
ARNHEM,BELANDA,jurnalpapua.id – Pementasan berjudul Monolog Topeng DAM karya Wawan Sofwan siap digelar di Indonesia House Amsterdam (IHA) pada 12 Juni 2026 mendatang. Pertunjukan ini dinilai layak menjadi peristiwa budaya yang patut diapresiasi karena kekayaan lintas tradisi yang diusungnya.
Melansir dari kabar belanda, cerita dalam monolog tersebut diadaptasi dari cerpen karya sastrawan Putu Wijaya, yang kemudian diolah ulang oleh Sofwan. Inspirasi utama datang dari tradisi Topeng Pajegan khas Bali, yaitu bentuk pertunjukan klasik di mana seorang aktor memainkan banyak tokoh sekaligus dalam satu panggung.
Namun, Sofwan tak sekadar mengikuti pakem Bali. Melalui penelusurannya atas seni topeng Eropa, ia memperluas konsep itu dengan memasukkan unsur Commedia dell’arte, yakni tradisi teater Italia yang kemudian berkembang pesat di Prancis.
Sebagai seniman yang tumbuh dari lingkungan budaya Sunda, Sofwan juga membawa pengaruh tradisi topeng dari tanah kelahirannya. Di wilayah Sunda sendiri, terdapat beragam kesenian topeng seperti Topeng Panji, Topeng Banjet, hingga Topeng Menor yang turut memperkaya panggung pertunjukannya.
Yang menarik, seluruh topeng yang digunakan dalam pertunjukan ini dirancang khusus oleh pematung dan seniman asal Bali, Nyoman Nuarta. Kehadiran Nuarta menambah bobot lintas budaya, karena karya seni rupa dan teater menyatu dalam satu pentas.
Di dunia tektur tanah air, Wawan Sofwan bukanlah nama asing. Ia dikenal luas sebagai aktor dan sutradara yang mendirikan Main Teater pada 1994, serta pernah aktif di Actor’s Unlimited hingga tahun 2000. Sebelum semua itu, ia juga sempat bergabung dengan STB, kelompok teater bentukan Suyatna Anirun, salah satu maestro teater Indonesia.(JP02)














