Sunting Gadis Pujaan di Kampung Halaman, Anak Siantar Ini Perkenalkan Budaya Papua

0
220
Iptu Tomi Samuel Marbun, Kasat Reskrim Polres Teluk Bintuni borong noken untuk oleh-oleh pulang kampung.
Spread the love

BINTUNI, jurnalpapua.id – Kasat Reskrim Polres Teluk Bintuni, Iptu Tomi Samuel Marbun akan mengakhiri masa lajang dengan mempersunting gadis pujaannya di Pematang Siantar, Sumatera Utara pada Kamis, 24 November 2022.

Sebagai buah tangan untuk orang-orang terkasih di kampung halamannya, perwira polisi dengan dua balok di pundak ini memborong noken, tas rajut yang menjadi budaya khas papua.

Tidak tanggung-tanggung. Pada Senin (7/11/2022) sore, sebanyak 10 noken ia beli dari Mama Ela, seorang perempuan asal Serui, Papua yang  sehari-hari menjajakan aneka barang khas papua ini di kawasan Pelabuhan Bintuni.

Membawa kerajinan tangan khas masyarakat papua ke kampung halamannya, didasari atas rasa bangga Tomi Marbun pada adat dan budaya yang ia saksikan selama bertugas di Tanah Papua. Noken itu akan menjadi sarana memperkenalkan adat budaya papua yang penuh rasa kekerabatan.

“Barang-barang kerajinan ini akan saya bawa pulang. Saya bawa pulang, menjadi oleh-oleh pulang kampung . Ini juga menjadi bukti kebanggaan saya bisa berdinas di Tanah Papua,” tukasnya.

Perwira pertama kepolisian ini sempat bingung memilih noken yang akan di beli. Jenis dan corak noken yang dijajakan Mama Ela cukup banyak dan beragam dengan harga yang berbeda-beda.

Wanita paruh baya itu menjelaskan beberapa jenis noken yang terpajang  dengan berbagai ukuran , warna dan tulisan yang berbeda dari harga 50 ribu rupiah hingga 500 ribu rupiah. “Kalau ini 200 ribu,” kata Mama Ela.

Tidak ditawar , pria Batak yang masih berstatus lajang itu langsung memilih sepuluh noken dengan warna dan tulisan yang berbeda.

“Saya mau bawa ke kampung, saya mau menikah Mama, nanti noken ini saya kasih sama keluarga, ” ucap Tomi Marbun sambil menyerahkan uang kepada Mama Ela.

Disela perbincangannya denga Mama Ela, Tomi Marbun menanyakan hasil dari  bisnis jual beli noken dan pernak-pernik khas Papua selama masa pendemi Covid-19 hingga sekarang. Kata Mama Ela, hasil penjualannoken dan pernak pernik Papua cukup stabil, tidak ada perubahan.

“Hampir setiap hari ada yang membeli noken juga pernak-pernik yang kita jual disini,” ucapnya.

Kembali Tomi Marbun berdiri dan melihat dagangan lainnya , perhatiannya tertuju kepada gelang berwarna hitam ( gelang akar bahar ) , dia yang didampingi tiga orang anggotanya memilih salah satu gelang yang di pajang oleh Mama Ela , yang dipilihnya seharga 50 ribu dan langsung dikenakan ke tangannya.

Pada kesempatan ini, Tomi Marbun melihat ada aksesori bermotif Bintang Kejora.  Sembari bercanda Kasat Reskrim Polres Teluk Bintuni bertanya,”Ini apa Mama? “.  Mama Ela tidak menjawab , ia hanya tertawa mendengar pertanyaan itu.

Disela-sela belanja, Kasat Reskrim Polres Teluk Bintuni menyampaikan kepada mama papua, barang apa saja yang boleh dijual dan tidak boleh.

“Kalau boleh jangan jual yang seperti inilah Mama, nanti siapa tau ibu – ibu Polisi atau orang dari luar Bintuni datang belanja kan mereka tidak segan datang kesini , iya kan? Kalau boleh janganlah jual yang seperti ini , ” pinta Marbun sambil tersenyum.

“Iya nanti Mama Simpan, ” Kata Mama Ela.

Selain memborong noken, anak Siantar ini juga membayar harga gelang akar bahar yang dirasa cocok di tangannya. “Ini adalah barang-barang yang kental dengan budaya Papua,” kata Tomi. JP01

Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here