Sektor Pertambangan & Listrik Jadi Motor Utama Pertumbuhan Kredit Akhir 2025

0
93
Google search engine
Spread the love

JAKARTA,jurnalpapua.id – Industri perbankan nasional mencatatkan performa intermediasi yang semakin kokoh menjelang pengujung tahun 2025. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan penyaluran kredit pada November 2025 tumbuh 7,74 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dibandingkan capaian bulan sebelumnya yang berada di level 7,36 persen.

Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi, mengungkapkan bahwa total outstanding kredit kini menembus angka Rp8.314,48 triliun. Lonjakan ini didorong oleh sektor-sektor strategis, terutama pengadaan listrik, gas, dan air yang tumbuh signifikan 21,83 persen, disusul sektor pengangkutan dan pergudangan sebesar 18,33 persen.

“Pertumbuhan kredit hingga akhir tahun ini diproyeksikan semakin solid dan mampu melampaui target batas bawah OJK. Selain itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) diyakini akan menyentuh angka pertumbuhan dua digit,” ujar Ismail dalam keterangan resminya Senin (12/1/2026)

Menariknya, Kredit Investasi mencetak sejarah baru dengan pertumbuhan mencapai 17,98 persen yoy. Angka ini merupakan level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Sektor pertambangan dan industri pengolahan menjadi motor utama di balik gairah ekspansi usaha ini, yang mencerminkan meningkatnya kapasitas produksi sektor riil untuk jangka panjang.

Sementara itu, segmen Kredit Konsumsi terpantau tumbuh 6,67 persen dan Kredit Modal Kerja naik tipis 2,04 persen. Dari sisi segmentasi debitur, kelompok korporasi masih mendominasi dengan kenaikan 12,06 persen, berbanding terbalik dengan kredit UMKM yang justru mengalami kontraksi tipis 0,64 persen.

“Kondisi likuiditas perbankan terpantau sangat memadai. Hal ini terlihat dari posisi DPK yang melonjak 12,03 persen menjadi Rp9.899,07 triliun. Melimpahnya dana masyarakat ini turut dibarengi dengan tren penurunan suku bunga.”tuturnya

Rata-rata bunga kredit rupiah tercatat turun menjadi 8,97 persen, atau menyusut 26 bps dibanding tahun lalu. Penurunan paling terasa ada pada Kredit Modal Kerja yang kini berada di level 8,24 persen. Penurunan biaya pinjaman ini diharapkan dapat terus memicu gairah dunia usaha hingga tahun 2026, yang diprediksi akan tetap stabil dengan modal perbankan yang kuat.(JP02)

Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here