Futechi Farm ITS Transformasikan Sistem Peternakan Modern

0
9
Google search engine
Spread the love

SURABAYA,jurnalpapua.id – Tim mahasiswa dari Departemen Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan inovasi bernama Futechi Farm. Melalui sistem kandang ayam petelur yang cerdas berbasis otomasi Internet of Things (IoT), diharapkan menjadi solusi efektif untuk permasalahan peternak lokal.

Muhammad Samsuddin selaku Ketua Tim Inovator mengungkapkan bahwa sebagian peternak ayam petelur masih mengandalkan tenaga manusia dalam aktivitas peternakan sehari-hari.

“Kondisi tersebut tentunya menghabiskan waktu, tenaga kerja, hingga biaya operasional yang sangat besar, khususnya pada peternakan dengan skala yang besar,” bebernya.

Menjawab persoalan yang ada di lapangan, Futechi Farm andalkan sistem yang mengintegrasikan sejumlah proses peternakan, mulai dari pemberian pakan otomatis, pemantauan suhu, pengumpulan telur otomatis, hingga mendeteksi ayam yang sakit.

“Pemberian pakan dapat dilakukan secara otomatis dan terjadwal yang dapat dikendalikan melalui panel kontrol ataupun ponsel pintar,” terang Samsuddin.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam sistem yang dirangkai timnya, terdapat pengaturan jadwal vaksinasi dan sterilisasi untuk mendukung kesehatan dan sanitasi peternakan yang teratur. Peternak dapat mengandalkan fitur tersebut untuk menjalankan kegiatan perawatan sesuai jadwal yang ditetapkan sesuai usia ayam.

Selain itu, tim inovator juga memanfaatkan kecerdasan buatan dalam membantu peternak mendeteksi indikasi penyakit pada ayam dalam populasi tinggi. Dengan demikian, Futechi Farm tidak hanya membantu dalam pencegahan, namun juga menekan efisiensi waktu dan tenaga.

“Adanya fitur ini memungkinkan bagi peternak untuk mengobati ayam sebelum jatuh sakit dan produksi telur dapat tetap optimal,” papar Samsuddin.

Selain manfaat teknis dan ekonomis, Futechi Farm juga membawa misi pemberdayaan peternak.

Sebagai seorang profesional Manufacturing Designer, Samsuddin ingin teknologi modern tidak hanya dimanfaatkan oleh industri peternakan dengan skala besar.

“Jadi, kami mendorong transformasi peternakan konvensional menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan demi penguatan ketahanan pangan nasional,” ujarnya. Inovasi yang dikembangkan melalui riset pada awal Januari 2026 itu mencatatkan keberhasilan melalui penjualan perdana sebanyak dua unit platform senilai Rp 70 juta ke Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Tak hanya itu, proyek bisnis binaan Inkubator dan Layanan Bisnis Inovativ (ILBI) Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) ITS ini juga berhasil menjual satu unit senilai Rp 35 juta ke Papua. “Pencapaian ini tidak terlepas dari dukungan pendanaan Asian Development Bank (ADB) dan ITS melalui program HETI, serta pendampingan bisnis dari ILBI,” pungkas Samsuddin. JP02

Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here