Rig Pertamina Jadi Penyelamat, Pasok Listrik Warga Aceh Tamiang di Tengah Lumpuhnya Jaringan

0
93
Lumpuhnya listrik akibat banjir tak menyulutkan semangat warga Kecamatan Rantau untuk tetap terhubung. Fasilitas Rig PDSI#19.1 Pertamina kini menjadi tumpuan utama warga dari enam desa untuk mengisi daya ponsel dan alat penerangan.
Google search engine
Spread the love

ACEH TAMIANG,jurnalpapua.id – Fasilitas Rig PDSI#19.1 milik Pertamina menjadi tumpuan utama bagi warga di enam desa Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, yang mengalami pemadaman listrik total dan gangguan sinyal pascabanjir bandang.

Hingga malam ini, area di sekitar rig tersebut menjadi satu-satunya lokasi yang tetap terang benderang di tengah kegelapan pemukiman warga. Kondisi ini dimanfaatkan penduduk setempat untuk mendapatkan akses energi listrik guna mengisi daya perangkat elektronik mereka.

Warga dari enam desa terdampak terpantau mengantre setiap malam dengan membawa telepon seluler, powerbank, senter, hingga lampu darurat. Bagi masyarakat, ketersediaan daya baterai saat ini merupakan kebutuhan vital untuk berkomunikasi dengan kerabat dan memantau perkembangan kondisi keselamatan pascabencana.

“HP saya sudah mati dua hari. Kami tidak bisa hubungi saudara sama sekali,” kata Siti (38), warga Desa Alur Cucur, dengan nada lega. “Begitu dengar bisa ngecas di sini, rasanya seperti dapat kabar baik.”

Sejak awal bencana, aliran listrik dan jaringan komunikasi di wilayah sekitar rig terputus total. Kondisi itu membuat warga terisolasi, terutama pada malam hari, ketika penerangan menjadi kebutuhan utama.

Rig Superintendent Pertamina Drilling, Surya Budiman, mengatakan inisiatif tersebut lahir dari kebutuhan mendesak masyarakat sekitar.

“Sejak awal bencana, listrik dan sinyal mati. Padahal warga sangat membutuhkan ponsel untuk mengabarkan kondisi mereka kepada keluarga. Kami hanya berusaha membantu sebisanya,” ujar Surya.

Sejak bencana banjir bandang melanda wilayah Aceh Tamiang, Rig PDSI#19.1 tengah berada dalam kondisi shutdown sejak 26 November 2025 dan kembali beroperasi pada 16 Desember 2025. Meski demikian, proses pengisian daya dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan.

“Pengisian kami lakukan di area aman, di luar kawasan kerja rig. Hampir setiap malam ada lebih dari 100 orang yang datang,” katanya.

Warga yang datang berasal dari Desa Alur Batu, Alur Cucur, Alur Manis, Landu, Tempel, dan Lumpuran. Ada yang datang berjalan kaki, ada pula yang berboncengan sepeda motor. Sebagian membawa anak-anak, menunggu sambil duduk di tepi area, ditemani cahaya lampu yang perlahan menyala kembali.

“Kalau malam gelap sekali. Anak-anak takut. Lampu emergency ini sangat membantu,” ujar Rahmad (45), warga Desa Alur Manis, sembari menggenggam lampu darurat yang telah terisi penuh.

Selain membuka akses listrik, Pertamina Drilling juga menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa makanan siap santap dua kali sehari, sembako, air bersih, serta air minum dalam kemasan bagi warga terdampak di sekitar wilayah operasi.

“Dalam kondisi seperti ini, bantuan makanan dan air sangat berarti. Setidaknya kami tidak merasa sendirian,” tutur Yuliana (41), warga Desa Landu.

Di tengah gelap dan keterbatasan, Rig PDSI#19.1 menjadi lebih dari sekadar fasilitas industri. Ia menjelma ruang singgah bagi warga, tempat mengisi daya, berbagi cerita, dan menguatkan satu sama lain. Cahaya yang menyala setiap malam bukan hanya menerangi senter dan ponsel, tetapi juga menghadirkan rasa aman di tengah bencana yang belum sepenuhnya usai.(JP02)

Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here