JAKARTA,jurnalpapua.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali mengingatkan masyarakat global mengenai bahaya tersembunyi dari kebiasaan mengonsumsi minuman dalam suhu yang terlalu panas. Laporan terbaru yang dirilis oleh badan kesehatan PBB tersebut mengonfirmasi adanya kaitan erat antara praktik ini dengan peningkatan risiko penyakit kanker, khususnya pada area tenggorokan dan kerongkongan.
Dalam laporan yang dipublikasikan untuk mengukur dampak global dari kebiasaan ini, WHO mencatat angka yang cukup signifikan. Dari total sekitar 8 juta kasus kematian akibat kanker yang terjadi setiap tahun di seluruh dunia, sebanyak 400.000 kasus kematian diduga kuat memiliki keterkaitan dengan kebiasaan mengonsumsi minuman yang terlalu panas.
Temuan ini didasarkan pada hasil penelitian dari Badan Penelitian Kanker Internasional (IARC), sebuah lembaga di bawah naungan WHO. Para peneliti mengidentifikasi bahwa ambang batas suhu minuman yang dianggap berbahaya bagi tubuh adalah ketika mencapai di atas 65 derajat Celsius.
Secara biologis, bahaya tersebut muncul akibat paparan panas ekstrem yang berulang kali. Dinding kerongkongan manusia dilapisi oleh sel skuamosa, yaitu jenis sel yang serupa dengan sel pada permukaan kulit. Ketika sel-sel ini terus-menerus terpapar cairan bersuhu sangat panas, jaringan tersebut akan mengalami luka bakar mikroskopis dan kerusakan.
Proses perbaikan jaringan yang terus-menerus akibat cedera berulang inilah yang dikhawatirkan para ahli dapat memicu pertumbuhan sel yang tidak normal. Dalam jangka panjang, regenerasi sel yang abnormal tersebut berpotensi berkembang menjadi sel kanker ganas pada esofagus.
Para ahli kesehatan menyarankan masyarakat untuk membiasakan diri menunggu beberapa saat setelah menyeduh minuman seperti kopi, teh, atau air hangat hingga suhunya turun ke tingkat yang lebih aman sebelum dikonsumsi, guna meminimalkan risiko cedera pada jaringan tenggorokan.(JP02)


















