
- Kilang Kasim menjadi satu-satunya kilang PT Pertamina Patra Niaga di Indonesia Timur yang didesain dengan kapasitas pengolahan 10 million barrel oil per day (MBOPD).
- Berdiri di area seluas 80 hektare, kilang Kasim sedang pengembangan infrastruktur (open acces project/OAP) untuk menerima pasokan crude oil dari pemasok selain Petrogas Basin.
- Dibangun pada tahun 1995, 50 persen pekerja organik kilang Kasim adalah Orang Asli Papua (OAP).
DAVID Rumbiak tengah menuntaskan persiapan perayaan Natal Bersama Mahasiswa Papua yang akan digelar di Kalimantan Tengah, 30 Desember 2020. Sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Papua kota studi Samarinda (Himapasa), Kalimantan Timur, David mendapat mandat menjadi utusan yang akan hadir.
Tuing …! Suara notifikasi di ponsel android yang sudah tiga kali berganti LCD, muncul di layar. David memeriksa, apa isi pemberitahuannya. Dari kamar kos ‘kuburan’ di Jalan Pramuka Kota Samarinda, tiba-tiba ia bersorak kegirangan. Antara senang dan rasa tak percaya. David melupakan rasa seram atas deretan makam yang ada di sebelah kamar kos.
Sebagai mahasiswa yang tengah berjuang alih jenjang dari dari D-3 ke S-1 di Universitas Mulawarman (Unmul), David Rumbiak dinyatakan lolos seleksi dan masuk dalam penentuan perusahaan. Pemberitahuan yang membuatnya sulit tidur itu, ia terima melalui surat elektronik pada 28 Desember 2020.
“Ulang-ulang sa (saya.red) scroll layar itu. Mau tidur pun, sa masih scroll–scroll. Rasanya masih belum percaya, sa dinyatakan lolos untuk mengikuti tahapan seleksi berikutnya,” kata David Rumbiak, Minggu, 20 September 2026.
Sebelumnya, pemilik nama lengkap David Charles Rumbiak yang lahir di Jayapura, 10 Desember 1997 ini, kembali mendaftar di Rekrutmen Bersama BUMN 2020, setelah gagal dalam pendaftaran di tahun 2019. Ini adalah program rekrutmen tenaga kerja untuk 51 BUMN yang digagas Kementerian BUMN dan Forum Human Capital Indonesia (FHCI).
Lowongan kerja yang dibuka hingga 20 November 2020 ini, dikhususkan untuk putra putri Papua dan Papua Barat. Kala itu, Tanah Papua belum terpecah menjadi enam provinsi, dengan penambahan empat provinsi baru; Papua Pegunungan, Papua Selatan, Papua Tengah dan Papua Barat Daya.
Yang membuat David tidak percaya, tersebab disiplin ilmu yang ia pelajari sejak kuliah D-3 di Politeknik Negeri Samarinda (Polnes). Hingga lulus pada 2019, David memilih jurusan Administrasi Bisnis. Begitu juga saat peralihan jenjang S-1 di Unmul Samarinda, ia masih setia di jalur yang sama.
“Yang ada di otak saya itu kan, kalau kerja di Pertamina harus punya disiplin ilmu Teknik Pertambangan atau Perminyakan. Sedangkan saya jurusan Administrasi Bisnis. Ini yang saya bingung,” tukas anak ketiga dari enam saudara ini.

Sejak dinyatakan lolos pada 28 Desember 2020, David berhak mengikuti interview oleh tim rekrutmen Pertamina yang dilakukan secara online pada 9 Januari 2021. Lolos di tahap ini, David terpaksa meninggalkan kamar kos dan bangku kuliah yang baru lima bulan diikuti, untuk menjalani medical cek up (MCU) di salah satu klinik di Jayapura pada 28 Januari 2021.
“Saya dinyatakan lulus seleksi tahap akhir pada 21 Maret 2021, dan mulai penempatan kerja di kilang Kasim pada 1 April 2021. Sejak masuk sampai saat ini, saya kerja di bagian HC Workforce Services. Menjadi bagian di fungsi enabler,” kata David.
Masuk dari jalur Rekrutmen Bersama BUMN, David tidak sendirian. Di PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Kasim, terdapat tiga anak Papua lainnya yang seangkatan dengannya. Ada Jeanne Kaiba dan Gloria Torey dari Sorong, serta Maria Sanadi Korwa dari Manokwari.
Area Manager Communication, Relation, CSR & Compliance Refinery Unit Kasim, Williamson Amamehi, menyebut, 50 persen pekerja organik di kilang Kasim, adalah Orang Asli Papua (OAP). Saat ini, jumlah pekerja yang tercatat di Human Capital sebanyak 142 orang, yang terbagi di dua fungsi; enabler dan fungsi core. Dalam operasional, lokasi kilang Kasim yang berada di remote area, menjadikan dapur sebagai satu-satunya kilang yang menerapkan pola kerja on off.
Kehadiran kilang Kasim tidak hanya menjaga ketahanan energi nasional, namun juga menjadi tanda kehadiran negara dalam menghadirkan energi bagi semua masyarakat. Kilang Kasim turut memberikan dampak positif dengan membuka lapangan kerja serta mendorong pertumbuhan ekonomi khususnya di wilayah Timur Indonesia.
***
PT PPN Refinery Unit Kasimmerupakan bagian dari strategic holding company dalam mengembangkan investasi dan menjalankan bisnis Pertamina terkait pengolahan minyak bumi serta bahan lainnya menjadi produk-produk bahan bakar, pelumasan, petrokimia dan farmasi serta pengembangan bisnis pengolahan dan petrokimia.
Dalam operasionalnya PT PPN memiliki enam Refinery Unit (RU) yang berdiri mulai Sumatera hingga Papua. Kilang RU Dumai, di Riau, RU Plaju di Palembang, RU Cilacap, Jawa Tengah, RU Balikpapan, RU Balongan di Indramayu, Jawa Barat serta kilang RU Kasim, di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.
Kilang RU Kasim menjadi satu-satunya kilang di Indonesia Timur yang berperan dalam rantai suplai kebutuhan energi di wilayah Papua-Maluku (PAMALU). Dibandingkan lima kilang PPN lainnya, kilang RU Kasim menjadi kilang terkecil, dengan kapasitas pengolahan 10 million barrel oil per day (MBPOD). Di RU Dumai, kapasitas terpasangnya 170 MBOPD, RU Plaju (126 MBPOD), RU Cilacap (348 MBPOD), RU Balikpapan (360 MBOPD) dan RU Balongan (150 MBOPD).
Sebelumnya dimerger menjadi satu subholding downstream di bawah PT Pertamina Patra Niaga, dapur BBM ini dikelola oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). Pada 1 Februari 2026, Pertamina (Persero) menyatukan kapabilitas dan memperkuat rantai pasok hingga ke konsumen dengan menggabungkan 3 Subholding yang bergerak di bisnis hilir Pertamina yaitu Subholding Refinery & Petrochemical (PT Kilang Pertamina Internasional), Subholding Commercial & Trading (PT Pertamina Patra Niaga) dan Subholding Integrated Marine & Logistics (PT Pertamina Internasional Shipping).

Kilang Kasim yang berlokasi Distrik Seget, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, memiliki fungsi strategis dalam memberikan rasa keadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia terkait penyediaan energi.
Filosofi desain keberadaan kilang Kasim berakar kuat pada prinsip Security of Supply (Jaminan Keandalan Pasokan) serta efisiensi distribusi energi terpadu di Kawasan Timur Indonesia (KTI), khususnya wilayah Papua dan Maluku.
Secara geografis, Kilang Kasim dirancang dengan menempatkan efisiensi rantai pasok sebagai prioritas utama. Keunggulannya terletak pada posisi strategis yang menjembatani sumber bahan baku mentah dari hulu (field Petrogas) ke refinery sebagai bahan baku proses konsumen wilayah timur Indonesia.
Sebelum kehadiran kilang Kasim, pemenuhan kebutuhan BBM untuk wilayah Papua sangat bergantung pada suplai jarak jauh dari Refinery Unit (RU) Balikpapan di Kalimantan Timur. Kondisi ini tidak hanya menelan biaya transportasi freight yang tinggi, tetapi juga rentan terhadap risiko cuaca dan dinamika rantai pasok maritim.
Kehadiran kilang Kasim berhasil memangkas biaya distribusi logistik energi secara signifikan, mengeliminasi ketergantungan historis dari Balikpapan, serta memberikan jaminan stabilitas pasokan BBM yang mandiri bagi Tanah Papua dan Maluku.
Williamson Amamehi bilang, kilang Kasim lebih dari sekadar fasilitas pemrosesan hidrokarbon. Kilang Kasim berdiri sebagai simbol pemerataan pembangunan nasional. Dengan terjaminnya ketersediaan energi yang andal, efisien, dan berkelanjutan.
“Kilang Kasim terus menjalankan peran historisnya sebagai motor penggerak roda perekonomian serta pemicu percepatan pembangunan sosial-ekonomi di Kawasan Timur Indonesia,” kata Williamson dalam keterangan tertulis yang diterima media ini, Jumat, 11 September 2026.
Berdiri di atas lahan seluas 80 hektare di Distrik Seget, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, kilang Kasim memegang peranan vital dan strategis dalam peta ketahanan energi nasional. Proyek pembangunan kilang ini dimulai sejak tahun 1995 dan secara resmi mulai beroperasi penuh pada bulan Juli 1997.
Dirancang sebagai benteng energi di gerbang timur Indonesia, kilang Kasim memiliki kapasitas pengolahan minyak mentah mencapai 10.000 barel per hari (10 Thousand Barrels per Stream Day / MBSD).
Untuk menunjang keandalan dan kualitas produk olahannya, kilang Kasim mengoperasikan rangkaian unit proses yang terintegrasi. Fasilitas utama meliputi Crude Distillation Unit (CDU) sebagai unit pemisahan awal minyak mentah, Naphtha Hydrotreating Unit (NHTU) berkapasitas 2 MBSD untuk pemurnian naphta, serta Catalytic Reforming Unit (CRU) berkapasitas 2 MBSD guna meningkatkan nilai Research Octane Number (RON) naphtha dari rata-rata 80 menjadi reformate RON 92 sebagai bahan blending Pertalite.
Operasional kilang ini juga didukung penuh oleh fasilitas effluent Water Treatment Plant (eWTP) untuk menyediakan Air Upon Boiler (Boiler Feed Water) kualitas tinggi, menjaga efisiensi kualitas pendingin (Cooling Water) untuk mencegah kerusakan peralatan pemrosesan limbah berstandar lingkungan, serta unit pendukung Offsite & Utilities (UTL).
Dari integrasi operasional ini, kilang Kasim secara konsisten menghasilkan produk BBM berkualitas tinggi untuk kebutuhan masyarakat dan industri, meliputi Pertalite, Bio Solar B50, serta Industrial Fuel Oil (IFO/bahan bakar kapal). Kilang Kasim belum dapat memproduksi avtur, lantaran spesifikasi minyak mentah yang diterima belum sesuai.
Di kilang Kasim juga dilengkapi fasilitas Tankfarm & Jetty, yang merupakan area penampungan bahan baku, produk setengah jadi, maupun produk jadi untuk selanjutnya dikirimkan ke kapal menuju Wayame. Sebagai fasilitas penunjang, ada sarana utilities untuk pengolahan air, steam, dan listrik serta pengaturan pendistribusiannya.
Namun dengan fasilitas yang ada, kata Williamson, tidak semua crude oil dapat diolah di kilang Kasim. Kondisi ini tersebab adanya batasan spesifikasi tertentu seperti kandungan sulfur dan Total Acid Number (TAN), yang apabila melebihi ambang batas maka akan berpotensi menimbulkan kerusakan pada peralatan kilang dan mengurangi masa pakai peralatan tersebut.
Untuk mengantisipasi kondisi itu, Williamson bilang, setiap crude yang di suplai dari pemasok telah terlebih dahulu dipastikan spesifikasinya agar tetap sesuai dengan batasan yang ditentukan.
”Kapasitas produksi aktual saat ini rata-rata 6.000 barrel minyak mentah per hari, menyesuaikan suplai dan produksi minyak mentah dari Petrogas Basin Ltd,” kata William.
Produksi Biodiesel B40 yang dimulai pada 1 Januari 2025, merupakan implementasi kilang Kasim dalam menjalankan mandatori pemerintah, sebagai bahan bakar nabati (BBN) guna mendukung swasembada energi.
Biodiesel B40 merupakan campuran bahan bakar nabati berbasis CPO atau sawit, yaitu Fatty Acid Methyl Esters (FAME) dengan komposisi 40 persen, dan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar 60 persen.
Pengolahan ini tidak hanya menegaskan kapasitas operasional kilang, tetapi juga menjadi bukti nyata inovasi kilang Kasim dalam menjaga pasokan energi yang andal dan ramah lingkungan. Sebagai salah satu pionir dalam implementasi mandatori B40, kilang Kasim menjalankan amanat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No. 341.K/EK.01/MEM.E/2024.
Pencapaian ini merupakan bagian dari konsistensi panjang penyempurnaan program biodiesel nasional, yang telah bertransformasi secara bertahap mulai dari B20 pada 2019, B30 pada 2020, hingga B35 pada 2023.
Selain di kilang Kasim, Biodiesel B40 juga diproduksi kilang Plaju di Palembang. Kesiapan sarana dan fasilitas di dua kilang tersebut, menjadi landasan dalam menjalankannya mandatori. Target produksi masing-masing kilang sebanyak 15.898 KL per bulan (kilang Kasim), dan sebesar 119.240 KL per bulan (kilang Plaju). Dalam penyaluran perdana pada 14 Januari 2025, kilang Kasim di Papua Barat Daya menyalurkan 4.600 KL, dan kilang Plaju sebanyak 5.000 KL. Lifting perdana produk ini dikirim kilang Kasim ke wilayah operasional Indonesia Timur, khususnya Fuel Terminal (FT) Manokwari dan FT Biak.
Pelaksanaan penyaluran B40 ini sekaligus menjadi pijakan kokoh untuk menyongsong implementasi kebijakan mandatori B50 nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia mulai 1 Juli 2026. Melalui pencampuran 50% minyak kelapa sawit (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) dan 50% minyak solar hasil olahan kilang Kasim, langkah ini mengukuhkan posisi Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang berhasil menerapkan Biodiesel B50.
Peningkatan pemanfaatan biodiesel ini menjadi langkah strategis nasional dalam mengoptimalkan potensi sawit domestik sebagai fondasi utama energi hijau. Langkah ini sejalan dengan agenda Asta Cita Presiden Prabowo Subianto terkait ketahanan dan swasembada energi, serta target pemerintah mencapai Net Zero Emission di tahun 2060.
Komitmen PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Kasim dalam mewujudkan Asta Cita Presiden ini, dibuktikan secara langsung melalui lifting perdana Biosolar B50 ke kapal MT Krasak sebanyak 4.600 kiloliter pada 18 Juli 2026.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menyampaikan, selain kilang Kasim, lifting perdana B50 juga dilakukan kilang Plaju pada 22 Juli 2026. Kilang Plaju menyalurkan 8.230 kiloliter ke Integrated Terminal (IT) Palembang.
“Lifting perdana B50 oleh kilang Kasim dan kilang Plaju merupakan salah satu milestone penting yang menandai langkah nyata Pertamina Patra Niaga dalam memperkuat kemandirian, ketahanan dan kedaulatan energi nasional, khususnya melalui implementasi B50 yang dicanangkan pemerintah,” ujar Kitty, dalam siaran pers yang diterima media ini pada 23 Juli 2026.
Produksi Biodiesel B50 ini, juga bukti kepatuhan dapur produksi Pertamina atas titah Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM, melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 Tahun 2026 tentang Kewajiban Pencampuran Biodiesel Sebesar 50 Persen dalam Minyak Solar.
Dari Papua Barat Daya untuk Indonesia, kilang Kasim terus bergerak di garis depan dalam mengawal transisi energi dan menjaga kedaulatan energi bangsa.

Produk BBM hasil olahan kilang Kasim, didistribusikan satu pintu ke PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Wilayah Papua Maluku Region VIII, selaku Subholding Commercial & Trading (C&T) Pertamina.
Berdasarkan historical pengapalan produk, mayoritas hasil olahan ini di suplai ke terminal atau depot BBM Wayame dan depot BBM Tual. ”Dari sini, nanti PPN yang akan mengatur pendistribusian lebih lanjut agar dapat memenuhi kebutuhan BBM di wilayah Papua Maluku,” tukas Williamson.
Integrated Terminal (IT) Wayame, menjadi titik utama distribusi BBM di Papua Maluku. Area Manager CommRel & CSR Papua Maluku PT Pertamina Patra Niaga, Ispiani Abbas, menyebut, dari IT Wayame, BBM didistribusikan ke 21 terminal BBM yang tersebar di Maluku (7 terminal), Maluku Utara (4 terminal), Papua (3 Terminal), Papua Barat 3 terminal, Papua Selatan 2 terminal, Papua Tengah dan Papua Barat Daya masing-masing terminal.
”BBM yang kita tampung di IT Wayame, berasal dari kilang Pertamina Balikpapan dan kilang Kasim. Dari total kebutuhan BBM di Papua Maluku, kontribusi kilang Kasim sekitar 7 sampai 8 persen,” kata Ispiani Abbas.
***
SEJAK dibangun pada tahun 1995 dan resmi beroperasi pada Juli tahun 1997, kapasitas terpasang kilang RU Kasim belum pernah terpakai 100 persen. Sebagai pemasok tunggal bahan baku, Petrogas Basin Ltd (dulu Petrochina) hanya mampu mengirim rata-rata 150.000 barrel per bulan, dari kapasitas terpasangnya pengolahan crude oil di kilang Kasim, sebesar 10.000 barrel minyak mentah per hari.
Petrogas belum mampu memenuhi kapasitas terpasang di kilang Kasim, meski minyak mentah yang disetor ke dapur mungil itu juga dihimpun dari hasil eksploitasi Pertamina EP (PEP) Field Papua.
Amarullah, Senior Officer Comrel & CID Zona 14 PEP Field Papua menyebut, jumlah minyak mentah yang ikut diolah kilang Kasim sebanyak 450 BOPD. Menggunakan jalur kapal dan jaringan pipa, minyak dari lapangan Salawati dan Sele Linda ini dikirim di Kasim Marine Terminal (KMT) Petrogas sebelum masuk dapur kilang Kasim.
Year to date 29 September 2025, produksi minyak Pertamina EP sebanyak 873 BOPD. Jumlah ini berasal dari sumur lapangan Klamono, Salawati, Sele dan Linda. Namun tidak seluruh hasil eksploitasi itu bisa diolah di kilang Kasim. Crude oil dari Sumur Klamono, dikumpulkan melalui jalur pipa ke Loading Terminal Sorong, untuk diangkut menggunakan kapal tanker menuju kilang RU Plaju dan kilang RU Balikpapan.
“Kapasitas, infrastruktur pipa dan spesifikasi sifat minyak. Karena (hasil produksi) PEP Papua memiliki beberapa jenis minyak,” kata Amarullah, mengenai alasan sebagian produk PEP harus dikirim ke kilang lain.
Total sumur minyak yang saat ini dieksploitasi Pertamina EP, sebanyak 139 sumur. Terdapat 62 sumur peninggalan Belanda yang di suspend karena tidak ekonomis. Pertamina EP menargetkan 5 sumur eksplorasi dan 4 sumur pengembangan sebagai upaya mendukung program pemerintah meningkatkan produksi nasional. 4 sumur eksplorasi telah selesai dikerjakan yaitu Markisa (MKS)-001, Kembo (KMO)-001, Buah Merah (BMR)-001, North East Markisa(NEM)-001 dan 1 sumur eksplorasi Bintangur (BIT)-001 yang saat ini sedang proses. Sedangkan sumur pengembangan, seluruhnya berada di Salawati (SLW-C4X, SLW-E6X, SLW-F2X, SLW-F3X).

Keterbatasan pasokan minyak mentah ini, kata Williamson, Area Manager Communication, Relation, CSR & Comp. PT PPN RU Kasim, menjadi hambatan dalam hal operasional dan proses produksi di kilang Kasim. Apalagi saat ini terjadi penurunan produksi minyak mentah oleh Petrogas Basin Ltd.
“Akibatnya, kilang hanya beroperasi pada rata-rata 60 persen dari kapasitas desain,” katanya.
Manajemen PPN RU Kasim sedang menempuh cara mengatasinya problem itu. Dalam jangka pendek, adalah dengan memaksimalkan penyerapan minyak mentah serta pengaturan atau optimasi kondisi operasi kilang. Terdapat 4 tangki minyak mentah dengan kapasitas masing-masing 110.000 barrel crude. Sehingga meskipun dengan suplai minyak mentah yang terbatas, total produk yang dihasilkan tetap maksimal untuk dapat mensuplai BBM wilayah Pamalu.
Sedangkan untuk jangka panjang, kata Wiliamson, saat ini sedang berlangsung pembangunan tangki minyak mentah dan pembangunan jetty (open access project) dengan kapasitas hingga 50,000 Deadweight Tonnage (DWT). Tujuannya, agar kedepan kilang Kasim dapat menerima pasokan minyak mentah secara fleksibel dari berbagai sumber, dan tidak bergantung pada satu pemasok.
“Dengan pasokan yang cukup, harapannya kapasitas pengolahan dapat terpenuhi ke 100 persen dari kapasitas terpasang,” kata Wiliamson.
Disamping itu, langkah menjaga keberlangsungan usaha (business sustainability), kilang RU Kasim sedang merintis potensi pengembangan dan peningkatan pengolahan BBM ramah lingkungan. Saat ini, yang masih menjadi fokus kilang Kasim adalah Biosolar B50, sebagai produk yang telah sustain diproduksi.
Kesiapan kilang Kasim dalam memproduksi B50, disebutnya sebagai bentuk komitmen RU Kasim dalam penyediaan energi yang lebih baik dari aspek lingkungan, aspek ekonomi, aspek sosial dan juga aspek keberlanjutan.
Produksi Biosolar B50 ini, akan menjadi kontribusi kilang Kasim dalam pencapaian Net Zero Emision di tahun 2060 atau lebih cepat, mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) dalam menjamin akses energi yang terjangkau serta pada penerapan ESG. (Tantowi Djauhari)




























