintis potensi pengembangan dan peningkatan pengolahan BBM ramah lingkungan. Saat ini, yang masih menjadi fokus Kilang Kasim adalah Biosolar-B40, sebagai produk yang telah sustain diproduksi.
Kesiapan Kilang Kasim dalam memproduksi B40, disebutnya sebagai bentuk komitmen KPI dalam penyediaan energi yang lebih baik dari aspek lingkungan, aspek ekonomi, aspek sosial dan juga aspek keberlanjutan. Produksi Biosolar B40 ini, akan menjadi kontribusi KPI dalam pencapaian Net Zero Emision di tahun 2060, serta mendukung Sustainable Development Goals dalam menjamin akses energi yang terjangkau serta pada penerapan ESG.
”Kami membuka potensi untuk pengembangan dan peningkatan menjadi B-45, B-50, dan seterusnya,” kata Ferdy. (Tantowi Djauhari)













