OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga di Tengah Lonjakan Harga Energi Global

0
58
Google search engine
Spread the love

JAKARTA,jurnalpapua.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional tetap terjaga hingga awal April 2026, meskipun tekanan dari dinamika global dan domestik terus meningkat. Penilaian ini disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 1 April 2026.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, yang akrab disapa Kiki, mengungkapkan bahwa ketidakpastian ekonomi global ke depan semakin tinggi. Pemicu utamanya adalah eskalasi tensi geopolitik di kawasan Teluk yang berdampak pada operasional infrastruktur energi Timur Tengah.

“Kondisi ini bahkan memicu penutupan Selat Hormuz sebagai jalur distribusi energi global. Akibatnya, terjadi lonjakan harga energi dan peningkatan volatilitas di pasar keuangan dunia,” jelas Kiki dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (6/4/2026).

Menurut OJK, prospek ekonomi global yang semula diprediksi menguat oleh OECD dalam Interim Economic Outlook Maret 2026, kini harus dikoreksi tajam. Eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama koreksi tersebut.

Kiki menambahkan, tekanan harga energi yang tinggi turut mempersempit ruang gerak kebijakan moneter bank sentral di berbagai negara. Ekspektasi high for longer—di mana suku bunga tinggi bertahan lebih lama—kembali menguat di pasar.

AS Tertekan, China Masih Tumbuh

Dari Amerika Serikat, perekonomian menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Inflasi yang masih persisten dan tingkat pengangguran yang meningkat menjadi beban utama. Pada pertemuan Maret 2026, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan, dengan sinyal hanya akan ada satu kali pemangkasan sepanjang 2026. Namun, pasca-eskalasi konflik Iran, pelaku pasar mulai beralih ke skenario tanpa pemangkasan suku bunga tahun ini.

Berbeda dengan AS, perekonomian Tiongkok justru mencatat kinerja di atas ekspektasi. Perbaikan sisi permintaan dan penawaran, ditambah stimulus di sektor keuangan, menjadi pendorong utama. Kendati demikian, Beijing tetap menurunkan target pertumbuhan ekonominya sebagai respons terhadap tantangan struktural dan ketidakpastian eksternal yang masih berlanjut.

Domestik: Inflasi Inti Turun, Daya Beli Solid

Di dalam negeri, OJK mencatat sejumlah indikator positif. Inflasi inti per Maret 2026 mengalami penurunan. Aktivitas konsumsi masyarakat tetap kuat di awal tahun, tercermin dari pertumbuhan penjualan ritel yang diperkirakan mencapai 6,89 persen secara tahunan (year-on-year). Penjualan kendaraan bermotor juga menunjukkan kinerja yang solid.

Dari sisi produksi, kinerja ekonomi tetap positif meski dengan laju yang lebih moderat. Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia masih berada di zona ekspansif.

Sementara itu, ketahanan eksternal Indonesia dinilai memadai. Cadangan devisa pada Februari 2026 berada di level yang cukup, didukung oleh surplus neraca perdagangan.

“Secara keseluruhan, OJK melihat stabilitas sektor jasa keuangan kita masih terjaga. Namun kami tetap waspada terhadap rambatan ketidakpastian global ke depan,” tutup Kiki.JP02

Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here