MERAUKE,jurnalpapua.id – Perhatian khusus terus diberikan pada penanganan darurat karhutla di Provinsi Papua Selatan (meliputi Kabupaten Merauke, Boven Digoel, Mappi, dan Asmat). Hingga hari ketujuh pelaksanaan OMC, tercatat telah dilakukan 10 sorti penerbangan dengan total durasi 25 jam 33 menit dan penggunaan 10.000 kilogram NaCl.
“Pada Rabu (28/10), satu sorti OMC dilaksanakan di wilayah Kabupaten Merauke, Boven Digoel, dan Mappi menggunakan 1.000 kg NaCl. Hujan turun di wilayah utara dan tengah Merauke, selatan Boven Digoel, serta selatan Mappi, meskipun di Kabupaten Asmat dilaporkan nihil.”jelas Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D., dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (29/10)
Dirinya menyampaikan, berkat upaya pemadaman karhutla tersebut, hasil positif mulai terlihat. Hujan yang cukup merata meningkatkan jarak pandang dari kisaran 1–5 kilometer menjadi 7–8 kilometer.
Berdasarkan pemantauan satelit, titik panas (hotspot) turun signifikan. Data harian menunjukkan penurunan dari 1.169 titik menjadi 875 titik, lalu 295 titik, dan terakhir 65 titik.
Penurunan dari 295 titik menjadi 65 titik pada periode pengamatan terakhir setara sekitar 78 persen, sedangkan penurunan keseluruhan dari 1.169 titik menjadi 65 titik setara sekitar 94,4 persen.
“Adapun luas lahan terbakar yang terdampak mencapai 161,5 hektare.”ungkap Berton
Meskipun demikian, penanganan karhutla di lapangan masih dihadapkan pada sejumlah tantangan berat, antara lain dampak El Niño yang sangat kuat, kerawanan wilayah terhadap kebakaran, serta asap lintas batas dari Papua Nugini.
“Potensi awan hujan di bagian selatan Merauke diprakirakan meningkat pada 31 Oktober hingga 1 November 2026. Saat ini, status darurat di tingkat provinsi dan Kabupaten Merauke dilaporkan telah diperpanjang.”tutup Berton JP02
ilustrasi -10.000 Kg NaCl Ditembakkan, Karhutla Papua Selatan Masih Jadi Prioritas

































