Bangkit dari Banjir, Ribuan Sekolah di Aceh Mulai Aktivitas Belajar Meski Serba Terbatas

0
78
Siswa-siswi SD Negeri 1 Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, mengikuti kegiatan belajar mengajar hari pertama semester genap Tahun Ajaran 2025/2026, dalam kondisi pascabanjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Senin (5/1).
Google search engine
Spread the love

ACEH TAMIANG,jurnalpapua.id– Semangat pendidikan di Provinsi Aceh kembali berkobar di tengah sisa-sisa bencana. Memasuki semester genap tahun ajaran 2025/2026, sejumlah sekolah yang sempat lumpuh akibat banjir dan longsor Desember lalu mulai melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara bertahap, Senin (5/1).

Pemandangan ini salah satunya terlihat di SD Negeri 1 Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Meski pintu sekolah sudah terbuka, suasana belajar belum kembali normal. Para siswa terpaksa mengikuti pelajaran dengan sarana seadanya karena banyak fasilitas yang rusak diterjang air.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D., mengungkapkan bahwa pembersihan ruang kelas hingga kini belum tuntas sepenuhnya. Meja dan kursi banyak yang rusak, sehingga beberapa kelas harus menggunakan terpal sebagai alas belajar.

“Selain fasilitas yang terbatas, jumlah siswa yang hadir juga belum maksimal. Sebagian dari mereka masih berada di pengungsian atau berada di luar daerah,” ujar Muhari dalam keterangan resminya.

Hari pertama sekolah tidak langsung diisi dengan materi pelajaran berat. Pihak sekolah memprioritaskan pemulihan kondisi psikis siswa melalui sesi berbagi cerita. Para guru mengajak siswa mengobrol mengenai pengalaman mereka selama masa bencana sebagai bagian dari upaya trauma healing.

Momentum kebersamaan juga tampak saat jam istirahat. Guru memastikan kebutuhan pangan siswa terpenuhi dengan tradisi berbagi bekal bagi anak-anak yang tidak membawa makanan dari rumah.

Data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat skala dampak bencana yang cukup masif, yakni mencapai 2.756 satuan pendidikan di seluruh Aceh. Hingga saat ini, sebanyak 2.226 sekolah dilaporkan sudah mulai beroperasi kembali, meski mayoritas masih dalam tahap pemulihan fisik.

Pemerintah pusat dan daerah kini tengah bekerja ekstra melakukan percepatan rehabilitasi, mulai dari pembersihan material longsor hingga perbaikan infrastruktur vital.

Untuk mendukung proses transisi ini, pemerintah telah menyalurkan bantuan besar-besaran, di antaranya: 15.500 paket perlengkapan sekolah (school kit), 178 unit ruang kelas darurat dan tenda, Dana operasional darurat senilai Rp11,3 miliar dan 90.000 buku pelajaran.

Tak hanya fisik, aspek kesejahteraan pendidik juga diperhatikan melalui tunjangan khusus bagi guru terdampak yang mencapai belasan miliar rupiah, mencakup jenjang PAUD hingga pendidikan menengah.

Secara teknis, proses pembelajaran kini menggunakan kurikulum khusus penanggulangan bencana yang dibagi dalam tiga fase. Pada fase awal (0–3 bulan), fokus utama adalah literasi, numerasi, dan mitigasi dasar. Selanjutnya, pada fase 3–12 bulan, akan diterapkan kurikulum adaptif berbasis krisis. Target jangka panjangnya, dalam 1–3 tahun ke depan, pendidikan kebencanaan akan diintegrasikan secara permanen ke dalam sistem pendidikan di Aceh guna membangun ketahanan siswa terhadap bencana di masa depan.(JP02)

Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here